Pertemuan Kelompok Perempuan di Kp. Lempegan, Desa Simpar, Subang


Pertemuan Kelompok Perempuan di Kp. Lempegan, Desa Simpar, Subang
Tidak Percaya Diri, Salah Satu Penghalang Keinginan Perempuan Untuk Berorganisasi
Oleh Donna Siahaan

INSTITUT PEREMPUAN-Bandung, Senin, 18 Juni 2007, pukul 14.00 WIB, diadakan pertemuan dengan kelompok perempuan di Kp. Lempegan, Desa Simpar, Subang. Pertemuan yang difasilitasi oleh INSTITUT PEREMPUAN ini diadakan di rumah Ida (ibu lurah setempat).

Donna, Staf INSTITUT PEREMPUAN, mengawali pertemuan dengan menanyakan “Apa yang biasanya dilakukan ibu-ibu setelah selesai melakukan pekerjaan?”. Peserta yang hadir, menjawab dengan bersamaan: “Ngobrol dan bergosip”. Donna mengatakan pentingnya mengikuti kegiatan perkumpulan antar perempuan, karena dengan mengikuti suatu perkumpulan, perempuan dapat berbagi informasi kepada perempuan lainnya. Misal tentang informasi tentang kegiatan perempuan sebagai ibu, maupun informasi dunia luar ibu-ibu. Selain itu, juga dapat mempengaruhi pemikiran kaum perempuan untuk lebih kritis akan kondisi disekitarnya. Hal ini akan lebih bermanfaat jika kelompok perempuan hanya ngobrol dan bergosip semata.

Ida, salah seorang peserta yang hadir, menyebutkan dirinya sering merasa tidak percaya diri untuk mengeluarkan uneg-unegnya pada saat mengikuti perkumpulan, padahal Ida sudah mempersiapkan uneg-uneg dari rumah untuk ditanyakan dalam perkumpulan. Namun setibanya di perkumpulan, ia tidak dapat mengutarakan maksudnya tersebut. Tidak percaya diri ini menjadi penghalang semangat Ida untuk menghadiri pertemuan suatu perkumpulan. Peserta yang lainpun membenarkan hal yang dikeluhkan oleh Ida.

Siti Rohmah, salah satu anggota Serikat Perempuan Subang (SPS) di Kp. Kunir, Desa Simpar, Subang, menceritakan pengalamannya. Sebelum bergabung dalam suatu perkumpulan, Siti Rohmah mengatakan, bahwa dia selalu merasa malu/tidak percaya diri untuk berbicara di depan banyak orang. “Karena sudah sering mengikuti pertemuan di berbagai perkumpulan, sekarang saya sudah berani berbicara di depan banyak orang, mengutarakan hal-hal yang belum saya ketahui dan membagikan informasi yang telah saya ketahui”, tutur Siti. “Percaya diri berbicara di hadapan banyak orang timbul seiring dengan seringnya berbicara di depan orang lain. Jadi untuk melatih kepercayaan diri, paling tidak harus membiasakan diri mengikuti suatu perkumpulan dan berlatih mengeluarkan pendapat,” ujar Donna, Staf INSTITUT PEREMPUAN.

Untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri yang menghinggapi kelompok perempuan di Kp. Lempegan, kelompok perempuan ini bertekat untuk mulai berlatih berbicara/berdiskusi dalam suatu perkumpulan, meskipun anggotanya adalah tetangga mereka sendiri. (*)


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Selamat sore,
Perkenalkan saya Yayou. Saat ini menjadi staff media di FPPD (Forum Pengembangan Pembaharuan Desa). Kami menerbitkan Buletin MUDIK (yang terbit tiap empat bulan).
Saya salut dengan kegiatan-kegiatan yang kontinyu dilakukan oleh teman-teman perempuan di institut perempuan. “Aktivis perempuan banyak, tetapi hanya sedikit yang concern ke desa”, itu yang selama ini saya ketahui, sehingga saya pikir agak susah menemukan orang-orang (aktivis perempuan) yang melakukan banyak hal untuk perempuan di desa. Ternyata pikiran saya keliru setelah membuka situs ini.
Kalau boleh, saya minta selalu diinformasikan kegiatan-kegiatan teman-teman. Kalau saya ingin kirim e-mail, dialamatkan ke mana ya..? Saya berencana mewawancarai salah seorang teman di IP untuk penerbitan buletin MUDIK edisi Desember yang mengambil tema Kiprah Perempuan Desa.
Terima kasih..

selamat malam,
perkenalkan nama saya, Abul Hayat, saat ini saya aktif disalah satu NGO (ICDHRE)yang salah satu fokus issunya tentang otonomi desa di Jombang - Jatim.
nah, saya sendiri aktif di Majalah “Media Partisipasi” terbit setiap bulan (dibawah naungan ICDHRE Jombang).
maksud saya, mungkin bagi teman-teman di Institut Perempuan, bisa menulis artikel tentang pentingnya peran Perempuan dalam proses pembangunan desa.
karena dilapangan masih sering kita jumpai, bahwa masih sangat minimnya peran perempuan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa (seakan urusan desa itu, hanya milik kaum laki2).
untuk menghilangkan itu, mungkin bisa dipengaruhi melalui sebuah tulisan dari teman-teman Institut perempuan.

Trism,

Abul Hayat

‘met siang…
perkenalkan nama saya chitra, kebetulan saya Calon Legislatif 2009 dari PAN Pontianak Timur, saya berani maju karena saya kecewa akan perempuan yang semakin keterbelakangan, miskin dan jg rendah tingkat pendidikannya.
saya sering ikut kegiatan yang berbau perempuan begitu jg para “single parent” dmn mereka butuh penyemangat dari kami.
maka dari itu, saya mohon informasi tentang perempuan, yang harus saya lakukan di daerah saya. terima kasih…