Pernyataan Sikap Perempuan Indonesia Anti Kekerasan


Pengalaman sejarah kekerasan perempuan dalam perubahan politik di Indonesia, dimulai sejak tahun 1965 dan mengalami puncaknya pada Mei 1998,  dimana sejumlah perempuan etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan seksual, termasuk perkosaan. Kekerasan terhadap perempuan, terjadi di setiap perubahan dan konflik politik yang terjadi di Indonesia. Diawali dengan ujaran-ujaran kebencian yang mendiskriminasi dan seksis terhadap perempuan serta ancaman kekerasan yang menyasar tubuh dan seksualitas perempuan.

 

Kami, Perempuan Indonesia Anti Kekerasan, akhir-akhir menyaksikan dan mengamati munculnya ujaran-ujaran kebencian, utamanya di media sosial, yang bisa berdampak pada kekerasan terhadap perempuan, yang terjadi pada proses kampanye Pemilihan Kepala Daerah-Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

 

Pada tanggal 14 Maret 2017 kami mendapati unggahan Sdr. Dwi Ardika (yang diduga diunggah pada tanggal 12 Maret 2017) yang diantaranya berbunyi:

“Intinya yg dukung ahok tu goblok dan gk bermoral halal darahnya dibunuh dan halal jga kalau wanita diperkosa rame-rame…” (diunduh dari laman FB)

 

Ujaran di atas secara jelas menyatakan, wanita halal diperkosa beramai-ramai, telah merendahkan martabat perempuan sebagai ciptaan Tuhan, bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta dapat berdampak pada stereotyping/pelabelan, stigma, diskriminasi, kekerasan, dan kebencian terhadap perempuan. Lebih jauh, ujaran ini dan sejenisnya, dapat berdampak pada terjadinya konflik.

 

Perkosaan adalah serangan seksual  yang ditujukan pada bagian tubuh dan seksualitas perempuan, yang mengakibatkan kehancuran dan integritas  tubuh perempuan. Perkosaan bertujuan untuk menimbulkan rasa takut, mempermalukan, merendahkan dan melukai masyarakat. Dalam konteks konflik, perkosaan digunakan sebagai alat untuk menaklukan, menghukum dan alat teror untuk melemahkan pihak lawan. Hal ini terjadi karena perempuan kerap diposisikan sebagai objek seksual, objek pengaturan, dan objek ekspresi kuasa oleh kekuasaan maskulin- patriarkhi.

 

Oleh sebab itu, kami, Perempuan Indonesia Anti Kekerasan, menyatakan:

 

  1. Diskriminasi terhadap perempuan dan kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang bertentangan dengan hukum Indonesia, di antaranya UUD 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, UU No. 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik; dan UU No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk-Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW).

 

  1. Ujaran-ujaran kebencian (hate-speech) terhadap perempuan merupakan tindakan yang sangat berbahaya yang bertentangan dengan hukum Indonesia; yang merendahkan martabat perempuan sebagai ciptaan Tuhan, bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika; serta dapat berdampak pada stereotyping/pelabelan, stigma, diskriminasi, kekerasan, dan kebencian terhadap perempuan. Lebih jauh, ujaran ini dan sejenisnya, dapat berdampak pada terjadinya konflik.

 

 

  1. Menuntut Negara, khususnya Bapak Presiden RI, Ir. Joko Widodo beserta seluruh jajarannya, untuk secara proaktif merespon serius adanya dan/atau ditemukannya ujaran-ujaran kebencian (hate-speech) terhadap perempuan; menindak tegas pelaku; dan mengantisipasi serius kemungkinan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam konstelasi politik yang berlangsung.

 

  1. Mendukung dan menuntut Kepolisian RI, untuk menindaklanjuti laporan kami dan melaksanakan Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate-Speech), tanggal 8 Oktober 2015, dalam hal ini terkait dengan aspek gender dan jenis kelamin perempuan, yang dapat berakibat pada tindak diskriminasi, kekerasan, dan/atau penghilangan nyawa.

 

  1. Menyerukan kepada seluruh elemen Bangsa Indonesia, laki-laki dan perempuan, untuk bersatu padu menyelamatkan proses demokrasi dari segala bentuk teror dan kekerasan yang menggunakan tubuh dan seksualitas perempuan.

 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:

Ita Fadia Nadya 0818 0420 5830

Valentina Sagala 0878 8755 6055

Helga Worotitjan 085248961449

Pratiwi Febry 0813 8740 0670

 

Demikian Pernyataan Sikap Perempuan Indonesia Anti Kekerasan.

 

Jakarta, 17  April 2017

 

 

 

Perempuan Indonesia Anti Kekerasan:

 

  1. Institut Perempuan
  2. Peace Women Across the Globe Indonesia
  3. LBH APIK Jakarta
  4. Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA)
  5. KAPAL PEREMPUAN
  6. KePPaK Perempuan
  7. Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia
  8. Yayasan Kalyanamitra
  9. Gerakan Pemuda Dayak (GERDAYAK)
  10. Lentera Sintas
  11. Single Moms Indonesia
  12. Seperti Pagi Foundation
  13. PBHI-Jawa Tengah, Semarang.
  14. Perkumpulan Praxis ( LSM Kebudayaan, Jakarta)
  15. ANBTI ( Nia Syarifudin dan Ellen Pitoi)
  16. Komunitas Tanah Baru - DEPOK.
  17. Ardhanary Institute ( Jakarta)
  18. Amnesti International (Indonesia)
  19. Change.Org (Indonesia).
  20. Kiprah Perempuan ( Yogyakarta)
  21. JKLPK Indonesia
  22. Suara Perempuan Peduli
  23. Yayasan PULIH
  24. Personal Growth
  25. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
  26. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta)
  27. Perkumpulan Pendidikan Pendampingan untuk Perempuan dan Masyarakat (PP3M) – DKI Jakarta
  28. Habibie Centre
  29. InspirasiID

 

INDIVIDU PENDUKUNG :

 

  1. Alissa Wahid (Psikolog & Aktivis)
  2. Andy Yentriyani
  3. Adriana Wityassuki Surono ( Pekerja Seni)
  4. Anik Wusari (Indonesia untuk Kemanusiaan)
  5. Agung Ayu Ratih
  6. Ahmad Badawi ( Aktivis NU, Salatiga)
  7. Ahmad Nurcholish (Pegiat kebhinekaan dan perdamaian, Jakarta)
  8. Alit Ambara ( Perupa, Yogyakarta)
  9. Amalia Ahmad
  10. Andry Kurniawan (YCC-Jakarta)
  11. Anindya Restuviani (Aktivis)
  12. Anita Dhewy (Pimpinan Redaksi Jurnal Perempuan)
  13. Anung Nurachmi ( Aktivis, Jakarta)
  14. Agustine ( Aktivis Perempuan, Jakarta)
  15. Arie Hastuari (Pegiat Seni, Sosial & Pendidikan)
  16. Arum Rumiyati (Aktivis Perempuan & Buruh)
  17. Ayu Diasti Rahmawati (Dosen UGM, Yogyakarta)
  18. Aquino W. Hayunta (Koalisi Seni Indonesia)
  19. Baby Jim Aditya (Psikolog & Aktivis HIV-AIDS)
  20. Bernada Rurit (Pengusaha Kuliner)
  21. Brigitta Isabella ( Pekerja Kebudayaan, Yogyakarta)
  22. Butet Manurung (Aktivis Pendidikan)
  23. Brigitte MC.Montolalu (Konsultan, Jakarta)
  24. Camelia Tri Lestari ( Penterjemah, Jakarta
  25. Caroline J. Monteiro (Aktivis Perempuan)
  26. Christina Siahaan (Aktivis)
  27. Christina Yulita (Aktivis )
  28. Ciput Purwati ( Pegawai Negeri, Jakarta)
  29. Damairia Pakpahan (Aktivis perempuan, Sleman-Yogyakarta)
  30. Desti Murdiyana (Aktivis Perempuan,Jakarta)
  31. Dian Kartikasari (Koalisi Perempuan Indonesia)
  32. Delima Kiswanti ( Accountant, Jakarta)
  33. Devi Asmarani (Jurnalis Magdalene.co)
  34. Dewi Candraningrum ( Penulis dan Pelukis, Solo)
  35. Dhyta Caturani ( Aktivis Perempuan, Jakarta)
  36. Dr.Phil.Arie Setyaningrum, MA ( Dosen Sosiologi UGM, Yogjakarta)
  37. Difa Kusumadewi (Akademisi)
  38. Dinah Katjasungkana ( LBH APIK-Jawa Tengah)
  39. Dolorosa Sinaga ( Pematung, Jakarta)
  40. Dwi Ruby Khalifah
  41. Dorita Setiawan (Columbia University)
  42. Endah Sulwesi (Penulis & Editor)
  43. Erika Siluq (Notaris & Aktivis)
  44. Ery Sandra Amelia
  45. Etik
  46. Esthu Fanani (Aktivis Perempuan)
  47. Eva Simanjuntak (Edukator  & Motivator)
  48. Evi Douren (Dokter)
  49. Evie Permata Sari (Konselor)
  50. Faiza Mardzoeki (Penulis Drama, sutradara, produser Teater, Yogyakarta)
  51. Firziana Roosnaleli ( Aktivis Perempuan)
  52. Fransiska Ria Susanti
  53. FX Harsono (Perupa)
  54. Henny Supolo Sitepu ( Yayasan Cahaya Guru, Jakarta)
  55. Henny Girarda (YCC-Jakarta)
  56. Helga Worotitjan (Aktivis Perempuan)
  57. Heri Siswanti ( Gitalaras, Jakarta)
  58. Herry Anggoro Djatmiko (Guru, Batang, Jawa Tengah)
  59. Ilma Sorry Yanti Ilyas ( Aktivis Hak-Hak Anak)
  60. Isnani Azizah Salim ( Dosen, Jakarta)
  61. Ingrid Irawati ( Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  62. Ita F. Nadia (Aktivis Perempuan)
  63. Ira Paseban (Seniman, Jakarta)
  64. Irawan Karseno ( Dewan Kesenian Jakarta)
  65. Irina Dayasih ( Pekerja Kemanusiaan, Jakarta)
  66. Jane Ardaneswari ( Penulis, Jakarta)
  67. Jane Maryam (Aktivis)
  68. Dr. Kartini Syahrir (Antropolog)
  69. Kasandra Putranti (Psikolog Klinis Forensik)
  70. Kencana Indrishwari (Aktivis Perempuan dan Anak)
  71. Khalisah Kalid (WALHI)
  72. Komar Kasman (YCC-Jakarta)
  73. Lala Sofianty (Karyawan)
  74. Lelyana Santoso ( Pengacara, Jakarta).
  75. Linda Theresia (Advokat)
  76. Lilik HS ( KKPK, Jakarta)
  77. Luviana
  78. Listyowati (Aktivis Perempuan)
  79. Muhammad Muchlisin (YCC-Jakarta)
  80. Mamik Sri Supatmi (Dosen Kriminolog Universitas Indonesia & Aktivis)
  81. Mandy Marahimin ( Pekerja Kebudayaan, Jakarta)
  82. Marcia Soumokil
  83. Mauren Hipiteuw (Founder Single Moms Indonesia)
  84. Margaretha Hanita ( Direktur P2TP2A-Jakarta)
  85. Maulida Raviola
  86. Mayling Oey (Aktivis HAM perempuan)
  87. Meiwati (REMDEC)
  88. Mia Olivia (Komnas Perempuan)
  89. Melly Setiawati ( Aktivis perempuan)
  90. Mimi Korwel ( Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  91. Monica Ginting Sudibyo (YCC-Jakarta)
  92. Namira
  93. Natasha Gabriella Tontey ( Seniman, Jakarta)
  94. Nia Damayanti ( Pegawai, Jakarta)
  95. Niken Puruhita ( Aktivis Perempuan, Jakarta)
  96. N.K. Endah Triwijati (Sosiolog & Dosen di Surabaya)
  97. Ninin Damayanti (Jurnalis)
  98. Nur Iman Subono (Dosen, Universitas Indonesia)
  99. Nurul Eja Hidayati (Aktivis HAM)
  100. Nong Darol ( Aktivis Perempuan, Jakarta)
  101. Novita Bunjamin (Survivor’s Forum)
  102. Okty Budiati (Penulis)
  103. Pipit Ambarmirah ( Aktivis Kemanusiaan, Yogyakarta)
  104. Pratiwi Febry (Pengacara)
  105. Pitra (Pekerja seni, Yogyakarta)
  106. Popon Anarita ( Peneliti, Jakarta)
  107. Qorihani (Aktivis Perempuan)
  108. Ratna Batara Munti (Asosiasi LBH APIK Indonesia)
  109. Rahmayani
  110. Ria Gembel (Ibu Rumah Tangga, Jakarta)   
  111. Ratih Ibrahim (Psikolog Klinis & Ibu)
  112. Ratu Febriana Erawati (Alumni FIB UI)
  113. Reinhart Sirait
  114. Rena Herdiyani (Bekasi)
  115. Restu Pratiwi (Pekerja Sosial)
  116. Rinto (Pengacara, Jakarta)
  117. Dr. Rinno Arna ( Aktivis perempuan, Jakarta)
  118. Roy Tjiong ( Dokter, Jakarta)
  119. Rudi Haryo
  120. Rita Serena Kolibonso (Lawyer, Jakarta)
  121. Rini Catharina
  122. Roma Sinaga (Aktivis perempuan, Jakarta)
  123. Rosalinda Tumbelaka (Aktivis)
  124. Sabrina T. Fitranty (Aktivis)
  125. Saras Dewi (Dosen Filsafat, Universitas Indonesia)
  126. Sekar Pireno ( Aktivis Perempuan, Jakarta)
  127. Selviana Yolanda ( Aktivis perempuan, Jakarta)
  128. Sereida Tambunan (Anggota DPRD Prov. DKI Jakarta)
  129. Shanti Parhusip ( Aktivis, Jakarta)
  130. Shinta Miranda (Penulis)
  131. Shelly Adelina (Program Studi Kajian Gender UI)
  132. Shera Rindra ( Aktivis Perempuan)
  133. Siauw Tiong Djin ( Peneliti Universitas Monash, Melbourne)
  134. Sicilia Leiwakabessy ( YCC-Jakarta)
  135. Sylvia Tiwon
  136. Sinnal Blegur ( Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  137. Sri Gustini (Pengacara)
  138. Sri Kusmiati (Wartawan, Orangtua tunggal & SingleMomsInd)
  139. Sri Nastiti
  140. Sulistyowati Ohnio (Ahli Penyakit Dalam RS Omni, Alam Sutra)
  141. Syafira Hardani (Aktivis perempuan)
  142. Sylvana Apitualey (Pekerja kemanusiaan, Jakarta)
  143. Syenny Hartono (Guru, Jakarta)
  144. Svetlana
  145. Prof. Saparinah Sadli (Akademisi,Jakarta)
  146. Prof. Sulistyowati Irianto (Dosen Universitas Indonesia)
  147. Tasnim Yusuf
  148. Tazia Teresa Darryanto (Warga Negara Republik ndonesia)
  149. Theresia Iswarini (Aktivis Perempuan, Jakarta)
  150. Thita Moralita Mazya (Dosen)
  151. Tini Hadad
  152. Tintin Wulia (Seniman, Denpasar)
  153. Tira Muhardi (YCC-Jakarta)
  154. Tita Rakhmita (Profesional)
  155. Titi Irawati (Peneliti, Yogyakarta)
  156. Tiurma Eliana ( Aktivis, Jakarta)
  157. Uchicowati ( Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  158. Ulfa Kasim ( Institute Kapal Perempuan, Jakarta)
  159. Usman Hamid ( Direktur Amnesti International & Change. Org)
  160. Valentina Sagala (Aktivis Perempuan, Hukum, dan HAM)
  161. Virlian Nurkristi ( Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  162. Vitae (Srikendes & Teen Feminist)
  163. Willy Budiharga (Peneliti,Jakarta)
  164. Wishnu Yonar (Pekerja Kebudayaan, Jakarta)
  165. Wrenges Widyastuti (YCC-Jakarta)
  166. Woro Wahyuningtyas (Aktivis Keberagaman)
  167. Yuda Irlang (ANSIPOL, Jakarta)
  168. Yuni Sri Rejeki (Paralegal)
  169. Dr.Yeri Wiryawan ( Dosen, Yogyakarta)
  170. Fr. Yohanna Tantria ( Aktivis perempuan)
  171. Zico Mulia (Aktivis Kemanusiaan, Jakarta)
  172. Zubaidah Djohar (Penyair & Aktivis)
  173. Zumrotin (Yayasan Kesehatan Perempuan)

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan (JKP3) RKHUP bab XVI tentang Bab Kesusilaan Over Kriminalisasi dan Belum Pro Perempuan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!