Training United Nation Traty Body Mechanism


Pada Rabu, 2 Maret 2016 bertempat di Gedung PBB Jakarta Menara Tamrin Lt. 3, dilaksanakan kegiatan  “Training United Nation Traty Body Mechanism” yang diinisiasi oleh PBB dan bekerjasama dengan  HRWG. Pemateri dalam kegiatan ini adalah Laurance Andre, yang merupakan perwakilan dari PBB demean Fasilitator dari Rafendi Djamin dari HRWG. Peserta kegiatan ini sekitar 15 orang dimana masing-masing merupakan perwakilan dari beberapa LSM undangan.

 

Training ini dibagi menjadi 4 (empat) sesi yaitu : Perkenalan; Gambaran umum mengenai lembaga traktat pokok dan lembaga pematau PBB; pembahasan isu pekerja migrant, diskriminasi, dan disabilitas; dan follow up training. Masuk pada sesi kedua, diterangkan mengenai gambaran umum Lembaga Traktat dan Pematau PBB seperti ICCPR (Internasional Convenant on Civil and Political Right), ICESCR (Internasional Convenant on Economic Social Culture Right), CERD (Convention Elimination of all forms of Rasial Discrimination), CEDAW (Convention on the Elimation all of Forums of Discimination Against Women), CAT (Convention Against Torture on The Other Cruel Inhuman on Degrading Treatment or Punishment), CRC (Convention on the Right of the Cild), MWC (Convention on the Protection of the Right of all Migrant Worker and Member of Their Family) dan CRPD (Convention on the Rights of Personal Disabilities).

 

Selanjutnya pada sesi ketiga, ada tiga isu yang diangkat yaitu mengenai pekerja migran, diskriminasi dan peran pemerintah terhadap kaum disabilitas. Pekerja migran adalah salah satu kelompok yang sangat rentan terhadap segala bentuk tindakan HAM di luar negeri, hal ini tidak terlepas dari pandangan negatif kaum migran itu sendiri. Pandangan negatif tersebut mengakibatkan pelanggaran HAM seperti diskriminasi terhadap politik, social, politik dan ekonomi, serta banyak kasus kekerasan terhadap pekerja migran. Hal ini terjadi dikarenakan negara penerima pekerja migran tidak menandatangani convensi CMW dan convensi ILO.

 

Diskriminiasi terhadap ras, suku, agama merupakan masalah terhadap penegakan hak asasi manusia hal ini akan melahirkan konflik antar ras, suku, dan agama. Salah satu contohnya peristiwa Sampit. Konflik yang berawal dari perbedaan suku antara suku Dayak dan suku Madura yang mengakibatkan ratusan nyawa melayang dari kedua suku. Seta konflik di Tolikara yang terjadi karena diskriminasi agama.

 

Indonesia telah meratifikasi UN CRPD namun belum cukup menyadarkan masyarakat terhadap isu-isu disabilitas maupun masalah yang sering dihadapi kaum disabilitas salah satu contohnya yaitu tuna rungu. Tuna rungu adalah bagian disabilitas berdasarkan budaya dan linguistic. Diskriminasi yang terjadi pada kaum tuna rungu yang banyak ditemukan adalah dalam bidang pendidikan dan dunia kerja. Bahkan pendidikan bagi kaum tuna rungu masih jauh dari apa yang diharapkan. Selain itu masalah yang dihadapi oleh disabilitas adalah akses dan infra struktur yang belum memadai.

 

            Pada akhir kegiatan diperoleh beberapa rekomendasi untuk menjadi bahan yang diperjuangkan bersama-sama, yaitu:

-       Mendorong disahkannya Rancangan Undang-Undang Disabilitas;

-       Mendorong disahkanya Rancangan Undang-Undang PRT; dan

-       Membuat modul pendidikan reproduksi bagi kaum disabilitas perempuan.


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!