Mewujudkan Perlindungan Bagi Perempuan dan Anak Perempuan Korban Kekerasan di ASEAN melalui Penguatan Mandat Perlindungan AICHR


Pada 27-28 Maret 2015, INSTITUT PEREMPUAN menghadiri Regional Consultation Strengthening AICHR’s Protection Mandate by Exploring Strategies  to Protect Women and Girls from Violence in ASEAN”. Acara ini diinisiasi oleh Perwakilan Filipina untuk AICHR dan didukung oleh Pemerintah Filipina. Tujuan dari acara ini adalah untuk memetakan isu kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan dan mendiskusikan mekanisme perlindungan pada tubuh AICHR untuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di tingkat ASEAN.

 

AICHR berdiri berdasarkan Joint Communique ke 26 antara Menteri Luar Negeri se-ASEAN pada 1993, yang menghasilkan beberapa komitmen, dua diantaranya berisi komitmen atas pemajuan Hak Asasi Manusia di ASEAN. Mekanisme kerja AICHR diatur dalam TOR (Term of Reference) AICHR yang diadopsi dalam ASEAN Foreign Minister Meeting pada Juli 2009. Selama ini AICHR tidak dapat menjalankan mandat yang lebih besar untuk memajukan HAM di ASEAN karena kewenangannya yang terbatas.

 

Acara ini diinisiasi oleh Perwakilan Filipina untuk AICHR Rosario G Manalo. Harapan ke depan, isu penguatan mandat perlindungan untuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan membuka peluang pada mandat perlindungan AICHR untuk kasus-kasus pelanggaran hak-hak lainnya. Acara pada hari pertama dibuka pleh Ambassador Rosario G Manalo sebagai representasi AICHR Filipina. Kemudian dilanjutkan oleh presentasi Roberta Clark (Regional Director for Regional Office for Asia and Pacific UN Women), dan Levinson Alcantara dari POEA. Levinson Alcantara berbagi/share mengenai pengalaman Filipina dalam mempromosikan hak-hak buruh migran perempuan dalam konteks ACMW dan mainstreaming isu perempuan dari tingkat nasional ke level ACMW. Menurut Alcantara, instrumen ACMW diharapkan sebagai instrumen yang legally binding dan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada pekerja migran dan keluarganya. Filipina melihat ACMW sebagai peluag memberikan perlindungan kepada pekerja perempuan, PRT, dll. Sementara itu, Roberta Clarke dalam presentasinya lebih banyak memaparkan mekanisme perlindungan di regional dan internasional yang mungkin bisa diadopsi oleh ASEAN (misal mekanisme periodical report oleh CEDAW, communication procedure pada CSW, communication and inquiry procedure oleh CEDAW, special rappourteur, dll)

 

Pada sesi In-Country Session dan Cross-Country Session, dipandu fasilitator, peserta mengidentifikasi isu-isu kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan yang membutuhkan respon segera, seperti PRT, buruh migran, perempuan di kelompok minoritas, LBTI, dll. Setelah itu di tiap negara mempresentasikan ke seluruh peserta atas masalah-masalah yang dihadapi di tiap negaranya.

 

Pada hari kedua, peserta mendiskusikan hal-hal apa yang perlu dimiliki oleh AICHR untuk perlindungan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Beberapa usulan dari peserta menyangkut mekanisme perlindungan untuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan adalah: review terhadap ASEAN Human Rights Declaration, precautionary/preventive Mechanism, human rights cooperation (antara AICHR dan institusi HAM lainnya), complaint mechanism, investigation, inquiry mechanism, reporting mechanism, human rights focal point, special rapporteur on VAWG, dll. Selain itu, ada pula usulan Yuyun Wahyuningrum (HRWG) untuk mengefektifkan mandat AICHR sebagaimana tertuang pada poin 4.10 ToR AICHR “to obtain information from ASEAN Member States on the promotion and the protection of human rights”. Mandat tersebut dianggap membuka peluang untuk digunakan AICHR untuk merespon kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di wilayah ASEAN.

 

Peserta dibagi dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan usulan-usulan terkait mekanisme diatas. Acara ditutup setelah masing-masing kelompok mempresentasikan usulan kelompoknya. Hasil dari acara ini akan diolah digunakan untuk menghasilkan sebuah  strategy paper mengenai strategi perlindungan bagi perempuan dan anak perempuan di ASEAN melalui AICHR.

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Sang Pemimpin
Kekerasan terhadap Perempuan di Kota Bandung

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!