PEMBERIAN ASI EKSLUSIF ADALAH HAK ASASI ANAK


Diskusi ASI
PEMBERIAN ASI EKSLUSIF ADALAH HAK ASASI ANAK

INSTITUT PEREMPUAN-Bandung: Sabtu 5 Mei 2007, diadakan Diskusi tentang ASI di hotel Yehezkiel Lembang yang dihadiri JAGAT JABAR (Format Subang, PWPBM Cirebon, Gepekan-Yu Indramayu, FWBMI Kuningan, dan PAKUBUMI Cirebon). Diskusi ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan LSM dari Jakarta dan Bandung. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut T.A.J. Nugroho (Konselor ASI), Emy LS (Indonesia Act) dan R. Valentina Sagala (INSTITUT PEREMPUAN).

Air Susu Ibu (ASI) merupakan hak asasi seorang anak (bayi), yaitu berkaitan dengan hak tumbuh kembang anak. Pemberian ASI ekslusif merupakan pemberian ASI kepada bayi tanpa memberikan susu formula atau makanan tambahan lainnya. Pun demikian, kenyataannya, masih banyak ibu yang belum mengetahui arti pentingnya pemberian ASI secara ekslusif untuk perkembangan anak. Akibatnya banyak Ibu yang menggantinya dengan susu formula. Keberadaan susu formula ini sendiri sangat mendominasi di masyarakat dengan janji-janji mengandung DHA, AA ataupun Omega 3 dan Omega 6 yang diperlukan untuk perkembangan bayi dan mempunyai kandungan gizi yang hampir sama dengan ASI. Padahal kandungan gizi yang dimiliki oleh ASI tidak dapat ditandingi atau digantikan dengan apapun bahkan oleh susu formula sekalipun.

Setelah bayi lahir, 30-60 menit pertama adalah masa yang menentukan dalam kegiatan menyusui karena bayi mempunyai refleks yang sangat kuat untuk mencari puting dan menyusu.

Diskusi ASI ini difasilitasi oleh T. A. J. Noegroho, konselor ASI dan Emmy L.S (Indonesia Act). Fasilitator mengatakan bahwa bayi yang baru lahir harus segera diberi ASI (disusui) oleh Ibu. Sebenarnya kebutuhan bayi yang baru berumur 1-7 hari akan ASI adalah 2,5 CC perharinya. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua tidak perlu memberikan susu formula kepada bayi tersebut karena dikhawatirkan bayi akan bingung puting.

Rohenti, salah seorang peserta menanyakan kebenaran mitos yang beredar di masyarakat bahwa ASI yang keluar pertama (berwarna kuning) mengandung racun. Emmy L.S menyatakan bahwa mitos tersebut tidak benar. Sebenarnya ASI yang keluar pertama kali banyak mengandung colustrum yang berguna membentuk antibody anak. Oleh karena itu ASI yang mengandung colostrum tersebut harus diberikan pada bayi.

Untuk Ibu menyusui yang ingin bepergian juga tidak perlu khawatir apabila ibu tidak dapat membawa bayinya turut serta, karena pada dasarnya ASI dapat disimpan di kulkas atau freezer yang dapat bertahan sampai 3 (tiga) bulan lamanya (jika disimpan di freezer)

R. Valentina Sagala, INSTITUT PEREMPUAN, menyatakan secara hukum, isu ini sangat internasional dan kita terikat secara moral. Tidak ada konvensi yang diratifikasi oleh Indonesia. Jika banyak orang yang tidak tau hal ini, maka siapa yg nanti menjamin perusahaan susu tidak masuk ke bayi (pemberian ASI ekslusif). Susu formula bahkan masuk melalui petugas Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Jadi mekanisme bukan bagaimana menyiapakan situasi yang nyaman agar ibu-ibu bisa menyusui anaknya, tetapi bagaimana memberikan susu formula itu ke ibu-ibu. R. Valentina juga mengatakan, akan lebih baik jika ada Peraturan Desa yang mengatur tentang pemberian ASI eksklusif ini.


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Saya sangat setuju dengan pemberian ASI eksklusif dipandang sbg hak azazi anak. Apabila anak yg segera setelah lahir diletakkan berjauhan dari ibunya, juga merupakan pelanggaran, krn seyogyanya tempat yg paling baik bagi bayi yg baru lahir adalah dekat dengan ibunya.

Saya merupakan anggota AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yg berawal dari mailing list asiforbaby@yahoogroups.com berisi para ibu yang membagi saran atau yg bertanya ttg pemberian ASI pd bayinya.