Siapakah Aku?


R. Valentina Sagala

 

Tulisan ini dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi Cetak 22-23 November 2014

 

            Akhir-akhir ini saya berkesempatan bertemu dengan beberapa orang sahabat yang bergiat di isu kemanusiaan, terutama perempuan dan anak. Sebuah kesempatan yang mengembirakan tentunya, karena kesibukan sehari-hari kerap kali membuat kami hanya bisa bersua lewat media sosial atau telepon.

            Seorang teman bercerita tentang apa yang telah kami kerjakan beberapa tahun lampau ketika bersama memperjuangkan lahirnya Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya masih berpandangan patriarkis, kita tahu bagaimana meski fakta jelas-jelas menunjukkan kekerasan dalam rumah tangga dialami perempuan, sebagian aparat pemerintah, parlemen, aparat penegak hukum, dan masyarakat terus menyangkal dan tak mau berbuat apa-apa untuk perubahan.

            Bagi gerakan perempuan, momentum lahirnya UU PKDRT memang menjadi semacam salah satu capaian baik (jika kita tak perlu waspada untuk menyebutnya “terbaik”) yang bermanfaat bagi perubahan sistem hukum khususnya untuk perempuan. Bertahun-tahun organisasi dan aktivis perempuan membangun aliansi bersama untuk tujuan agar ada keadilan bagi perempuan korban KDRT dan bagaimana mencegah KDRT agar tidak menimpa kaum perempuan.

            Sepuluh tahun berlalu dari UU itu disahkan dan diberlakukan. Berbagai refleksi menunjukkan masih diperlukannya perbaikan-perbaikan, yang tentu saja tidak terbatas pada UU PKDRT. Sebagai contoh, perubahan usia minimum memasuki perkawinan bagi anak perempuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) tentu sudah mendesak untuk diubah. Kita tahu banyak kerugian dari mengawinkan anak perempuan di usia misalnya 16 tahun, bahkan bisa 13 atau 14 tahun dengan dispensasi. Tak hanya soal usia minimum memasuki perkawinan, banyak lagi masalah diskriminasi gender yang menjadi dampak berlakuknya UU Perkawinan.

            Gerakan perempuan pun kembali mengonsolidasikan diri. Kerja aliansi atau jaringan terus diperkuat. Pembelajaran dari yang lalu digunakan guna menyusun strategi baru. Orang-orang baru bermunculan dengan beragam kisah baru. Mungkin dalam soal “Siapakah Aku?”, begini kurang lebih, saya pernah menjadi “orang baru”, dan kini bertemu dengan “orang-orang baru”.

            Kembali ke soal obrolan saya, tiba-tiba kami sadar bahwa tanpa terasa waktu telah bergerak. Banyak dari kami yang kini telah “melepaskan” kepemimpinan di organisasi kami dulu, dan lebih banyak begerak dari “belakang” dan “samping” menemani teman-teman yang baru. Ada teman yang kini telah bekerja di pemerintahan, parlemen, atau kembali ke kampus. Ada juga yang kini menjadi ibu rumah tangga penuh waktu (full-time mom).

            Sungguh menyenangkan memang bertemu dengan teman-teman yang dulu berproses bersama, menghabiskan waktu dan peristiwa suka duka, baik di meja maupun di jalanan saat berdemonstrasi.

            Kini sebagian dari kami mungkin lebih “seimbang” menjalani kehidupan antara publik dan pribadi. Sebagian lain kini merasa lebih sensitif dalam bicara dan tak lagi bicara apa saja tanpa memikirkan matang-matang apakah perkataannya dapat menyinggung atau menyakiti orang lain.

            “Siapakah Aku?” memang adalah pertanyaan sederhana yang kenyatannya tak mudah dijawab. Pertanyaan ini mengundang kita untuk tidak saja bicara sekarang atau saat ini, tetapi juga merenungkan perjalanan kita pada masa sebelumnya. Setelahnya barulah kita bisa menyusun (kembali) visi masa depan, beserta strategi dan langkah untuk meraihnya. 

            Dalam perenungan saya, seorang yang tak mengenal(berkesadaran) akan dirinya seringkali menimbulkan tindak atau tutur yang aneh dan menyedihkan.

            Sungguh aneh jika tindakan seorang anggota parlemen layaknya anak taman-kanak-kanak –meminjam sindiran Gus Dur kala beliau menjadi Presiden -. Sering saya dibuat bingung dengan anggota parlemen yang sibuk berdemonstrasi. Lah, bukankah ia adalah seorang anggota parlemen yang semestinya menjalankan tugas dan fungsinya di parlemen untuk memperjuangkan nasib rakyat. Demikian juga aneh melihat seseorang dengan bangga mengklaim sebuah keberhasilan atau capaian kerja bersama menjadi semata sebagai hasil kerja dirinya sendiri, atau dia dan beberapa orang temannya.

            Filsuf Yunani, Socrates, pernah berkata, “Kenalilah dirimu sendiri”. Tanpa pengenalan diri, seseorang akan menganggap dirinya tidak berarti. Dalam perenungan saya, mungkin juga, tanpa pengenalan diri, seseorang akan menganggap dirinya terlalu berarti, dan orang lain tak ada artinya. Menyedihkan!

 

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!