Mengendalikan Diri


R. Valentina Sagala

 

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 12-13 September 2015

 

 

Perihal “mengendalikan diri” sudah amat sering saya dengar sejak duduk di bangku sekolah dulu. Kata orang, umur tak menentukan tingkat kedewasaan atau kematangan seseorang. Namun salah satu ciri penting dewasa atau matang, adalah kemampuan seseorang mengendalikan diri sendiri.

Baru-baru ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diterpa polemik. Permasalahannya bersumber dari perilaku atau tingkah laku dua orang pimpinannya. Adalah kedatangan ketua maupun wakil ketua DPR, yakni Setya Novanto dan Fadli Zon, dalam konferensi pers kampanye calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, membuat gerah dan tak bisa diterima publik.

Banyak pihak, termasuk para anggota DPR sendiri, menyatakan kekecewaan dan menyayangkan tindakan dua pimpinan DPR yang terhormat tersebut. Apalagi tindakan tersebut dilakukan dalam masa kunjungan kerja. Baik Setya Novanto maupun Fadli Zon bersama rombongan lainnya adalah delegasi Indonesia yang mengikuti agenda sidang The 4th World Conference of Speakers Inter Parliamentary Union (IPU) di New York.

Di luar agenda tersebut, keduanya malah terlihat hadir dalam konferensi pers sebagai bagian dari kampanye Donald Trump di Trump Tower, New York City, Kamis (3/9). Tak tanggung-tanggung, ratusan media asing langsung ramai mempublikasikan foto dan rekaman kehadiran keduanya. Rekaman kehadiran Setya dalam acara ini pun beredar di media online. Dalam akhir konferensi pers, tak hanya memperkenalkan, Trump jugamengundang Setya Novanto bercakap-cakap di hadapan publik.

Kekecewaan juga jelas dirasakan masyarakat. Tingkah dua pimpinan DPR tersebut membuat saat ini beredar (dan terus terisi) petisi untuk meminta keduanya mundur dari dua jabatan pimpinan DPR. Petisi berjudul “Mempetisi Ketua DPR-RI dan Wakilnya Mengundurkan Diri Dari Jabatannya” diunggah oleh akun Djati Erna Sahara melalui situs change.org. Petisi tersebutberpendapat, ketua dan wakil ketua DPR telah mempermalukan bangsa Indonesia dengan mendukung capres yang rasis.

Menurut petisi ini, tindakan yang dilakukan kedua pimpinan DPR tersebut menemui Trumptidak mewakili masyarakat Indonesia secara keseluruhan, namun mencatut demi kepentingan pribadi. Pertemuan tersebut justru sangat bertentangan dengan suara yang mereka gaungkan selama musim kampanye lalu.

Meski Ketua dan Wakil Ketua DPR, membela diri dengan pernyataan-pernyataan mereka, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menyatakan akan menindaklanjuti dugaan pelanggaran kode etik karena tindakan mereka. Walaupun Fadli Zon misalnya menjelaskan bahwa pertemuan dengan Donald Trump tersebut informal dan improvisasi, tetap saja terdengar suara keras menentang.

Publik kini menunggu proses di MKD, berharap bisa memberi rasa keadilan.

Dalam perenungan saya, sikap mengendalikan diri amat penting dalam kehidupan kita.Salah satu sebab utama adalah karena musuh terbesar manusia sebenarnya bukan berada di luar dirinya, sebaliknya berada di dalam diri manusia itu sendiri. Betapa banyak godaan yang menerpa kita sebagai manusia, mulai dari popularitas, kekayaan, kenikmatan, semuanya itu kita dapat memilih apakah kita mau atau tidak menjalaninya. Oleh karena itu, kemana pun seseorang itu pergi, sebenarnya ia selalu diikuti oleh “musuh”nya, yaitu dirinya sendiri.

Pengendalian diri bukan urusan usia atau jabatan seseorang. Bisa saja seorang pejabat, nyatanya tak mampu mengendalikan diri menghadapi gempuran memperkaya diri dengan korupsi. Seorang yang sudah berusia dewasa bisa saja ternyata tak bisa mengendalikan diri atas godaan kenikmatan duniawi. Pengendalian diri lebih menunjukkan tingkat kematangan psikologis dan spiritualitas seseorang, yaitu kemampuan beradaptasi dengan situasi yang salah satunya menggoda orang tersebut untuk berbuat tidak baik atau tidak sesuai dengan harapan.Itu juga mengapa, orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri akan mampu mengendalikan lingkungannya untuk lebih baik lagi.

Ada banyak nasihat bijak tentang mengendalikan diri. Mengendalikan diri merupakan sikap, tindakan atau perilaku seseorang secara sadar, baik direncanakan atau tidak, berupaya untuk melakukan kebaikan sejalan dengan panggilan kemanusiaan. Tentu hal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Menjadi seseorang yang bisa mengendalikan diri dalam segala hal tentu adalah sebuah proses yang memerlukan latihan dan ketekunan, pengenalan diri dan disiplin diri, serta latihan sejak usia dini.Saya rasa kita memang masih harus terus belajar!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150912567/-i-mengendalikan-diri-i-renungan-sabda

 

 

 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135 

Jawa Barat, INDONESIA 

Tel./Fax. +62.22.2516378 

Email: institut_perempuan@yahoo.com 

Website: www.institutperempuan.or.id

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html) ; 

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html) 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!