Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak Masih Sering Terjadi


Diskusi Perempuan Dusun Kunir, Desa Simpar, Kec. Cipunagara, Subang
Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak Masih Sering Terjadi
Oleh Donna Siahaan

INSTITUT PEREMPUAN-Bandung: Sabtu, 21 April 2007 diadakan pertemuan Serikat Perempuan Subang (SPS) di Dusun Kunir, Desa Simpar, Kec. Cipunagara, Subang. Pertemuan yang difasilitasi oleh INSTITUT PEREMPUAN membahas tentang Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak khususnya Kekerasan Dalam Rumah-Tangga (KDRT). Pertemuan tersebut diikuti oleh sembilan orang perempuan dan diadakan di rumah Teh Omah (anggota SPS).

Tema diskusi yang dibahas berdasarkan keinginan anggota SPS. Peserta mengatakan belum mengetahui Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak khususnya KDRT. Meskipun Undang-Undang PKDRT sudah diundangkan sejak Tahun 2004, ternyata kebanyakan peserta yang hadir belum mengetahui bahwa sudah ada Undang-Undang PKDRT. Ria, INSTITUT PEREMPUAN, menanyakan ke peserta yang hadir, “Adakah yang mengetahui apa itu kekerasan terhadap perempuan dan anak?” Para peserta secara bergantian menjawab, “kekerasan terhadap perempuan seperti dipukul, diselingkuhi oleh pacar atau suami, dimarahi, tidak diberi uang belanja oleh suami, suami menikah lagi, sementara untuk kekerasan terhadap anak seperti memaksa anak, dipukul, dimarahi.”

Peserta diskusi menyatakan bahwa kekerasan terhadap anak masih terjadi di desa mereka. Salah seorang peserta menyatakan bahwa di desa mereka ada satu keluarga masih sering melakukan kekerasan terhadap anaknya, seperti kepala si anak di masukkan ke ember yang berisi air, dan sering dipukuli. Peserta menyatakan bahwa keluarga tersebut adalah keluarga yang jarang berosialisasi dan tertutup. Masyarakat sekitar juga enggan untuk menegur karena ada perasaan takut/tidak enak, keluarga yang melakukan kekerasan tersebut akan tersinggung atau dianggap mencampuri urusan keluarga orang lain. Untuk kekerasan terhadap perempuan, peserta menyatakan ada perempuan yang merasa sakit hati kepada suami karena suami tidak bekerja dan hanya bisa nongkrong-nongkrong. Sehingga ada anggapan, sang suami menelantarkan keluarga.

Dari diskusi ini, diketahui bahwa meskipun telah ada Undang-Undang PKDRT, pada kenyataannya masih sering terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama KDRT. Penyebab dari kejadian ini tidak lain karena masyarakat belum mengetahui bahwa telah ada perlindungan untuk perempuan dan anak dalam rumah tangga yaitu dalam UU PKDRT. Peserta yang hadir menyatakan bahwa lewat diskusi ini, kini mereka telah mengetahui perlindungan yang seharusnya mereka terima dalam rumah tangga dan peserta yang hadir bertekat untuk mensosialisasikannya kepada perempuan-perempuan lainnya yang ada di desa mereka sehingga kekerasan terhadap perempuan dan anak khususnya KDRT tidak terjadi lagi.

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Diskriminasi Perempuan Masih Tetap Ada
Pergantian Kepengurusan Jagat Jabar

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!