Menutupi Masalah


R. Valentina Sagala

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 14-15 November 2015

 

Baru-baru ini saya mendengar cerita seorang teman yang temannya lagi baru menemukan sejumlah permasalahan fatal yang sekian lama ditutup-tutupi pegawai bawahannya. Entah karena tidak tahu atau karena takut, masalah itu bukan hanya ditutup-tutupi, tapi malah melebar menyulut berbagai permasalahan lain, hingga akhirnya berakibat fatal. Tentu saja temannya ini marah, kecewa, sedih, dan berbagai perasaaan bercampur baur. Ujungnya temannya tersebut merasa dibohongi dengan sengaja oleh pegawai bawahannya.

Saya sering bertanya dalam hati, mengapa seseorang lebih suka menutup-nutupi persoalan ketimbang secara berani menghadapinya. Mungkin karena ia takut dimarahi pimpinannya jika mengungkap permasalahan tersebut, atau karena dia sama sekali tak punya solusi terhadap permasalahan tersebut. Hingga kini saya tak punya jawaban yang pasti.

Saya pikir, tidak ada orang yang suka dimarahi oleh atasan atau pimpinan. Tetapi pada saat yang bersamaan, seseorang tentu juga tak suka dibohongi, apalagi dalam hal ada masalah yang dibiarkan seolah-olah tak ada masalah. Akibat informasi yang sengaja dipotong alias tidak disampaikan, sang pemimpin atau atasan bisa tenang-tenang saja mengurus hal yang lain dan mengabaikan permasalahan yang sebenarnya vital.

Perkara menutupi masalah juga tidak terbatas di dunia kerja saja. Dalam kehidupan rumah tangga, tidak jarang ada anggota keluarga yang lebih senang menutup-nutupi masalah daripada membicarakannya. Seorang anak misalnya, lebih suka menyimpan kesulitannya dalam satu pelajaran tertentu agar tidak dimarahi orang tuanya. Padahal, dengan tidak menceritakan masalah yang dihadapinya, kedua orang tuanya tidak tahu, dan akhirnya di akhir tahun pelajaran, anak tersebut tidak naik kelas.

Dalam hubungan suami dan isteri, hal menutupi masalah ini juga sering kali terjadi. Sang suami tak mau menceritakan masalah yang dihadapinya di kantor, yang dalam kenyataannya berdampak juga terhadap kehidupan perkawinan. Isteri tidak mau menceritakan masalah keluarga yang dihadapinya, padahal hal tersebut bisa jadi berakibat fatal di kemudian hari.

Memang bisa saja, ada seribu satu alasan bagi seseorang untuk menutup-nutupi masalah. Sayangnya, seringkali sikap menutup-nutupi masalah ini bisa mengakibatkan kerugian yang besar, bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan bagi orang banyak termasuk orang-orang di sekitar kita.

Dalam perenungan saya, ketika seorang menghadapi masalah, ia mesti belajar mengatasinya. Ketika masalah tersebut akan menyangkut nasib orang lain, semestinyalah ia tidak menutup-nutupi masalah tersebut, agar bisa diatasi bersama.

Menutup-nutupi masalah dari orang-orang yang semestinya kita laporkan atau beritahukan sebenarnya merupakan tindakan yang mengarah pada berbohong. Kita tahu, dalam hal apapun, sesungguhnya berbohong adalah sikap yang harus dihindari.

Santo Thomas Aquinas pernah memberikan pengkategorian kebohongan menjadi tiga kelompok. Pertama, kebohongan demi maksud menghibur. Kedua, kebohongan yang sering dipandang dilakukan demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan atau melukai orang lain, atau sering disebut “bohong-putih” atau “white-lies”. Ketiga, kebohongan yang merugikan orang lain.

Bagi Santo Thomas Aquinas, secara prinsip tindakan bohong atau kebohongan yang merugikan atau melukai orang lain dapat dianggap dosa berat, sedangkan kebohongan dengan maksud menghibur dan kebohongan yang dilakukan tanpa merugikan atau melukai orang lain dapat dikatakan termasuk dosa ringan. Karenanya, berbohong pada hakikatnya bukan suatu tindakan baik dan terpuji. Termasuk berbohong atas dasar menutup-nutupi sebuah permasalahan yang sudah jelas semestinya dihadapi dan diselesaikan.

Selain berbohong, menutup-nutupi masalah juga seringkali mendorong kita untuk memutarbalikkan kebenaran. Kita berupaya keras agar masalah tidak ketahuan, tapi saat bersamaan kita telah mengaburkan mana kebenaran dan mana ketidakbenaran. Pada titik ini, kita bisa jadi akan menyesatkan orang atau sebuah keputusan.

Jadi jika direnung-renungkan, masalah sesungguhnya bukan untuk ditakuti apalagi ditutup-tutupi. Ketika kita menghadapi suatu permasalaha, hadapilah dengan bijaksana dan carilah solusi atau penyelesaian masalahnya. Latihan untuk tidak mudah menyerah dan apalagi patah semangat ketika menghadapi masalah, mesti diajarkan dan dididik sejak seseorang masih belia. Melalui latihan-latihan sejak kecil, seseorang diharapkan bertumbuh menjadi kuat dalam menghadapi persoalan, bukan justru menjadi lihai dan cakap menutup-nutupi masalah. Lagipula, semakin ditutupi, toh pada akhirnya akan ketahuan juga.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

Link :

http://www.sinarharapan.co/news/read/151114004/menutupi-masalah

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Kriminalisasi terhadap Perempuan dalam Produk Hukum Daerah di Jawa Barat
Hukum Kebiri Bukan Solusi untuk Mengatasi Kejahatan Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!