Komunikasi


R. Valentina Sagala

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 17-18 Oktober 2015

 

Ketika duduk di bangku SMA Santa Ursula dulu, Suster Kepala Sekolah pernah mengadakan pelatihan komunikasi bagi saya dan kawan-kawan seangkatan. Tentu di usia-usia itu, awalnya kegiatan pelatihan ini terkesan kurang keren. Rasanya lebih enak sekolah diliburkan sehingga saya bisa bangun agak siang dan santai sejenak dari rutinitas belajar di sekolah.

Setelah saya pikir-pikir, pelatihan komunikasi yang dilakukan di sekolah dulu ternyata banyak manfaatnya. Setidaknya bagi saya.

Komunikasi tidak sama dengan “public speaking” atau orasi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan. Sederhana bukan?

Diakui atau tidak, komunikasi adalah sesuatu yang lebih mudah dibicarakan daripada dilakukan. Komunikasi seperti apa? Tentu saja komunikasi yang efektif. Artinya, komunikasi yang dilakukan dan mencapai tujuan.

Tujuan orang berkomunikasi prinsipnya adalah menyampaikan pesan, dari si pemberi pesan kepada si penerima pesan. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan komunikasi untuk berinteraksi dengan sesama.

Komunikasi bisa terjadi di berbagai bidang kehidupan. Dalam dunia pemerintahan, seringkali kita dengar bagaimana para pengamat mengkritik cara berkomunikasi para menteri. Salah-salah berkomunikasi, pesan tidak tersampaikan, sebaliknya justru meninggalkan kesan “pencitraan”. Di kancah politik, macetnya komunikasi bisa berakibat konflik berkepanjangan tanpa akhir. Mandegnya komunikasi bisa memberi dampak merugikan tidak hanya bagi mereka yang tak mau berkomunikasi, tetapi bahkan bagi banyak orang atau orang-orang di sekitarnya.

Komunikasi yang tidak efektif bisa berakibat pesan yang keliru yang tersampaikan. Akibatnya, tidak jarang hubungan antara si pemberi pesan dan si penerima pesan menjadi sangat buruk. Ada luka, sakit hati, dan kemarahan. Padahal bisa jadi, perkara utama hanyalah kesalahpahaman.

Perbedaan mendasar dari materi pelatihan komunikasi yang saya terima ketika duduk di bangku SMA dulu dengan dunia saat ini, adalah semakin dan semakin canggihnya alat komunikasi. Kita tahu, kini untuk mengadakan rapat, orang tak perlu bermacet-macet ria menuju tempat rapat. Cukup dilakukan lewat tele-conference. Sang peserta rapat tinggal duduk di depan laptop masing-masing di ruangan atau rumahnya. Beres.

Komunikasi saat ini juga bisa dilakukan dengan cara-cara yang seru dan menyenangkan. “Bertatap wajah” dengan teman atau kenalan, bisa dilakukan lewat facebook. Makan bersama orang-orang yang dicintai bisa dilakukan terpisah di restauran atau rumah makan masing-masing, ditambah memasang foto dan status di instagram.

Kencenderungan berkeluh kesah juga sekarang ini tidak jarang kita temukan di berbagai media sosial. Gampang saja, tinggal “posting” atau pasang status. Profile picture di telepon pintar pun bisa jadi ajang menyampaikan pesan perasaan di hati.

Tapi apakah ramainya warna-warni teknologi komunikasi yang ada kini menjamin komunikasi yang efektif terjadi dan bermanfaat bagi kebaikan?

Salah satu masalah komunikasi yang dianggap penting untuk direfleksikan saat ini adalah komunikasi dalam keluarga. Bagi saya dan mungkin bagi sebagian besar orang, keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah tempat istimewa dimana kita mengalami keindahan hidup, suka dua, saling menerima dan memberi. Keluarga adalah berkat terindah dan ruang dimana anggota-anggotanya saling berbagi rahmat kasih. Keluarga adalah “pertemuan” sesama anggota keluarga yang beraneka ragam. Setiap anggota keluarga memiliki pendapat, pemikiran, selera, pendekatan yang berbeda-beda.

Seberapa berkualitaskah komunikasi kita dalam keluarga? Antara suami dengan isteri, orang tua dengan anak, sesama anak, dan sebagainya? Apakah perubahan budaya teknologi komunikasi yang serba instan membantu kita menghargai betapa pentingnya merawat keluarga? Atau sebaliknya, kita semakin “menjauh” dari keluarga?

Dalam perenungan saya, komunikasi dalam keluarga dapat membahagiakan, meneguhkan, mengarahkan, dan membuahkan kebaikan. Komunikasi dalam keluarga bisa mengobati ketika ada anggota keluarga yang tengah terluka, sedih, kecewa. Komunikasi bisa menyalurkan cinta dan dukungan positif.

Sebaliknya, komunikasi yang buruk dalam keluarga dapat meninggalkan luka, sedih, dan kecewa. Komunikasi yang tidak terjadi antar anggota-anggotanya bisa meruntuhkan ikatan keluarga. Karenanya, sangatlah penting menumbuhkan dan memelihara komunikasi yang sehat dalam keluarga. Teknologi boleh-boleh saja. Tapi ketika memang dibutuhkan, mari fokus meluangkan waktu dan diri kita untuk “bertemu” dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

Link :

http://www.sinarharapan.co/news/read/151017260/komunikasi

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!