Menerima Kritik


R. Valentina Sagala

 

Tulisan dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 1-2 Agustus 2015

 

Ada yang mengatakan, dunia politik tak pernah lepas dari kritik. Hari ini orang yang memuji kita bahkan bisa menjadi pengkritik paling tajam di hari lain. Sebaliknya, bukan tak mungkin orang yang paling sering menghujani kita dengan kritik pedas, justru suatu waktu yang berbeda memberi pujian untuk kita.

Belum lama ini Presiden Joko “Jokowi” Widodo misalnya, kembali dikritik karena mengeluarkan dan seketika langsung melakukan revisi terhadap peraturan tersebut (Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Jaminan Hari Tua). Publik pun mempertanyakan bagaimana pemerintah bisa mengeluarkan peraturan dan kemudian dengan cepat merevisi peraturan tersebut.

 Kritik mengkritik tidak cuma terjadi dalam dunia politik. Dalam pergaulan sehari-hari, seseorang pastilah pernah mengalami dikritik. Sebagai makhluk sosial yang berkomunikasi dan berinteraksi sosial, sepertinya kita tidak dapat menghindar dari kritik.

Salah satu sumber menyebut, kritik berasal dari kata “kritein” yang berarti “hakikat”, “substansi”, “pokok persoalan”. Kritik merupakan sebuah usaha menunjukkan hakikat sesuatu hal dari sisi kekurangannya, dengan tujuan yang baik yaitu agar hal kekurangan tersebut dapat diperbaiki oleh pihak yang dikritik.

Memang tak pernah ada aturan baku apakah seorang pengkritik harus menampilkan solusi bersama dengan kritiknya. Namun beberapa kalangan berpendapat, alangkah lebih bijaknya jika kritik disampaikan bersama dengan solusi atau saran yang membangun.

Ada yang mengatakan, prinsip kritik adalah melihat sisi negatif dan bukan melihat sisi positif.  Tujuan melihat sisi negatif atau kurang baik itu, agar sesuatu yang negatif bisa menjadi positif. Jadi tujuan semua kritik pada prinsipnya semestinya ke arah yang lebih baik alias kebaikan.

Kritik pada prinsipnya dilakukan dengan cara menunjukkan kekurangan agar kekurangannya diperbaiki, khususnya oleh pihak yang dikritik. Kita kerap mengenal kritik dalam dua bentuk. Pertama, kritik konstruktif. Kritik ini merupakan kritik dengan tujuan membangun. Kedua, kritik destruktif, yaitu kritik dengan cara menunjukkan kekurangan, namun cenderung merusak, menjatuhkan atau menghancurkan.

Apapun yang kita lakukan bisa mengundang kritik, baik itu kritik yang membangun atau yang menghancurkan. Suami saya bilang, jika kita diam sekalipun, bisa saja ada kritik yang terlontar dari orang lain terhadap kita. Hmm… .

Kali ini saya hendak merenungkan perkara menerima kritik. Pertanyaannya, bagaimanakah sikap kita dalam menerima kritik? Apakah saya membuka hati untuk menerima kritikan dari orang lain?

Seorang kenalan saya yang “merasa” dikritik baru-baru ini marah besar. Setelah saya tanya, ternyata kritik itu tidak didengarkan langsung dan bahkan tidak ditujukan kepadanya. Tapi dia “merasa” dikritik. Saya sarankan kenalan saya itu untuk berbicara langsung dengan pihak yang diduganya mengkritiknya. Dia menolak usulan saya. Alasannya, dari dulu memang si pengkritik menurutnya adalah seorang “haters”-nya atau orang yang membencinya.

Seketika saya pun sadar, perkara menerima kritik memang bukanlah hal yang mudah. Pertama, dalam soal kritik, orang cepat  memposisikan siapa pengkritik. Jika pengkritik adalah orang yang tak berkenan atau dikategorikan sebagai bukan “di barisannya”, maka seolah menurunlah kualitas isi kritik yang disampaikan. Padahal, ada kata-kata bijak, don’t judge the book by its cover.

Kedua, banyak orang tak terbiasa menerima kritik sebagai bagian dari proses mendengarkan orang lain. Proses mendengarkan orang lain amatlah penting, karena sebagai manusia kita juga memiliki keterbatasan. Manusia tidak sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itu, mendengarkan orang penting sebagai bagian dari mawas diri. Kritik bisa digunakan untuk terus membangun diri kita ke arah yang lebih baik, sehingga kita dapat terus bertumbuh dan berbuah.

Betapa kerdilnya orang yang tak mau menerima kritik. Orang-orang sejenis ini biasanya mudah berpikir negatif tentang orang lain dan selalu menganggap dirinya yang paling benar, hebat, dan paling mampu. Itu mengapa, ketika dikritik karena hal tidak benar yang dilakukan, yang timbul adalah kemarahan.

Dalam perenungan saya, kritik yang membangun dapat mengubah seseorang menjadi baik. Maka mungkin, ketika kita menerima kritik yang membangun yang ditujukan untuk kita, tak perlu buru-buru kesal atau murka. Jangan-jangan, ada baiknya kita berterima kasih.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

http://www.sinarharapan.co/news/read/150801036/menerima-kritik

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Asal Senang
Kesempatan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!