Pribadiku Politikku


R. Valentina Sagala

 

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 25-26 April 2015

 

 

Bagi masyarakat Indonesia, tanggal 21 April yang lalu, seperti tahun-tahun sebelumnya, diperingati sebagai Hari Kartini. Kegiatan seremonial berlangsung di mana-mana. Di sekolah-sekolah, anak-anak perempuan diwajibkan berkebaya dan bersanggul layaknya penampilan fisik Ibu Raden Ajeng Kartini. Kantor-kantor dan bank juga mewajibkan para pegawai perempuannya, setidaknya bagian resepsionis, memakai kebaya, kain panjang, dan tentu saja lengkap dengan sanggul di kepala. Beberapa orang polisi perempuan (istilahnya: polisi wanita, disingkat: polwan) membagi-bagi sekuntum bunga mawar merah pada pengendara kendaraan di beberapa jalan-jalan utama. Demikianlah sedikit gambaran suasana peringatan Hari Kartini tahun ini. Tak banyak berbeda dengan tahun-tahun yang lalu.

Sebagian aktivis perempuan memperingati hari ini dengan mengeluarkan sejumlah pernyataan pers. Ada yang mengkritik pelaksanaan Nawa Cita, dokumen visi dan misi Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf  Kalla, menuntut rancangan undang-undang agar segera dibahas dan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden, menuntut hukuman mati dihapuskan, dan lain sebagainya. Media sosial tak kalah meramaikan Hari Kartini. Sejak pagi hari berbagai pesan, harapan, juga kritik ramai dengan tagar #HariKartini, #kartiniday dan #perempuan.

Peristiwa yang tidak kalah penting adalah protes pemerintah Indonesia terhadap Arab Saudi ihwal eksekusi hukuman mati salah seorang buruh migran perempuan Indonesia, Siti Zainab. Protes ini ditanggapi dingin dari banyak kalangan pembela hak asasi manusia, mengingat Indonesia sendiri hingga saat ini masih, -bahkan semakin keras-, memberlakukan hukuman mati dalam sistem hukumnya.

Saya tak ingin menjebakkan diri dalam pro-kontra berbagai seremoni seputar Hari Kartini. Peringatan Hari Kartini tahun ini, saya tiba-tiba ingin mengingat kembali frasa “the personal is political” atau pribadiku adalah politikku.   

Sejak bertahun-tahun lalu gerakan feminis dunia telah memperkenalkan “the personal is political”, yang merupakan frasa yang pertama kali dipublikasikan oleh Carol Hanisch dalam bukunya “Notes from the Second Year” (1970). Ungkapan ini kemudian menjadi rumusan penting yang menolak rekayasa patriarki dalam mendikotomikan wilayah “publik” dengan “privat” dan “personal” dan “politik”. Dengan kata lain, frase ini merupakan pernyataan bahwa pribadi (diri sendiri) bersifat politis.  Politik yang dimaksud dalam konteks  ini bukan hanya lembaga dan proses-proses di tingkat negara seperti menjadi anggota partai politik atau menjadi anggota parlemen. Politik dalam makna luas juga berarti hubungan pribadi laki-laki atas perempuan sebagai kelas sosial.

“Personal is political” menekankan basis psikologis penindasan patriarkis yang mengakibatkan penderitaan dan ketidakadilan bagi perempuan dan kelompok-kelompok tertindas lainnya. Catherine MacKinnon, seorang pengacara, pengajar, penulis, dan aktivis feminis, menyatakan bahwa frasa ini menciptakan hubungan langsung antara sosialitas dan subyektivitas sehingga memahami politik situasi perempuan berarti memahami kehidupan pribadi perempuan.

Sejauh mana sikap hidup saya sudah sejalan dengan nilai-nilai yang saya anut dan pegang erat. Jika saya menginginkan perdamaian, sudahkah saya berupaya hidup damai dengan orang-orang terdekat di sekitar saya sehari-hari? Jika saya bicara keadilan, sudahkah saya bersikap adil dalam tindak tanduk saya sehari-hari? Jika saya meneriakkan kemanusiaan, sudahkah saya menghormati martabat kemanusiaan orang-orang terdekat saya sehari-hari.

Dalam perenungan saya, seringkali kita terlalu mudah mengkritik orang lain, namun demikian sulit membongkar diri kita sendiri. Muak rasanya melihat seseorang yang pandai bicara, -bahkan sampai berbusa-busa-, tentang A sampai Z, tapi dalam tindak tanduknya kepada orang-orang di dekatnya, justru minus alias memprihatinkan. Sedih melihat perempuan bicara demokrasi, sementara dalam kehidupannya sehari-hari ia menindas perempuan lain.

Pribadi adalah akar. Mereka yang minus dalam pribadinya, sesungguhnya rapuh dalam berpolitik. Mereka cuma suka mengkritik di luar dirinya dan enggan memeriksa diri sendiri. Pemeriksaan diri sendiri dibutuhkan untuk mengoreksi dan memperbaiki diri agar lebih baik lagi.

Saya pikir ada baiknya mengenang Hari Kartini juga sebagai ajakan kecil untuk berefleksi pribadi. Pribadi adalah nyawa. Bagaimanakah pribadiku kokoh dan kuat untuk melangkah demi perubahan yang lebih besar di luar diriku. Sebab bukankah semuanya berawal dari satu langkah kecil? Saya pikir, kita butuh langkah pribadi yang tangguh, bukan omongan besar yang rapuh!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

 

INSTITUT PEREMPUAN

Jl. Dago Pojok No. 85 Rt. 007/Rw. 03

Coblong, Bandung 40135, Jawa Barat, Indonesia.

Phone/facs: +62.22.2516378

Email : institut_perempuan@yahoo.com

Website : www.institutperempuan.or.id

Facebook: Institut Perempuan

Twitter: @Instperempuan

(http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/22/personal-political-valentina-sagala.html)
(http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/10/rotua-valentina-sagala-a-loving-feminist.html)


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!