Mei 1998


R. Valentina Sagala

 

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 23-24 Mei 2015

 

Minggu lalu, sahabat saya sejak kuliah dulu, Uly Siregar, mampir ke kediaman mungil saya dan suami. Bertemu setelah sepuluh tahun lalu dipisahkan oleh jarak Amerika Serikat-Indonesia, membuat kami menikmati saat-saat ini. Di antara sekian banyak perbincangan itulah, ingatan kami kembali pada pengalaman Mei 1998.

Tahun 1996, selepas lulus dari SMA Santa Ursula, saya hijrah ke Bandung memulai kehidupan sebagai mahasiswa. Saya termasuk “beruntung” bisa bertemu dengan teman-teman aktivis mahasiswa kritis, termasuk sahabat saya ini, yang sudah beberapa tahun lebih dulu mengecap bangku kuliah dan aksi mahasiswa.

Tahun-tahun itu tidaklah sama dengan sekarang. Jaman Orde Baru dulu, mahasiswa tak bisa bertanya apa saja. Berkumpul sedikit mengkritik pemerintah, pasti ditangkap. Apalagi jika judulnya kegiatan politik. Unit-unit kegiatan kampus yang giat membuka ruang-ruang diskusi kritis juga selalu didatangi intel. Belum lagi jaman itu di kampus ada Resimen Mahasiswa (Menwa) yang dengan gayanya yang gagah mentereng sering petantang petinting di kampus bak tentara. Tentara “beneran” lebih lagi arogan tingkahnya. Menakutkan.

Saya ingat bagaimana saya dan teman-teman membangun Free-School tiap Jumat malam, mendiskusikan buku-buku penting dan masalah-masalah sosial-politik yang melanda negeri. Aktivis mahasiswa juga dekat dengan kelompok tani dan buruh, ikut memperjuangkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Boleh dibilang dibanding mahasiswa secara umum, aktivis mahasiswa di jaman saya dulu masih jadi “minoritas”. Sedikit tapi ada. Tak banyak tapi bukan berarti tak bisa mengorganisir massa.

Tahun 1998 krisis ekonomi politik melanda negeri ini. Harga sembako melambung tinggi. Ada anak yang ditangkap karena mencuri nasi. Mantan presiden Soeharto beserta kroni-kroninya hidup bermewah-mewah bak raja, sementara rakyat kecil tak sanggup beli susu untuk anak-anak mereka. Konflik agraria ada di mana-mana karena banyak tanah dirampas penguasa, termasuk untuk lapangan golf.

Lalu datanglah bulan yang mengerikan itu. Mei 1998. Kerusuhan melanda Jakarta, Bandung, dan beberapa kota besar lainnya. Tubuh perempuan menjadi sasaran. Tim Gabungan Pencari Fakta Mei 1998 memverifikasi adanya 85 perempuan korban kekerasan seksual, dengan rincian 52 orang korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 korban penyerangan dan penganiayaan seksual, dan sembilan korban pelecehan seksual.

Sebagian sahabat saya yang beretnis Tionghoa harus menyelamatkan diri dengan berpindah ke luar negeri, meninggalkan bangsa yang sangat mereka cintai.

Saya ingat, beredar isu untuk memberi tanda di depan rumah, agar rumah kita tak jadi sasaran kerusuhan, apalagi perkosaan. Beramai-ramai orang membuat tanda. Informasi serba simpang siur.

Mei 1998 adalah tragedi yang sampai sekarang masih meninggalkan rasa sesak di dada saya. Banyak nyawa yang hilang, orang-orang yang “dihilangkan” tanpa kejelasan dimana rimbanya, serta luka-luka perempuan yang martabatnya diluluhlantahkan lewat kekerasan seksual –bahkan disaksikan oleh ayah atau saudara mereka-.

Tujuh belas tahun berlalu, keadilan bagi korban, khususnya perempuan korban belum benar-benar terwujud. Pengakuan dan penuntasan kasus, itulah yang ditunggu korban dan keluarganya. Transisi masa Orde Baru-Reformasi 1998 dan sesudahnya tak boleh lupa pada tragedi kemanusiaan Mei 1998. Tragedi ini pulalah yang mendorong para aktivis mahasiswa memanaskan aksi-aksi jalanan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makasar, dan kota lainnya.

Sebagian besar dari para aktivis mahasiswa 1998 kini tetap berkiprah di gerakan sosial-politik. Saya dan sahabat saya mencoba mengingat-ingat lagi teman-teman kami dulu. Ada yang sudah menjadi pengamat politik, anggota parlemen, pakar bidang keamanan dan militer, wartawan, produser, dan lain sebagainya. Dengan waktu terbatas dan jarak yang tak mudah untuk bertemu, kami sering bersua cuma lewat online. Konon ada yang kini telah bersebrang-sebrangan, meski ada juga yang tetap beriringan. Sebagian terus menjaga ingatan menuntut pengakuan terjadinya tragedi Mei 1998.

Dalam perenungan saya, ingatan bisa jadi menjadi harta yang berharga bagi tiap orang dalam persahabatan, bahkan sebuah bangsa. 

Oleh karena itu, sesedikit apapun, menurut saya penting untuk memelihara ingatan, termasuk ingatan akan kepahitan yang pernah menimpa negeri ini. Dari situ kita bisa mengingat diri, berefleksi, dan melangkah menjadi lebih baik! 

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan,

For Justice, Equality, and Humanity,

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

 

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
A DECLARATION OF COMMITMENT TO END SEXUAL VIOLENCE IN CONFLICT
Palsu

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!