Anak Siapa


R. Valentina Sagala

 

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 5-6 September 2015

 

 

Banyak orang tidak suka pada seseorang yang hobinya menyombongkan diri sendiri. Lalu bagaimana dengan mereka yang suka menyombongkan diri sebagai “anak seseorang”?

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kenalan yang “baru saya sadari” ternyata paling suka bicara tentang seseorang mengacu pada anak siapa orang tersebut. Memang dia anak seorang hakim yang ternama. Tidak hanya cerita tentang dia yang anaknya hakim terkenal, ketika dia bercerita tentang seseorang, pasti ada awalan, “ Dia anaknya si mantan Direktur perusahaan BUMN X” atau “Dia anaknya pejabat Y” atau “Dia adiknya pengusaha Z”.

Saya jadi ingat, sepertinya saya pernah mengalami masa-masa bertemu orang-orang seperti kenalan saya ini. Ada saja orang-orang yang kesenangannya mengedepankan status diri sebagai “anaknya siapa”. Orang-orang sejenis ini, sepanjang bertemu orang baru atau kenalan, amat penting mengetahui dia itu anak siapa atau adik siapa atau kakak siapa atau entah punya hubungan darah apa dengan “seseorang”. Seseorang yang dimaksud di sini tentulah mengacu pada pejabat, penguasa, orang kaya, orang terkenal, dan sejenisnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda mungkin juga pernah mengalami seperti yang saya alami. Seorang kenalan saya santai saja mengendarai mobil sesuka hatinya di jalan raya, tanpa mempedulikan aturan lalu lintas, yang jelas-jelas bisa membahayakan nyawa orang lain. Kalau ditanya, jawabnya santai, “Bapak gue kenal pejabat Kepolisian.” Dari contoh “kecil” semacam itu, sampai tindakan-tindakan mengerikan lain. Anak-anak muda cenderung membanggakan status orang tuanya semata sebagai “perlindungan” agar mereka bisa berbuat sesuka hati mereka.

Di masa ketika mayoritas masyarakat bermental seperti itu, saya beruntung tumbuh dan besar di keluarga yang berkebalikan. Ayah dan ibu saya tak pernah menyibukkan kami anak-anaknya dengan gaya “kamu anak pejabat” atau “dia anaknya pejabat”. Kehidupan kami sederhana. Anak-anak punya tugas menimba ilmu setinggi-tingginya, merawat ahlak, memelihara spiritualitas, menjaga silahturahmi dengan sesama. Orang tua tak bisa luput dari tanggung jawab memberi contoh dan teladan yang baik bagi kami anak-anaknya.

Di sekolah tempat saya menimba ilmu, kami para murid juga tak dipusingkan soal “anak siapa”. Para murid tahu, ada temannya yang anak menteri, ada pula temannya yang anak penjual makanan kaki lima. Tapi sebagai murid, kami tak pernah diperlakukan berbeda. Tak ada diskriminasi, semua mendapat perlakuan dan penerapan disiplin yang sama. Pendidikan semestinya menjadi ajang mendidik pribadi-pribadi yang kokoh dan berkarakter, bukan melahirkan anak-anak yang hanya bergantung pada status orang tuanya.

Itu mengapa, mengisi diri dengan kebaikan dan kekritisan jauh lebih penting daripada meratapi atau sebaliknya menyombongkan diri kita dilahirkan sebagai anak seseorang dengan status sosial tertentu. Status-status ini bisa berubah seiring waktu, bak roda dunia yang terus berubah, kadang di atas, kadang di bawah.

Ada yang bilang, menjadi anak seseorang itu bisa menjadi beban, bisa juga kebanggaan.Perkara bangga menjadi anak seseorang ternyata nyaris sama dengan perkara bangga tidak menjadi anak seseorang. Oleh karena itu, jangan-jangan yang paling penting pada akhirnya adalah kualitas pribadi diri sendiri. Sebagai manusia, tidak seorang pun dari kita bisa memilih siapa orang tua kita, apa agamanya, rasnya, sukunya, pekerjaannya, jabatannya, dan lain sebagainya.

Sebagai anak, tentu saja salah satu kewajiban kita adalah menghormati orang tua, terlepas dari apa status sosial orang tua kita. Baik buruknya orang tua kita, kita ambil mana yang baik, dan tak perlu kita tiru hal yang buruknya. Sebab pada prinsipnya, kita semua adalah individu-individu yang unik ciptaan Tuhan, yang pada masing-masing kita dikaruniai hidup sebagai anugerah terbesar.

Karena hidup itu sendiri adalah anugerah bagi setiap pribadi, maka setiap pribadi memiliki panggilan hidup dan tanggung jawabnya sendiri sebagai umat Tuhan. Setiap kita pun akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita di muka bumi ini sebagai pribadi yang utuh.

Banyak yang mengatakan, orang yang gemar menyombongkan diri sebenarnya adalah orang yang lemah. Dalam perenungan saya, orang yang suka menyombongkan status orang tua, sesungguhnya adalah gambaran ketidakberdayaan diri.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150905023/-i-anak-siapa-i-renungan-sabda

 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135 

Jawa Barat, INDONESIA 

Tel./Fax. +62.22.2516378 

Email: institut_perempuan@yahoo.com 

Website: www.institutperempuan.or.id

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html) ; 

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html) 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Mengendalikan Diri
Pengumuman Pemenang Lomba Film Pendek

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!