Berkorban


 R. Valentina Sagala

 Dimuat di Harian Sinar Harapan Edisi 9-10 Mei 2015

Dulu semasa hidupnya almarhum anak kami yang berumur enam tahun tiba-tiba mengeluarkan kata “berkorban”. Sambil menyerukan kata itu, ia minta saya kelitik perutnya. Padahal jelas dia akan kegelian sampai ampun-ampun.  Saya tanya, kenapa dia mengatakan “berkorban”. Dia jawab, kakaknya yang mengajari. Kalau kakaknya sedang mengelitik perutnya hingga ia mengeliat kegelian, itulah artinya ia “berkorban”.

Anak-anak kecil sungguh lucu. Ada-ada saja tingkahnya. Dunia anak kecil luas tak terbatas. Orang dewasa perlu ikut menjaganya agar tak berakibat fatal bagi pendidikan dan kehidupan mereka kelak.

Tentang berkorban, orang biasanya ramai membicarakannya jelang peringatan Hari Pahlawan. Sebab pahlawan digambarkan sebagai seseorang yang rela mengorbankan jiwa raga bagi sesuatu yang diperjuangkannya. Pahlawan perang kemerdekaan misalnya, adalah mereka yang sampai kehilangan nyawa karena memperjuangkan kemerdekaan.

Guru sering disebut sebagai profesi pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini karena guru dipandang berkorban jiwa raga untuk mendidik murid-muridnya, yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa. Dan sang guru konon tak pernah mendapat tanda jasa.

Hal berkorban selalu memenuhi pikiran saya sejak kecil. Di sekolah minggu atau pelajaran agama misalnya, ihwal pengorbanan terbesar dalam hidup saya adalah pengorbanan Yesus Kristus disalibkan dan mati di kayu salib, demi menyelamatkan umat manusia, termasuk saya.

Pelajaran tentang berkorban saya pikir perlu ditularkan kepada siapa saja. Salah satunya agar ingat bahwa keberhasilan kita tidaklah semata karena kehebatan dan kecakapan diri sendiri. Saya rasa selalu ada pengorbanan orang lain, sekecil apapun kontribusinya.

Untuk bisa bekerja di sektor publik misalnya, seorang ayah harus mendapat dukungan dari keluarganya. Demikian pula sebaliknya bagi seorang ibu yang harus mencari nafkah keluarga. Guna merawat dan mendidik anak-anak terkasih, orang tua harus bekerja ekstra keras, menyediakan waktu dan energi khusus untuk tak ketinggalan kesempatan bertumbuh bersama anak-anak mereka.

Ada banyak pengorbanan dalam hidup, baik yang terlihat maupun yang tak terlihat secara kasat mata. Menyadari bahwa selalu ada orang lain yang berpartisipasi dalam kehidupan kita, adalah salah satu cara mengingat bahwa kita bukanlah sang maha yang serba hebat, mampu, bahkan serba benar.

Dalam dunia yang semakin “terbuka” seperti sekarang ini, ruang untuk menyombongkan diri semakin terbuka pula. Seringkali kerja atau keberhasilan bersama, kita klaim sebagai “karena saya”. Padahal ada banyak orang yang ikut serta menyumbangkan bagiannya untuk itu.

Manusia mungkin memang memiliki kecenderungan berfokus pada dirinya sendiri. Ini yang kerap membuat kita tak mudah benar-benar memahami arti berkorban.

Satu hal yang selalu saya ingat, seseorang yang berkorban, tak akan pernah mengingat-ingat pengorbanan yang diperbuat atau diberikannya. Mereka tidak pamrih. Orang-orang yang berkorban dengan tulus tak suka berteriak-teriak, “Saya sudah berbuat A, B, C, dan seterusnya.” Mereka tak gemar mengingat-ingatkan orang lain tentang pengorbanan yang telah dilakukannya. Mereka anti berkata, “Saya yang selama ini telah melakukan A, B, C, untuk organisasi kita.” Atau berseru, “Saya yang sudah selama ini mengorbankan karir demi keluarga kita.”

Berkorban saya pikir memang sebaiknya sesuatu yang berasal dari hati yang tulus iklas. Orang-orang sejenis ini tak pernah ambil pusing apa untungnya perbuatan mereka bagi diri mereka sendiri. Mereka tulus berbuat atau tidak berbuat sesuatu karena panggilan hati nurani mereka mengarahkan mereka demikian. Tak pernah terpikirkan, nama mereka satu hari akan dielu-elukan.

Dalam perenungan saya, orang-orang yang berkorban dengan tulus belum tentu mereka yang sering muncul di depan sorotan kamera dan publik. Mereka juga sepertinya bukan orang-orang yang selalu mengagumkan dirinya sendiri sebagai orang yang paling berjasa, benar, dan berperan dalam suatu hal.

Orang-orang yang berkorban dengan tulus kemungkinan besar adalah orang-orang di sekeliling kita yang sering terlupakan dan tak terlihat kontribusinya bagi kehidupan kita. Mereka bukan orang yang sering menghitung-hitung apa yang telah diperbuatnya. Mereka jelasnya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan untuk orang lain, lalu melupakannya, kemudian berbuat kebaikan lagi, melupakannya, dan berbuat kebaikan lagi bagi orang lain.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Sistem Kafala di Negara Timur Tengah: Akar Masalah Penindasan terhadap PRT Migran
Undangan Aksi “Catatan Hitam Buruh Perempuan”

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!