Tulus


R. Valentina Sagala

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 21-22 November 2015

Sudah bukan rahasia lagi, ada sejumlah pembicara seminar atau pelatih (trainer) yang menohok honorarium setinggi langit, bahkan hanya dalam hitungan beberapa jam.Kata orang, zaman sekarang paling susah mencari orang tulus yang tulus membantu maupun tulus melayani. Ibaratnya, tak ada kebaikan yang tak mengharapkan balasan. Bahkan tak ada bantuan yang tak diikuti pamrih. Semua harus dibayar dan dihitung.

Sudah bukan rahasia lagi, ada sejumlah pembicara seminar atau pelatih (trainer) yang menohok honorarium setinggi langit, bahkan hanya dalam hitungan beberapa jam. Tarif mereka bahkan dinilai dengan satuan dolar dan dihitung berdasarkan jam. Para motivator bahkan sering dengan bangganya memamerkan jam terbang mereka yang artinya berbanding lurus dengan honor selangit. Semakin tinggi bayaran yang mereka terima, semakin bangga mereka. Semakin banyak panggung yang dijajaki, semakin melambung popularitas mereka.

 

Dengar-dengar, fenomena semacam ini bukan cuma terjadi di kalangan para pembicara atau motivator yang mengaku andal, melainkan juga tak jarang muncul dari kalangan pemuka agama yang diharapkan memberi ceramah atau bimbingan rohani. Dunia sekarang ini bak pasar yang isinya tawar-menawar, jual-beli, dan transaksional.

 

Saking sulitnya mencari orang berhati tulus, baik tercermin dari sikap tulusnya membantu orang lain yang kesulitan atau menolong orang yang tidak dikenalnya, beberapa program televisi sering membuat acara-acara menggunakan kamera tersembunyi guna menemukan orang-orang “langka” ini. Berbagai skenario disusun, mulai dari ada seorang pemain (pemeran) yang berpakaian ala kadarnya hendak menjual penganan ala kadarnya juga, hingga yang berpura-pura membutuhkan uang untuk ongkos pulang ke rumah.

 

Memang mencari hati yang tulus dan murni sekarang tidaklah mudah. Banyak temuan dan pengalaman bahkan menunjukkan, ketulusan sering lebih mudah ditemukan dalam kehidupan orang-orang sederhana yang tak berlimpah kekayaaan dan harta benda. Seorang miskin bisa jadi memiliki hati tulus yang mendorongnya berani melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa. 

 

Hal ini mematahkan pandangan kesulitan hidup mudah membuat seseorang jatuh ke dalam ketidakjujuran. Faktanya, jika seseorang itu bertekad tulus dan jujur, pastilah meski sedang menghadapi kesulitan seberat apa pun, panggilan untuk terus tulus akan melekat.

 

Ini jauh berbeda, misalnya, dengan pongah segelintir pejabat kita yang lebih bergaya saudagar pedagang ketimbang pelayan rakyat. Simak saja skandal yang baru-baru ini menguak dan ramai jadi perbincangan orang banyak. Tak tanggung-tanggung, seorang anggota DPR diduga meminta jatah saham dari PT Freeport Indonesia. Nilainya luar biasa selangit dan pastinya bakal memperkaya orang tersebut. 

 

Bukan hanya mengatasnamakan presiden dan wakil presiden, anggota DPR tersebut bicara bak seorang pengusaha. Tidak ada rasa berdosa sedikit pun terhadap rakyat yang memberinya amanat.Boleh dibilang, tidak semua pejabat sungguh-sungguh tulus melayani rakyat karena memandang hal tersebut sebagai panggilan hidup. Ada juga mereka yang memburu jabatan anggota DPR semata untuk membesarkan diri sendiri.

 

Tulus, ikhlas, dan jujur memang bukan kualitas sembarang orang, apalagi sembarang pemimpin. Hanya pemimpin amanah yang punya kualitas macam ini, yang murni hatinya, dan adil sikap hidupnya.Selebihnya di lain sisi, ada manusia-manusia rakus yang tak punya hati, culas, dan curang. Biasanya, sifat tak pernah bersyukur dan tak pernah puas kerap mendorong seseorang untuk mengambil jalan pintas dan curang. 

 

Coba pikir, kurang apa coba remunerasi bagi para anggota DPR kita? Tak hanya gaji dan tunjangan, mereka menerima fasilitas lainnya yang fantastis. Tapi, entah mengapa penggelembungan dana, korupsi, dan berbagai skandal justru kerap terdengar dari mereka yang amat berkecukupan ini.

 

Rakyat membutuhkan pejabat yang mumpuni dan amanah melayani, bukan orang-orang yang egois dan berorientasi mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi diri sendiri. Rakyat memerlukan para pejabat yang memiliki hati tulus, yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat banyak dibandingkan diri sendiri, yang lebih terdorong melayani dan bukan dilayani.

 

Mengasihi atau melayani orang lain dengan tulus, apalagi bagi mereka yang membutuhkan, memang bukan seperti membalikkan telapak tangan. Untuk memiliki hati tulus, kita berupaya tak mengharapkan balasan dari kebaikan yang diperbuat. Tulus saja, ikhlas, dan jujur.

 

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; 

anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow @ValentSagala.

 

 

Link :

http://www.sinarharapan.co/news/read/151121035/tulus

 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Kaum Ibu dan Perempuan Indonesia Menolak PP No.78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan:
Kriminalisasi terhadap Perempuan dalam Produk Hukum Daerah di Jawa Barat

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!