Diskriminasi Perempuan Masih Tetap Ada


Sekolah Aktivis Perempuan Pedesaan
Diskriminasi Perempuan Masih Tetap Ada
Oleh : Ria Permana Sari

INSTITUT PEREMPUAN-Bandung: Minggu, 22 April 2007 bertempat di rumah Ibu Maryati, Desa Babakan Mulya, Jalaksana, Kuningan, diadakan Sekolah Aktivis Perempuan Pedesaan. Meskipun cuaca mendung setelah hujan deras, tidak menghalangi langkah 4 orang perempuan untuk belajar bersama di Sekolah Aktivis Perempuan Pedesaan.

Sekolah Aktivis Perempuan Pedesaan, yang difasilitasi oleh INSTITUT PEREMPUAN pada hari itu membahas mengenai diskriminasi gender. Sebelumnya, Ria, INSTITUT PEREMPUAN mengawali diskusi dengan mereview materi tentang gender dan seks.

Proses sekolah yang lebih menekankan kepada pengalaman peserta sebagai perempuan mengajak peserta untuk membagi pengalamannya dan mendiskusikan bersama. Diskriminasi gender ini sendiri dapat dibedakan menjadi diskriminasi langsung, tidak langsung dan sistemik. “Saya dulu dipilih jadi ketua kelas, tetapi karena saya perempuan jadinya tidak jadi,” kata Bu Maryati menceritakan pengalamannya. “Kalau menyapu, pasti perempuan yang disuruh. Anak laki-laki biasanya mengotori saja,” tambah Bu Uki.

“Waktu itu di pabrik buka lowongan, tetapi yang dibutuhkan laki-laki. Kalau perempuan harus yang belum menikah, tetapi kalau laki-laki yang sudah menikah tidak apa-apa” kata Bu Titin K. “Wah, padahal kalau perempuan yang sudah menikah kan butuh pekerjaan juga, tidak adil itu,” sambung Bu Asih. “Berkaitan dengan upah, upah pekerja perempuan sama tidak dengan pekerja laki-laki?” tanya Ria. “Berbeda, padahal pekerjaannya sama. Perempuan upahnya lebih rendah dari laki-laki,” kata bu Asih.

Dalam diskusi yang terjadi, juga ditemukan bahwa berkaitan dengan masalah buruh migran, kebanyakan yang menjadi buruh migran adalah perempuan. Bahkan untuk biaya pemberangkatan, untuk buruh migran laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Jika perempuan hanya Rp 500.000,00, laki-laki bisa mencapai Rp 10.000.000,00. Akibat ketidakadilan gender, perempuan dilemahkan dan akibatnya banyak perempuan menjadi korban kekerasan.

Keadilan dan kesetaraan dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari keadilan terhadap perempuan. Oleh karenanya, perjuangan untuk menghilangkan ketidakadilan gender adalah sesuatu yang harus dilakukan bersama.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
“Pentingnya Pendidikan Komunitas dalam Pencegahan dan Penanganan Trafiking”
Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak Masih Sering Terjadi

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!