Kesetiaan


R. Valentina Sagala

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 25-26 Oktober 2015

Mencari orang baik mudah, tetapi mencari orang yang setia sama sulitnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Benarkah demikian?

Saya pernah mendengar kata-kata bijak berikut, mencari orang baik mudah, tetapi mencari orang yang setia sama sulitnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Benarkah demikian?

Dipikir-pikir, salah satu masalah yang kerap jadi topik seru pembicaraan adalah soal kesetiaan. Obrolan tentang kesetiaan seperti tak ada habisnya dari masa ke masa. Kisah-kisah tentang kesetiaan kerap membuat hati kita campur aduk, mulai dari terenyuh hingga berdecak kagum. Terenyuh karena turut sedih melihat pihak yang tersakiti atau dampak menyedihkan dari ketidaksetiaan seseorang. Atau kagum karena sikap setia seseorang yang luar biasa, meski harus melalui masa-masa sulit dan kejatuhan.  

Kesetiaan paling sering disebut-sebut dalam hubungan pertemanan, percintaan, perkawinan, keluarga, hingga hubungan pribadi pada Tuhan. Dalam hal pertemanan, mengaku teman adalah hal yang mudah, tapi menjadi sahabat yang setia bukanlah hal mudah. Menjadi sahabat yang setia, artinya setia dalam suka dan duka. Setia di sini juga tidak semata-mata berarti apa pun yang dilakukan sahabat kita, meski itu salah, akan kita benarkan. Sebaliknya, kesetiaan di sini justru bermakna bahwa sebagai sahabat, kita harus meluruskan jika sahabat kita berbuat salah.

Bagi mereka yang sedang mencari pasangan hidup, soal kesetiaan biasanya sering jadi syarat nomor satu dan paling penting. “Hal yang paling penting, suamiku harus laki-laki yang setia. Nggak tahan kalau nanti aku diselingkuhi.” Begitu kata seorang teman saya yang khawatir kalau nanti ternyata harus bersuamikan seorang laki-laki yang tak setia. Kekhawatiran semacam yang teman saya miliki ini rasanya bukan cuma dialami para perempuan. Sekarang ini, banyak laki-laki yang takut dan pilih-pilih perempuan yang hendak menjadi istrinya kelak karena tak mau terjebak berpasangan dengan pasangan yang tak setia.

Demikian sulitnyakah kini mencari orang yang setia? Mengapa sepertinya saat ini begitu sulit mencari orang yang setia?  Masyarakat modern sepertinya semakin permisif terhadap ketidaksetiaan. Ketidaksetiaan makin lama makin dianggap sebagai suatu hal yang lumrah.

Kesetiaan terkait dengan hubungan. Hubungan dengan pekerjaan, hubungan dengan pemimpin, hubungan dengan teman, dan hubungan dengan istiri atau suami. Tentu saja kesetiaan yang dimaksud di sini adalah kesetiaan dalam arti yang positif dan untuk kebaikan. Sebab di samping itu, ada juga kesetiaan yang negatif dan mengerikan, seperti kesetiaan pada harta benda ataupun pada sesuatu yang “di-Tuhan-kan”.

Di dunia yang bergerak serbacepat sekarang ini, tak heran orang semakin sulit menemukan sosok manusia yang bisa setia, berpegang teguh pada prinsip yang diyakininya, baik dalam pekerjaan, hubungan, dan karya. Mereka yang terbiasa tak setia, punya 1.001 alasan untuk membenarkan ketidaksetiaan mereka, mulai dari hitung-hitungan ego, menyelamatkan diri sendiri, hingga untung rugi.

Kesetiaan tak hanya dijalankan saat kita mendapatkan kebahagiaan. Kesetiaan dengan bonus kebahagiaan tentu sudah bukan barang aneh. Bagaimana kesetiaan bisa tetap terjaga, meski dalam kondisi dan situasi kejatuhan? Pada saat-saat teman, sahabat, suami, istri, atasan atau pemimpin, dan kolega kita sedang terjatuh dan tertimpa masalah pelik, akankah kita setia seperti yang sering kita ucapkan?

Orang-orang yang biasa tak setia dalam segala hal umumnya pandai melempar kesalahan di luar dirinya sendiri. Dalam hal hubungan, alasan paling sering yang mengemuka dalam kasus ketidaksetiaan tentu saja adalah kelemahan pihak lain. Ada saja alasannya, mulai dari pekerjaan pasangan yang kurang mentereng, gaji pasangan yang kurang, serta pasangan yang malas dan menyebalkan. Hal lain yang kerap jadi alasan adalah menyalahkan pihak ketiga. Muncullah istilah “sang penggoda”. Jadi, yang salah adalah pihak lain yang menggoda, bukan karena diri sendiri yang tak bisa setia.

Dalam perenungan saya, kesetiaan haruslah dimulai dari perkara-perkara kecil. Jika ada sesuatu hal yang dipercayakan kepada kita, sejauh mana kita dapat menjalaninya dengan benar, tulus, jujur, dan hati penuh syukur. Kesetiaan juga semestinya tidak menimbulkan malapetaka atau kerugian bagi orang-orang di sekitar. Kesetiaan yang tertuju pada kebenaran dan keadilan seharusnya memberi kebaikan. Mari melatih diri untuk setia.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala.

Link :

http://www.sinarharapan.co/news/read/151024444/kesetiaan

 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-fe

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Proses
Review of the Statement of the Minister of Women’s Empowerment and Child Protection at the 59th Session of the UN Session of Commission on the Status of Women

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!