Kesehatan Reproduksi adalah Hak Asasi Perempuan


Oleh Ria Permana Sari

INSTITUT PEREMPUAN-Bdg: Persoalan kesehatan reproduksi adalah persoalan yang sangat dekat dengan perempuan, hal ini yang kemudian mendorong perempuan-perempuan di desa Kalimekar, Gebang, Cirebon yang tergabung dalam kelompok Aktivis Jama’ah Perempuan Sholihah (AJPS) untuk mendiskusikannya. Diskusi yang dilakukan pada tanggal 9 Januari 2008 tersebut difasilitasi oleh Ria, INSTITUT PEREMPUAN.

 

Diskusi diawali dengan menggali pengalaman peserta berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kebanyakan peserta belum mengetahui secara lengkap mengenai masalah kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan masih tabunya membicarakan masalah tersebut. “Ngomong kayak ginian sih tabu, jadi ya pas jaman saya dulu tidak ada dikasih tahu tentang masalah seperti itu. Padahal, ternyata penting ya..” kata Warsih. Persoalan kesehatan reproduksi, sudah seharusnya diberikan sehingga masing-masing orang memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksinya, demikian kata Ria. Apalagi berkaitan dengan kesehatan reproduksi ini, perempuan lebih rentan mengingat letak alat reproduksi berada di dalam sehingga penyakit yang berkaitan dengan alat reproduksi tidak bisa cepat diketahui dan ditanggulangi, lanjut ria.

Persoalan yang muncul dalam dikusi tersebut adalah tentang masalah KB. Beberapa peserta mengeluhkan kurang lengkapnya informasi yang mereka dapat berkaitan dengan alat kontrasepsi yang digunakan. “Kalo mau KB memang ditanya, punya darah tinggi enggak, dan sebagainya. Tapi pas pake alat KBnya, ternyata nggak cocok juga,” ujar Roamah. “Iya, kayak saya sejak saya KB, anak saya (masih menyusui-red) jadi suka sakit-sakitan. Padahal sayanya cocok-cocok saja,” tambah Marni. “Terus kalau tidak cocok bagaimana bu?” Tanya Ria. “Kalau tidak cocok ya ganti dengan alat KB yang lain sampai nanti ada yang cocok,” kata Ida.

Melalui diskusi tersebut, peserta saling bertukar pengalamannya berkaitan dengan kesehatan reproduksi sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi peserta yang lainnya. “Wah susah ya jadi perempuan,” celetuk salah seorang peserta. “Jadi kita harus tahu dengan benar tentang persoalan kesehatan reproduksi. Seperti kalau mau KB harus mendapat informasi yang lengkap tentang alat KB tersebut. Susah kalo enggak nantinya,” simpul Komariah. Diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan masalah HIV/ AIDS dan penyakit menular seksual.

Kesehatan reproduksi adalah bagian dari hak asasi perempuan. Masih adanya ketimpangan gender di masyarakat, menyebabkan makin rumitnya persolan kesehatan reproduksi perempuan. Oleh karenanya, persoalan kesehatan reproduksi perempuan tidak hanya menjadi persoalan perempuan semata, namun juga tanggung jawab negara, masyarakat dan keluarga. Berkaitan dengan hal tersebut, sudah seharusnya perempuan mendapatkan informasi yang lengkap, benar dan akurat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya.(*)

 

 

 

 

 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!