Kesempatan


R. Valentina Sagala

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 11-12 Juli 2015

 

Yang masih ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Kesempatan adalah hadiah terindah bagi mereka yang telah melewati Kata orang, kesempatan tak datang setiap saat. Kesempatan bahkan, tak datang dua kali. Maka jika kesempatan datang ke hadapanmu, ambilah kesempatan itu. Demikian lanjutan kata bijak yang biasa kita dengar.

Tentu saja ada baiknya kesempatan yang dimaksud, adalah kesempatan untuk berbuat baik. Meski tak bisa ditampik, seringkali “kesempatan” untuk berbuat jahat juga bisa sewaktu-waktu menghinggapi momen tertentu dalam perjalanan hidup kita.  Saya ingat sewaktu duduk di bangku sekolah dulu, sering Ibu dan Pak Guru menasihati agar para siswa tak mencari-cari kesempatan untuk menyontek. Ya, kesempatan juga bisa dicari-cari.

Kesempatan kedua juga selalu ada bagi mereka masa-masa kelam, menyesalinya, dan ingin melangkah pada kehidupan yang lebih baik.

Ketika saya dewasa, ada juga pernah saya dengar orang berkata, kesempatan itu harus diciptakan, bukan cuma ditunggu. Karena konon kalau ditunggu-tunggu, kesempatan belum tentu akan mampir.

Kali ini saya terdorong merenungkan kesempatan berbuat baik. Seberapa sering sebenarnya kita sebagai manusia memiliki kesempatan untuk berbuat baik? Apakah kesempatan untuk berbuat baik hanya datang sesekali dalam kehidupan kita?

Dalam hal siklus kehidupan, ada banyak orang yang cenderung  berpikir “konvensional”. Mereka umumnya memandang hidup akan bergerak dari bayi, balita, anak-anak, dewasa, tua, dan meninggal dunia. Urut-urutan kehidupan pun seolah linear, bahwa kehidupan akan berawal dari kelahiran seorang bayi hingga dewasa, menua, dan kembali kepada Tuhan.

Saya pun tadinya termasuk orang yang berpikir demikian. Saat saya masih kanak-kanak, saya sudah “menabung” mimpi bagaimana saya nanti ketika dewasa, baik pekerjaan, kehidupan sosial, maupun keluarga saya. Ketika menginjak dewasa, pastilah saya mulai memikirkan bagaimana hari tua saya akan saya habiskan. Sebagian orang tua yang saya temui, sering telah menyusun impian bagaimana mereka akan dimakamkan kelak.

Hingga suatu ketika, saya ingat ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Aceh saat tsunami menerjang di bulan Desember 2004. Saya menyaksikan harta benda hilang sekejap, nyawa berpulang pada Tuhan, bangunan tinggal puing-puing. Saya tiba-tiba disadarkan betapa kecilnya saya, dan bahwa saya sesungguhnya tengah berada pada “masa penantian”.

Sejak pengalaman itu, saya menjadi sadar bahwa hidup tak selamanya seperti yang kita bayangankan dan harapkan. Kita tak pernah tahu kapan kehidupan kita akan berakhir, sama halnya kita tak pernah tahu kapan pekerjaan yang kita miliki, mungkin akan hilang esok; atau kita tak pernah tahu orang-orang yang kita kasihi yang berada di sekitar kita saat ini, mungkin dipanggil Tuhan sesaat lagi.

Karenanya, setiap detik kehidupan sesungguhnya adalah kesempatan untuk berbuat baik. Ya, setiap detiknya, baik dalam suka maupun duka, senang maupun susah. Faktanya kita tahu bahwa saat kita sedang sedih atau kecewa pun, kita bisa tetap berbuat baik bagi sesama, minimal kepada orang-orang yang terdekat dengan kita. Sebagaimana hidup adalah anugerah, hidup adalah kesempatan untuk berbuat baik. Dan kesempatan berharga yang kita miliki adalah menjangkau orang-orang yang menderita yang membutuhkan pertolongan kita.

Berbuat baik bagi sesama pada prinsipnya adalah panggilan nurani kita atas mensyukuri kehidupan yang kita terima dari Tuhan.

Dalam perenungan saya, kesempatan untuk berbuat baik tidak datang saat kita berada di puncak karir, di bangku kekuasaan teratas, dan sebagainya. Kesempatan berbuat baik selalu hadir di setiap detik kehidupan kita, dimulai dengan orang-orang di sekitar kita. Tak perlu menunggu nanti, besok, lusa, tahun depan, tahun depannya lagi, dan seterusnya. Kesempatan itu adalah sekarang.

Kehidupan sesungguhnya adalah “masa penantian” menunggu datangnya batas akhir hidup kita di dunia. Tak seorang pun tahu kapan batas akhir kehidupan itu, kapan kita berpulang pada Tuhan. Dengan kata lain, kita berada pada masa-masa “kesempatan”.

Oleh karena itu, selayaknyalah kita menggunakan kehidupan (kesempatan) yang ada dengan sebaik-baiknya. Lihatlah sekeliling kita dengan mata hati yang bersih. Jangan tunda berbuat kebaikan, mumpung masih ada kesempatan. Sekarang!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota  dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

Link:

http://www.sinarharapan.co/news/read/150711092/kesempatan

 

Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan, 

For Justice, Equality, and Humanity, 

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135 

Jawa Barat, INDONESIA 

Tel./Fax. +62.22.2516378 

Email: institut_perempuan@yahoo.com 

Website: www.institutperempuan.or.id

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html) ; 

(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html) 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Menerima Kritik
Anak Perempuan yang (Di)kawin(kan)

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!