Asal Senang


R. Valentina Sagala

 

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 8-9 Agustus 2015

 

Belum lama ini saya terlibat obrolan ringan tentang bagaimana pemimpin atau pimpinan merespon ketika anak buahnya menyampaikan atau melaporkan permasalahan. Menurut saya, salah satu modal menjadi seorang pemimpin adalah mendengar. Mendengar tentu saja bukan hanya mendengar hal-hal yang menyenangkan, melainkan juga laporan-laporan yang kurang mengenakkan.

Seingat saya, ada masanya aparat pemerintah di negeri ini suka melakukan “ABS” alias “asal bapak senang”. Ada beberapa catatan tentang ini. Pertama, sindiran “ABS” mengasumsikan semua pemimpin atau petinggi atau pejabat atau pengambil keputusan di tingkat atas adalah laki-laki. Rasanya dulu memang demikian. Tentu saja sekarang sudah bukan jamannya lagi. Di masa kepemimpinan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, meski belum pernah menunjukkan secara eksplisit pandangan politiknya tentang kemajuan dan gerak perempuan Indonesia, Presiden beberapa kali cukup mengejutkan publik dengan pilihan-pilihan personel perempuan pada era kepemimpinannya. Sebut saja usaha Presiden untuk menempatkan delapan orang srikandi dengan jabatan menteri di kabinetnya. Hingga yang terakhir, mengangkat sembilan orang srikandi sebagai panitia seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kedua, istilah “ABS” muncul sebagai bentuk kekecewaan rakyat karena aparat pemerintah di level yang bersentuhan dengan akar rumput, tak pernah berani atau sengaja tak mau mengangkat persoalan ke hadapan pemimpin, untuk diperhatikan dan dicarikan solusinya. Tak heran ibarat penyakit, banyak permasalahan yang semestinya bisa dicegah, akhirnya baru diketahui ketika sudah kronis atau bahkan sudah menimbulkan korban jiwa dan banyak kerugian.

Ketiga, dari sisi pemimpin, istilah “ABS’ juga nampaknya berangkat dari pemahaman dan pengalaman bahwa ada pemimpin yang memang sengaja tak mau tahu kenyataan riil atau masalah yang sebenarnya terjadi. Karena asumsi ini, para bawahan dari pemimpin atau pejabat ini langsung meminggirkan dan memasukkan ke dalam laci, jika menemukan permasalahan yang nyata-nyata dihadapi masyarakat.

Kembali ke soal “ABS”, sepertinya poin kedua dan ketiga masih terjadi hingga sekarang. Ada saja aparat yang secara psikologis merasa mesti selalu memperlihatkan yang bagus-bagus atau yang baik-baik kepada pimpinannya. Padahal, masalah jelas-jelas tengah berlangsung.

Alangkah mengerikannya jika fenomena “ABS” masih terjadi hingga detik ini, apalagi jika terjadi tidak hanya di kalangan aparat pemerintah, tetapi juga terintegrasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam perenungan saya, cara pikir dan pada akhirnya cara kerja “ABS” atau “AIS” alias “asal ibu senang”, ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu tinggal tunggu meledak dan membahayakan banyak pihak.

Tidak hanya bicara, mendengar pun konon merupakan seni. Mendengar memerlukan keterbukaan dan kerendahan hati. Seorang pemimpin atau pimpinan yang ingin sungguh-sungguh mendengar, tak bisa menutup diri dari sekian banyak kemungkinan akan informasi yang didengarnya. Selain itu, seorang pemimpin juga perlu melakukan pengecekan terhadap informasi yang didengarnya. Proses cek dan ricek ini diperlukan agar informasi yang diterima tidak hanya dari satu sumber, melainkan melalui proses verifikasi menyeluruh, termasuk mendengar suara-suara yang dipinggirkan.

Dalam mendengar, pemimpin yang amanah tidak defensif, apalagi merasa diserang. Seorang pemimpin yang bijak biasanya memandang kegiatan mendengar sebagai proses belajar memahami permasalahan. Dengan modal ini, para pemimpin bijak tak mudah diprovokasi, apalagi dihasut. Mereka dengan tenang dan jernih akan belajar memahami masalah, memverifikasinya, menganalisanya, dan menemukan alternatif penyelesaian masalah.

Jujur saja, baru-baru ini saya bertemu seorang pemimpin yang demikian. Seorang pemimpin di salah satu unit program dalam sebuah lembaga. Tahu ada kasak kusuk permasalahan, sikap pertama yang diambilnya adalah mendengar dan memverifikasi. Setelah itu, ia tak sungkan mengatakan mana yang benar dan salah.

Saya pikir sekarang era negeri ini tengah bergerak menuju demokrasi yang mendewasa. Dengan kata lain, pemimpin atau pejabat yang amanah tak hanya perlu bicara, tapi perlu sungguh-sungguh mendengar. Tak perlu selalu senang karena pujian, sebaliknya perlu terbuka mendengar kritikan.

Miris melihat masih ada pemimpin atau pejabat yang pokoknya mau disenangkan saja. Tapi saya juga miris melihat orang yang masih berpikir bahwa pejabat atau pemimpin sekarang ini hanya senang mendapat informasi yang membuat mereka “asal senang”! 

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

http://www.sinarharapan.co/news/read/150808018/asal-senang

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Hak Asasi Perempuan dan Pembangunan
Menerima Kritik

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!