Berserah Diri


R. Valentina Sagala

 

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 26-27 September 2015

 

 

Selain keberhasilan atau kesuksesan, hidup juga diwarnai dengan kegagalan atau kekecewaan. Ini bisa terjadi di mana saja, baik dalam kehidupan berumah tangga, lingkungan kerja, atau bermasyarakat.

Sepertinya tak ada seseorang yang sepanjang hidupnya sepenuhnya dipenuhi kesuksesan atau keberhasilan. Demikian pula sesungguhnya, tak seseorang yang hidupnya yang seluruhnya diisi dengan kegagalan atau  kekecewaan.

Secara logika, sebagai manusia tentu kita ingin selalu berhasil atau sukses. Hal ini wajar. Kita tahu ada banyak tips atau cerita dari orang-orang sukses yang ‘laku’ keras di tengah-tengah masyarakat kita, menunjukkan betapa besarnya keinginan orang untuk sukses atau berhasil. Seminar, pelatihan, dan acara-acara motivasi untuk sukses selalu ramai dan penuh didatangi orang. Buku-buku tentang cara menjadi sukses hampir selalu jadi best-seller. Sukses seolah menjadi tren masyarakat saat ini. Intinya, semua orang ingin sukses, ingin berhasil.

Tapi bagaimana saat kita gagal?  Kita merasa kecewa, merasa usaha kita sia-sia dan tak ada gunanya. Hidup seperti runtuh, semua seolah gelap gulita. Tak ada gairah, kehilangan sebab untuk melangkah, bahkan sering berujung pada rasa putus asa. Tidak jarang situasi ini juga berakibat rasa frustasi yang mendorong kita melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik, tidak wajar, dan cenderung destruktif.

Dalam perenungan saya, pemahaman kita tentang sukses atau berhasil juga harus dibarengi dengan pemahaman kita terhadap kegagalan. Bagaimana kita menghadapi kegagalan adalah sama pentingnya bagaimana kita menghadapi keberhasilan.

Saya ingat bagaimana ketika masih bersekolah dulu, kedua orang tua saya berharap agar saya dan adik-adik saya mendapat juara ranking satu di kelas. Untuk itu, tentu kami harus berusaha dengan keras. Tak ada keberhasilan yang diraih tanpa usaha keras, demikian kata guru dan kedua orang tua saya. Saya dan adik-adik saya pun belajar dengan giat. Hasilnya, tak semua dari kami berhasil duduk di ranking satu di kelas. Kedua orang tua saya tak marah, karena mereka telah melihat dan menemani kami ketika kami berusaha dengan tekun belajar. Hasil akhir bukan urusan kita, begitu kata ayah saya. Ayah saya yakin, yang penting bagi anak-anaknya adalah tekun belajar dan berdoa. 

Saya pikir kami termasuk beruntung karena kedua orang tua kami tak pernah memaksakan kami harus berhasil dengan menghalalkan segala cara. Sebaliknya, cara yang ditempuh untuk meraih keberhasilan, merupakan elemen penting untuk menilai keberhasilan. Tidak ada gunanya berhasil, jika untuk keberhasilan itu ada banyak pihak yang tersakiti atau menderita. Tak ada artinya sukses jika kesuksesan itu diperoleh dengan cara-cara yang tidak jujur dan eksploitatif.

Dan tentu saja, kita perlu selalu mengingat, ada kebesaran Tuhan dalam setiap keberhasilan yang kita peroleh. Tuhan juga hadir lewat orang-orang sekitar kita. Itu mengapa ada yang mengatakan, sebuah keberhasilan seseorang sesungguhnya tidak sepenuhnya dicapai berkat usaha seseorang itu saja, tetapi ada banyak peran orang lain yang berkontribusi dalam keberhasilannya.

Sambil berusaha untuk meraih sukses, sikap pasrah atau berserah diri sangatlah penting. Kepasrahan menggambarkan tidak hanya keyakinan kita pada Tuhan, tetapi juga kesiapan kita menghadapi apapun hasilnya sebagai ujung usaha kita. Berhasil atau gagal, bukan jadi tujuan. Proses yang baik dan benar yang kita jalani, itulah yang penting.

Kembali ke soal gagal, ada nasihat bijak bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Di balik nasihat ini terkandung semangat bahwa jika kita gagal, janganlah berputus asa. Sebaliknya teruslah berusaha dan berserah diri, niscaya suatu saat nanti keberhasilan akan kita raih. Memang nasihat bijak sejenis ini lebih mudah dibicarakan ketimbang benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi mencoba dan melatihnya terus menerus sangatlah bermanfaat.

Kepasrahan memerlukan kebesaran jiwa. Dengan kepasrahan, kita manusia berusaha dan berserah diri kepada Tuhan. Sebab ketika kita berusaha, kita tidak bisa memastikan hasil akhir yang akan kita capai. Selalu ada kemungkinan berhasil atau gagal. Karenanya tak terlalu penting mencemaskan hasil akhir. Lebih baik berfokus untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa sambil berserah diri pada Tuhan.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150926021/-i-berserah-diri-i-renungan-sabda

 

 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!