Proses


R. Valentina Sagala

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 7-8 November 2015

 

Beberapa hari lalu saya terlibat percakapan dengan sekelompok siswa SMA. Mereka bercerita dengan semangat menggebu-gebu tentang bagaimana kecintaan mereka pada musik dan teater. Entah saking cintanya, mereka mau melakukan apa saja untuk bisa cepat terpenuhi hasrat bermusik dan berteater itu, tak peduli tugas utama mereka sebagai siswa adalah menimba ilmu (termasuk pelajaran yang mungkin membosankan).Inginnya, ada kebijakan dari sekolah agar mereka bisa menggunakan jam belajar untuk berlatih musik dan teater. Tentu saja ide itu ditolak pihak sekolah, yang memandang penting bagi anak-anak muda ini untuk berusaha menjaga keseimbangan antara belajar dengan bermusik atau berteater. Atau lebih tepatnya, bagaimana kecintaan terhadap musik dan teater tidak menghilangkan kegiatan belajar, apalagi membuat nilai akademis mereka menurun.

Saya jadi teringat teman saya sebelumnya juga bercerita betapa semakin menggelikannya fenomena anak-anak muda sekarang yang berlomba-lomba ingin cepat terkenal. Segala cara dilakukan, mulai dari mengikuti ajang pencarian bakat, perlombaan, atau kontes-kontes tertentu. Program-program televisi sekarang ini juga jelas sebagian besar menjadi alat membuat seseorang cepat atau secara instan dikenal. Bukan cuma anak muda, dari anak belia pun sudah wara wiri tampil berlomba-lomba menjadi terkenal.

Media sosial yang disinyalir sebagai media tercepat membuat seseorang terkenal, sudah menjadi makanan sehari-hari anak muda, bahkan orang dewasa. Ada tentu saja hal positif yang bisa dipetik dari ini keberadaan dan perkembangan media sosial, tapi secara bersamaan kita juga perlu mengontrol diri agar kita tidak dipertuhankan oleh media sosial.

Selain perkara ingin cepat terkenal, sepertinya kita perlu merenungkan jangan-jangan hidup kita saat ini sudah dipenuhi dengan budaya instan atau ingin serba cepat. Tidak cuma ingin terkenal, mulai dari makanan hingga kesuksesan atau keberhasilan, banyak dari kita yang ingin cepat “memenangkan” semuanya. Karena fokus kita itu, kita lupa pada pentingnya proses dan berproses.

Menurut saya, menikmati segala sesuatu yang serba instan atau diperoleh secara instan, mudah, dan cepat, tidaklah seberkualitas menikmati sesuatu yang kita peroleh dengan berproses. Menjalani proses membuat kita sampai di titik keberhasilan dengan kematangan tersendiri. Sehingga ketika keberhasilan sudah di tangan kita, keberhasilan tersebut tentulah membuahkan kebaikan bagi diri kita dan orang banyak, atau minimal orang-orang di sekeliling kita. Sebaliknya, kesuksesan tanpa proses seringkali tidak membuahkan kebaikan.

Dalam berproses, seseorang tidak akan merasakan yang indah-indah atau yang enak-enak melulu. Sebaliknya, dalam berproses, kita bisa menghadapi kesulitan dan hambatan-hambatan. Seorang yang ingin berproses akan memandang kesulian dan hambatan sebagai tempaan dan ujian agar dirinya bertumbuh lebih baik. Orang-orang ini tidak akan mudah mundur. Mereka juga tidak mau berbuat curang atau mencari jalan pintas yang melanggar hukum atau nilai moral.

Saya pernah mendengar cerita tentang sepotong besi yang tadinya tidak berharga, ketika ditempa menjadi tapal kuda, harganya bisa naik dua kali lipat. Jika besi tersebut ditempa lagi menjadi jarum, harganya naik berlonjak berkali-kali lipat. Lalu jika kembali ditempa lagi dan dibentuk menjadi jarum penunjuk arloji dengan standar kualitas premium, harganya bisa melonjak lagi berkali-kali lipat. Lebih banyak dan lebih telaten ditempa, dipukul, dibakar, maka potongan besi yang tadinya bernilai rendah, kini nilainya bisa sangat tinggi.

Sederhananya, berbagai kesulitan dan hambatan yang harus dilalui seseorang dalam hidup, sesungguhnya adalah bagian dari proses bagi seseorang itu untuk bertumbuh menjadi baik dan bernilai.

Dalam perenungan saya, hidup adalah belajar yang terus menerus. Sepanjang kita hidup, sepanjang itu pulalah kita belajar. Kita belajar untuk bertumbuh agar menjadi lebih baik dan bisa berbuah bagi sesama.

Ketika hidup tidak mempedulikan proses, maka kita telah kehilangan keindahan hidup itu sendiri. Menikmati proses jauh lebih membahagiakan ketimbang menikmati keberhasilan. Keberhasilan adalah salah satu wadah “naik kelas”. Perjalanan untuk naik kelas, adalah perjalanan yang membuat seseorang bisa berkualitas ketika dia sudah naik kelas.

Berproses adalah bagian dari belajar. Selalu ada yang bisa dipetik dari belajar. Jadi, jangan pernah meremehkan proses!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

Link :

http://www.sinarharapan.co/news/read/151107095/lupa-pada-proses

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Hukum Kebiri Bukan Solusi untuk Mengatasi Kejahatan Kekerasan Seksual Terhadap Anak
Kesetiaan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!