Bercermin


R. Valentina Sagala

 

Dimuat dalam Harian Sinar Harapan, Edisi Cetak 29-30 Agustus 2015

 

 

Entah mengapa muncul perasaan tidak nyaman pada diri saya ketika bertemu seseorang yang selalu merasa dirinya paling benar. Sering menggerutu dan menyalahkan orang lain, demikian kualitas orang-orang macam ini. Gemarnya mengganggap ada saja yang salah di luar dirinya, sebaliknya segala hal tentang (di dalam) dirinya menjadi yang paling benar.

Setidaknya pengalaman tidak menyenangkan bertemu seseorang seperti itu baru-baru ini saya rasakan. Dalam sebuah undangan makan siang, saya bertemu dengan kenalan saya ini. Dari duduk sampai makanan terhidang di hadapan kami, kenalan saya ini tak berhenti menjelek-jelekkan orang lain. Mulai dari pimpinan yang tidak menyenangkan, teman kerja yang menyebalkan, anak yang rewel, suami yang banyak permintaan, tukang jahit yang mematok harga jahit mahal, dan banyak lagi. Lanjut bicara nilai tukar rupiah yang melemah, pekerjaan yang semakin sulit dicari, ekonomi yang terpuruk, semuanya buruk dan buruk.

Hari-hari terakhir ini, media massa dan media sosial Indonesia memang diwarnai dengan keprihatinan bahwa bangsa ini tengah menghadapi krisis ekonomi. Bagi mereka yang bukan pendukung pemerintahan saat ini, nada pesimis bahwa ekonomi kita memasuki keterpurukan terus dihembuskan. Ada kalangan yang menyalahkan sikap ekonomi Amerika Serikat, ada pula yang melemparkan kesalahan pada kebijakan moneter negeri Tiongkok. Intinya, situasi ekonomi Indonesia yang memburuk adalah akibat kebijakan keliru dari negara lain. Tapi ada pula ekonom yang mengajak pemerintahan saat ini mengoreksi kebijakan ekonomi yang sejak era Orde Baru dijalankan tanpa perubahan signifikan. Mari berangkat dari melihat diri sendiri, demikian ajakannya.

Bercermin. Kalau dipikir-pikir, dalam hidup ini, kegiatan paling mudah dilakukan memang adalah melihat orang lain. Tapi ada orang-orang yang mengartikannya dengan mencari-cari keburukan orang lain. Orang-orang seperti ini berfokus pada mencari kesalahan orang lain, tanpa secara rutin memeriksa diri sendiri. Akibatnya, mereka cenderung mudah menyalahkan orang lain atau pihak lain. Padahal, sadar atau tidak, setiap manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, mengoreksi diri sendiri sebenarnya amat penting, sebelum kita sibuk mengoreksi orang lain. Memeriksa aib diri sendiri bahkan boleh dibilang jauh lebih penting, daripada mengumbar aib orang lain. Bercerminlah, sebelum kita menghakimi orang lain.

Ketika kecil dan remaja dulu, ayah saya tercinta sering menasihati saya dan adik-adik. Beliau bilang, apa yang benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain. Sebaliknya, apa yang menurut orang lain salah, belum tentu salah menurut kita. Kebenaran kita berkemungkinan salah, sebaliknya kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Karenanya, ada baiknya seseorang berhati-hati untuk tidak mudah menghakimi kesalahan orang lain. Saya selalu mengingat pesan ini sebagai ajakan untuk selalu melihat diri sendiri dulu sebelum melihat orang lain. Belajar memahami orang lain dulu, dengan cara memahami diri sendiri. Memberi waktu berefleksi diri dahulu, sebelum mengomentari orang lain.

Dalam perenungan saya, melihat kesalahan dan keburukan orang lain, memang lebih mudah daripada melihat dan mengakui kesalahan serta kelemahan sendiri. Memeriksa dan menyadari kesalahan diri sendiri memerlukan ketrampilan tersendiri.

Ada sebuah pepatah yang sering kita dengar, “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Daripada berfokus membicarakan dan menjelek-jelekkan orang lain, sebaiknya kita terlebih dahulu bercermin dan berefleksi tentang diri kita sendiri. Jangan-jangan kita yang salah.

Bercermin mengajari kita untuk sadar dan mawas diri.  Mari kita mawas diri, jujur melihat dan mengenal diri kita, baik kebaikan maupun kekurangan dan kelemahan kita. Bercermin mengajari kita untuk tidak tinggi hati, sebaliknya belajar lebih rendah hati, tidak selalu merasa diri kita yang paling baik, paling benar daripada orang lain, dan paling-paling lainnya. Dengan rendah hati, kita lebih mudah mendengar masukan orang lain dan mengembangkan diri kita lebih baik lagi. Kita memperbaiki diri kita terus menerus. Sebaliknya, ketika kita menilai dan memberi masukan kepada orang lain, kita melakukannya dengan tulus agar orang lain juga bertumbuh lebih baik. Bukan dengan maksud agar orang lain direndahkan atau dipersalahkan.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150829044/-i-bercermin-i-renungan-sabda

 

Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan, 

For Justice, Equality, and Humanity, 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135 

Jawa Barat, INDONESIA 

Tel./Fax. +62.22.2516378 

Email: institut_perempuan@yahoo.com 

Website: www.institutperempuan.or.id

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html) ; 

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Perlunya Perlindungan dari Pemerintah Daerah Jawa Barat terkait Ancaman Hukuman Mati yang Menimpa PRT Migran asal Jawa Barat di Saudi Arabia
Perubahan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!