Percakapan Perempuan dan Filsafat


R. Valentina Sagala

Judul Buku : Filsafat Berperspektif Feminis

Penulis : Gadis Arivia

Penerbit : Yayasan Jurnal Perempuan

Tebal : 336 Halaman.

Filsafat Barat yang kita kenal, berkisar pada pengetahuan obyektif, rasio universal, kodrat manusia berakal, dan kehendak bebas yang rasional. Nama dan para filsuf yang akrab di telinga kita, seperti Plato, Aristoteles, Descartes, Hume, Dewey, Wittgenstein, Heidegger, yang berfilsafat dengan “keabsahan, kebenaran, dan keseriusan”, berwajah laki-laki dan maskulin.

Dimanakah perempuan dalam filsafat? Bagaimanakah pandangan filsuf laki-laki tentang perempuan? Apakah pandangan yang disampaikan para filsuf laki-laki tentang manusia, cinta, Tuhan, seks, kerja dan moralitas, merupakan pandangan dengan klaim universal? Apakah filsafat telah ‘menangkap’ suara-suara marjinal di sekelilingnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi menarik jika kita mulai mengaitkan feminisme dan filsafat. Dimanakah suara dan pengalaman ketubuhan dan seksualitas perempuan (her-story) dalam filsafat? Bagaimanakah pemikiran para filsuf perempuan? Mengapakah filsuf perempuan sangat jarang kita dengar, padahal sejak abad ke-17 telah ditemukan karya-karyanya yang membahas persoalan filosofis seperti metafisika, epistemologi, teori moral, filsafat sosial dan politik, estetika, filsafat teologi, filsafat ilmu dan filsafat pendidikan?

***

Tak seperti kaum ‘awam’ yang tak duduk di bangku kuliah filsafat dan jauh dari tumpukan kitab serta diskusi filsafat akademis, wahana teoritis filsafat nampaknya adalah kecintaan Gadis Arivia, sang penulis. Gadis Arivia adalah seorang staf pengajar tetap di Program Studi Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dan Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia (UI). Lahir di New Delhi, 8 September 1964, Gadis belajar filsafat di UI (1989), menyelesaikan studi S2 di EHESS (Ecole Haute Scientifique Sociale), Perancis (1994), dan menyelesaikan Program Doktoral Filsafat di UI pada tahun 2002.

Sebagai hasil penelitian disertasi penulis yang dipertahankan di hadapan sidang akademik UI, buku ini kaya akan pertanyaan kritis reflektif yang mengajak pembaca memandang filsafat bukan dari sesuatu yang selalu masa silam, jauh dari realitas dan terlalu mengawang-awang. Disinilah kemudian feminisme, sebagai sebuah gerakan, teori, dan praksis perempuan yang menyuarakan kebijakan kesetaraan, hak reproduksi, perbedaan seksual, dan ketertindasan perempuan, masuk ke lorong dan sudut-sudut filsafat yang oleh para filsuf laki-laki, meninggalkan kesan menampilkan kebenaran tunggal filsafat dan metanarasi yang kuat sehingga ontologi dan epistemologinya menjadi statis.

Dominasi jumlah filsuf laki-laki dan tradisi Barat yang cenderung bias terhadap perempuan memang sangat jelas terlihat. Gadis menunjukkan hal ini dalam pemaparan sejarah, telaah karya-karya, bahkan “relasi pribadi (private sphere)” filsuf laki-laki dalam pemetaan diskriminasi filsafat terhadap perempuan. Persoalan tidak sekedar berhenti pada kuantitas praktisi filsafat yang mayoritas laki-laki, melainkan juga berkait dengan cara pandang tertentu yang maskulin, hingga menampakkan wajah filsafat yang maskulin.

Simak saja pandangan filsuf-filsuf Yunani, Abad Pertengahan, Abad Modern, hingga Abad ke-20 tentang perempuan yang dikaji Gadis. Mulai dari Plato dengan konsep manusia perempuannya yang sama dengan binatang dan tidak perlu berpendidikan, Aristoteles yang menempatkan laki-laki bebas (free males) sebagai satu kelas manusia yang harus hidup secara penuh dan melihat yang lainnya sebagai alat untuk mencapai tujuannya, Thomas Aquinas yang mengatakan perempuan sebagai defect male, bukan ciptaan dari produksi pertama seperti halnya laki-laki, hingga pernyataan kontroversial Baudrillard bahwa perempuan sebenarnya adalah sebuah permukaan/penampakan.

Tak mengherankan bila filsuf-filsuf perempuan kontemporer menuduh bahwa sepanjang jaman telah ada semacam “siasat” dari filsuf laki-laki untuk menindas perempuan (hal 70). Para feminis menunjukkan bahwa sistim patriarki yang telah dibangun jauh sebelum sistem filosofis yang mapan telah mempengaruhi pemikiran sebagian besar filsuf. Namun yang berat kemudian, para filsuf ini melegitimasikan penginferioritasan perempuan sehingga berdampak pada kehidupan publik.

Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Francis Bacon banyak berargumentasi soal pentingnya perempuan berada di domestik dan berfungsi sebagai makhluk bereproduksi. Filsuf seperti Arthur Schopenhauer dan Friedrich Nietzsche, berargumentasi akan sifat perempuan yang memang sudah buruk. Friedrich Nietzsche bahkan bersikeras bahwa perempuan memiliki mentalitas budak.

***

Pada akhir abad ke-19 para feminis (laki-laki dan perempuan) mencoba mendefinisikan perempuan melalui pendekatan kesadaran feminis. Para feminis bertanya, apa benar filsafat telah memberikan pandangan mendalam dan menyeluruh bagi persoalan-persoalan kehidupan maupun akademis?

Mereka menyimpulkan bahwa pada kenyataannya, pemunculan filsafat Barat tidak bijaksana dalam memperhitungkan suara-suara feminis. Filsafat mempunyai hubungan keganjilan terhadap perempuan, sehingga pandangan mengenai perempuan seringkali bias, seksis, atau sama sekali diabaikan. Para feminis (khsususnya Kate Millet dan Shulamith Firestone) berusaha menunjukkan bahwa sistem patriarki berandil besar merepresi perempuan. Simone de Beauvoir memulai dengan pertanyaan “Apa itu perempuan?” dan buku klasiknya Le Deuxieme Sexe memuat perbendaharaan baru seperti “kesetaraan”.

Berbeda dengan pemikiran filsafat yang abstrak, universal, dan rasio, feminisme mengedepankan pengalaman-pengalaman perempuan, mengajukan pertanyaan yang konkret serta mempersoalkan perdebatan seksual yang menyebabkan ketidakadilan sosial. Feminisme diakui memiliki pemikiran progresif yang mampu mengadakan perubahan sosial maupun intelektual selama era modernisme dan memberi masukan berarti dalam kemunculan teori postmodernisme. Perdebatan wacana feminisme postmodern inilah yang kelak berhasil mendekonstruksi wacana sentralistik dan narasi filsafat Barat yang dominan. Pengetahuan tentang manusia laki-laki dan perempuan tidak lagi satu, melainkan tekstual.

Feminisme hadir dan dibutuhkan untuk terus-menerus membongkar wacana-wacana misoginis. Pada saat bersamaan, menurut filsuf Perancis Jean Jacques Derrida, dekonstruksi penting bagi feminisme. Pertama, pemahaman mengenai esensi perempuan dapat dibongkar karena dianggap hanya sebagai “teks”. Kedua, pembongkaran tersebut menghasilkan interpretasi berbeda dengan teks-teks yang ada. Pengalaman perempuan muncul, memperlihatkan perbedaan, bahkan menunjukkan bagaimana konstruksi nilai perempuan sama sekali tidak inferior. Ketiga, pembongkaran teks maskulin melahirkan teks-teks feminisme serta suara feminin yang akhirnya melahirkan representasi perempuan yang sepanjang sejarah telah diopresi pemikiran besar filsafat maskulin.

Dengan dekonstruksi, representasi perempuan muncul baik secara filosofis maupun feminis. Bagi filsafat feminis sendiri, metode dekonstruksi memberikan amunisi untuk melihat keterpinggiran filsuf feminis, membawa suara-suara mereka (bab 6) ke sentral, mengeluarkan pemikiran filosofisnya dan memahami keterkaitan antara pemikiran filsafat mereka dan eksistensinya sebagai perempuan (bab 7). Dengan demikian, masa depan filsafat adalah juga filsafat feminis yang menghormati pijakan pengetahuan pada standpoint, adanya en-gendering knowledge, partikularitas/kebenaran plural, dan “yang politis adalah filosofis”.

Filsafat kini diselamatkan oleh filsuf feminis yang mengingatkan bahwa cara berfilsafat adalah cara “bercakap”, bernarasi dari satu teks ke teks lain, dan filsafat hanya teks yang dapat didekonstruksi. “Percakapan” dan bukan pencarian kebenaran, merupakan modus yang membebaskan feminisme dalam filsafat, sekaligus membebaskan filsafat itu sendiri.

Sebagai sebuah buku kajian ilmiah filsafat feminis, di tengah gersangnya diskusi dan kajian feminisme terhadap filsafat maupun sebaliknya, buku ini sungguh menyegarkan dan memberi sumbangan signifikan bagi masa depan filsafat dan feminisme, khususnya di Indonesia. Sayang, kupasan mengenai pemikiran dan wilayah personal para filsuf perempuan dirasakan tidak sedalam yang dilakukan penulis pada bagian filsuf laki-laki. Mungkin, karena bahan seputar ini sulit dicari, atau mungkin karena benar, memang sejarah mereka tenggelam dalam filsafat maskulin yang selama ini jauh dari “percakapan”.

Aktivis perempuan, Direktur Eksekutif Institut Perempuan

(Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, 5 Juli 2004)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
20 Tahun Ratifikasi CEDAW menjadi UU RI No. 7 Tahun 1984 : Saya dan CEDAW
Menjadi Sederhana, Menjadi Luar Biasa

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Hello, can you please post some more information on this topic? I would like to read more.