Palsu


R. Valentina Sagala

 

Dimuat dalam Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 30-31 Mei 2015

 

 

Bulan lalu ditemukan beredar beras “palsu” berupa beras asli bercampur dengan plastik di beberapa kota di Indonesia. Mengerikan.

Bicara palsu, di beberapa negara yang pernah saya kunjungi, saya sering mendengar banyaknya beredar barang palsu. Barang palsu ini beraneka ragam, mulai dari tas, sepatu, kaca mata, jam tangan, pakaian, parfum, hingga kosmetik. Semuanya kebanyakan bermerek.

Fenomena barang palsu bukanlah hal baru. Tak cuma Indonesia, beberapa negara lain seperti China, Thailand, Laos, Myanmar, juga dikenal dengan peredaran barang-barang bermerek palsu.

Di Hong Kong saya bahkan pernah melihat turis dari negeri China berbondong-bondong memborong kalengan botol susu. Konon di Hong Kong susu kaleng itu lebih dipercaya keasiliannya dibanding di negeri China.

Kata sebagian besar orang yang saya kenal, Indonesia surganya barang palsu. Tas bermerek sejenis Gucci, Louis Vuitton, Chanel, Prada, hingga Hermes sekalipun bisa ditemukan palsunya di negeri ini. Ada yang KW-3, KW-2, hingga KW-1 yang katanya semakin ke sini semakin mirip aslinya. Tak cuma itu, ada juga kualitas “super” yang dengar-dengar sebelas dua belas dengan yang asli. Artinya, jika dilihat dengan mata telanjang, amatlah sulit menemukan perbedaan antara mana yang palsu dan yang asli. 

Menemukan tempat menjual barang-barang palsu di Indonesia pun tidaklah pekerjaan yang sulit. Cukup banyak pertokoan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Medan, memiliki penjual dan pelanggan barang-barang seperti ini. Pasar-pasar tradisional juga tak ketinggalan banyak menjual barang-barang palsu. Pembelinya? Banyak orang.

Artinya, jangan mudah mengklaim bahwa mental menyukai barang palsu hanya jadi milik orang-orang menengah ke atas. Mereka yang hidup di kalangan menengah ke bawah juga senang dan menikmati menghabiskan uang berbelanja barang-barang palsu.

Simak juga fenomena membeli VCD atau DVD bajakan. Tak hanya kalangan menengah ke bawah, tapi menjangkau rasa ingin membeli kalangan orang berduit.

Artinya, perkara tergerak membeli atau memiliki barang-barang palsu bukanlah hanya terjadi di kalangan orang tak beruang, melainkan bisa kalangan manapun. Alasan seseorang menyukai atau setidaknya pernah ingin membeli barang palsu juga tentu saja amat beragam. Ada yang bangga, nyaman, hingga merasa dirinya sampai pada tingkat kehidupan tertentu.

Tapi bicara tentang palsu, saya jadi teringat dengan kepalsuan yang lain. Ada juga orang-orang yang sukanya bermuka palsu, pura-pura manis di depan padahal di belakang busuknya minta ampun. Demikian juga orang yang senang bicara yang indah-indah tentang sesuatu hal, padahal dia tahu persis bahwa hal yang dibicarakannya tidaklah benar.

Belum lama ini ada orang bertingkah sebagai dokter kecantikan palsu, berijazah palsu, berstatus perjaka palsu, dan seterusnya. Sampai-sampai pernah teman saya bercanda tentang kebingungannya melihat mana paras perempuan yang asli dan palsu, saking merajelalanya klinik kecantikan memperbaiki wajah.

Dalam perenungan saya, kepalsuan yang semakin merajalela kini tak terbatas pada apa yang kita “pakai”, melainkan juga yang ada di dalam diri kita masing-masing (within ourselves).

Karena sudah terbiasa hidup di dunia yang serba palsu, banyak pejabat cakap bicara yang manis-manis untuk menutupi kebobrokan yang sesungguhnya terjadi. Isteri lebih suka menampakkan senyum di wajah, padahal menyimpan sakit hati dan penderitaan atas kehidupan rumah tangga yang tengah dijalani. Bapak bicara tentang kejujuran pada anak-anaknya, sementara ia korupsi. Jadi ada juga janji palsu dan harapan palsu.

Di dunia yang serba permukaan, dimana kepalsuan sudah jadi kelumrahan, menumbuhkan kemurnian adalah tantangan bagi kita semua. Kita memerlukan orang-orang yang tulus dan berani menjadi pribadi yang unik dan utuh, bukan pribadi yang palsu.

Menurut nasehat orang tua, sepandai-pandainya seseorang menyimpan kepalsuan, pada akhirnya akan telanjang juga. Namanya juga palsu, tak akan abadi.  

Sementara itu, janganlah terlalu mudah percaya pada hal luar biasa yang ditampilkan atau dibicarakan seseorang, sebelum kita benar-benar mempelajari dan memeriksanya dengan seksama. Jangan cepat terkesima pada apa yang tampak dari luar. Jangan pula segera terkagum-kagum pada gegap gempita kecakapan dan kemampuan orasi seseorang. Jangan-jangan itu semua palsu!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan,

For Justice, Equality, and Humanity,

INSTITUT PEREMPUAN - WOMEN’S INSTITUTE

Jl. Dago Pojok No. 85, Rt.007/Rw.03, Coblong, Bandung 40135

Jawa Barat, INDONESIA

Tel./Fax. +62.22.2516378

Email: institut_perempuan@yahoo.com

Website: www.institutperempuan.or.id

Twitter: @Instperempuan

Facebook: Institut Perempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Mei 1998
Hukuman Mati

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!