Perubahan


R. Valentina Sagala

 

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Cetak 22-23 Agustus 2015

 

 

Digantinya beberapa orang menteri Kabinet Kerja belum lama ini bukan hal yang mengagetkan bagi sebagian kalangan. Kabar bahwa Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang akan mengganti beberapa orang menterinya memang sudah menjadi topik di media sebelum peringatan Idul Fitri lalu. Kala itu banyak politisi dan pengamat politik yang memprediksi sejumlah nama menteri akan dicopot dan diganti dengan nama lain. Berbagai spekulasi sempat bermunculan.

Apapun itu, nampaknya dunia politik memang yang paling dikenal sebagai dunia yang penuh dengan perubahan. Saya jadi teringat seorang filsuf Yunani, Heraclitus. Heraclitus terkenal dengan doktrinnya tentang perubahan sebagai pusat dari alam semesta. The only thing that is constant is change, demikian ungkapannya yang mendunia sampai sekarang. Tak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri.

Dunia bergerak, jaman berubah. Perubahan adalah sesuatu yang tak bisa ditahan, apalagi disangkal. Perubahan itu bisa datang dari diri kita sendiri, bisa pula berasal dari luar diri kita. Perubahan itu bisa besar atau kecil. Persoalan yang kerap muncul adalah, bagaimana kita menghadapi perubahan dari luar diri kita yang sewaktu-waktu bisa datang?

Tidak hanya di dunia politik, kehidupan sehari-hari kita pun sering diwarnai perubahan yang datang dari luar. Suami yang biasa bekerja, mendadak diberhentikan dari pekerjaan. Suami dan isteri terpaksa harus pindah kediaman ke kota lain karena harus merawat orang tua yang sedang sakit dan membutuhkan perhatian. Perubahan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Sebuah peristiwa bisa memberi perubahan. Sesuatu hal bisa menjadi alasan untuk perubahan.

Kepekaan membaca perubahan sangatlah diperlukan. Khususnya tentu saja, perubahan yang bisa berdampak buruk. Jika perubahan yang berujung pada kebaikan biasa disambut hangat, perubahan yang dianggap sesuatu yang merugikan dan buruk tentu saja akan ditanggapi dingin dan penuh kecemasan.

Menurut saya, membaca perubahan memerlukan ketrampilan atau seni tersendiri. Tidak semua orang cermat terhadap perubahan. Ada yang bisa cepat membaca perubahan, tapi ada pula yang lambat.

Pada akhirnya, kita semua akan melihat perubahan, baik disadari atau tidak. Karena itu, memiliki kepekaan terhadap perubahan adalah hal yang sangat penting.

Lalu bagaimana jika perubahan dari luar diri kita sudah tak bisa terelakkan lagi? Perubahan dalam kehidupan kita yang paling terlihat dan bisa dirasakan saat ini mungkin adalah perkembangan pesat teknologi. Perubahan jenis, model, dan aplikasi komputer tidak lagi selambat dulu. Kini, dunia seolah bisa disentuh lewat touch-screen. Tatap muka bisa dilakukan dengan skype, tak perlu bersusah payah untuk mengarungi kemacetan. Teknologi yang cepat dan instan di satu sisi mempermudah segala sesuatu yang tadinya butuh proses.

Anak-anak muda sekarang merasa tak perlu duduk bersama menikmati makan malam bersama ayah dan ibunya, sebab bisa disederhanakan dengan pesan singkat atau berkirim foto singkat lewat telepon pintar. Serasa sedang makan bersama. Luar biasa memang. Hari ini sudah tak lagi sama seperti hari lalu.

Perubahan juga bisa terjadi sedikit demi sedikit atau serta merta dan menyeluruh. Dalam wacana perubahanlah, dikenal istilah reformasi dan revolusi. Reformasi oleh sebagian kalangan dipandang sebagai suatu usaha perubahan dalam suatu sistem yang bertujuan mengubah struktur yang lama. Sementara revolusi, lebih menuntut semua perubahan dari hal yang paling kecil sampai yang besar, secara menyeluruh, serentak, dan menyentuh fundamental. Presiden Jokowi dikenal sebagai pencetus “revolusi mental”, yang mengacu pada perubahan mental bangsa secara menyeluruh. Implementasinya dalam kehidupan berbangsa, masih harus menunggu waktu.

Dalam perenungan saya, sebagai bagian dari masyarakat yang terus berubah, kita seyogyanya belajar menghadapi perubahan dari luar diri kita yang sewaktu-waktu datang menghampiri. Kita harus menjadi sangat bijaksana dalam mempersiapkan dan menghadapi perubahan. Menyadari bahwa perubahan sewaktu-waktu mungkin terjadi dalam kehidupan kita, membantu kita untuk bersiap diri, menyaring, dan mengantisipasi dampak dari perubahan dengan bijaksana. Hal-hal yang baik yang ditiupkan angin perubahan, tentu perlu disambut dan digenggam. Sebaliknya, hal-hal yang buruk yang dibawa oleh perubahan, harus kita kelola dan antisipasi.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150822034/perubahan

 

 

 

Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan, 

For Justice, Equality, and Humanity, 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135 

Jawa Barat, INDONESIA 

Tel./Fax. +62.22.2516378 

Email: institut_perempuan@yahoo.com 

Website: www.institutperempuan.or.id

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html) ; 

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html) 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Bercermin
Pernyataan Sikap Komite Aksi Perempuan (KAP) Penggusuran Kampung Pulo: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Mana Jakarta Baru yang Kau Janjikan?

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!