Muda


R. Valentina Sagala

 

Dimuat di Harian Sinar Harapan Edisi Cetak 15-16 November 2014

 

           

            Meski kata orang saya tak semuda dulu, saya termasuk orang yang senang terlibat kegiatan-kegiatan yang melibatkan kaum muda.

            Indonesian Youth Employment Network (IYEN), jaringan pemangku kepentingan menyangkut kaum muda dan ketenagakerjaan, mendefinisikan “kaum muda” sebagai mereka yang berada dalam kelompok usia 15-29 tahun. Dalam banyak literatur, Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikan “kaum muda” sebagai mereka dalam kelompok usia 15-24 tahun.

            Bagi Indonesia, isu ketenagakerjaan dan kaum muda bisa dikatakan belum menjadi prioritas. Banyak dari kita tahu bahwa ketenagakerjaan kita diwarnai persoalan upah minimum, perjanjian kerja, dan jaminan sosial. Masalah mencuat pula ke permukaan ketika kita digemparkan berita nasib tenaga kerja perempuan yang menderita di negeri seberang, mulai dari mengalami penyiksaan, tidak menerima upah, hingga diancam hukuman mati. Bukan cuma itu, eksploitasi kerja, bahkan diikuti dengan penyekapan, terjadi di negeri kita.

            Kita juga ingat bagaimana masyarakat tercengang menyaksikan kriminalitas saat ini, mulai dari penculikan anak untuk meminta tebusan sejumlah uang, perampokan, kejahatan bersenjata, mutilasi dan pembunuhan. Pembongkaran sindikat perdagangan orang dengan tujuan seksual juga kerap membuat kita miris.

            Sekali lagi, kita mungkin prihatin atau marah pada kondisi yang ada. Namun saya pikir kita sependapat bahwa semua masalah ini adalah pekerjaan rumah yang harapannya mesti diselesaikan dengan tindakan nyata khususnya dari para pengambil kebijakan.

            Bicara tentang muda, sebagai “mantan” perempuan muda yang sekarang tumbuh dewasa, keadaan saya hari ini mau tidak mau dipengaruhi berbagai pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang saya peroleh di masa muda. Dengan kata lain, pengalaman menjadi perempuan muda, mengantar saya menjadi hari ini.

            Saya bersyukur dapat mengenyam pendidikan berkualitas semasa muda dulu. Saya tak mesti pula disibukkan dengan kewajiban bekerja demi membiayai orang tua dan adik-adik kala itu. Itu mungkin mengapa ketika memilih pekerjaan, saya memutuskan mengikuti hati nurani saya, bekerja melayani orang-orang yang terpinggirkan. “Panggilan” masa depan  tanpa sadar diarahkan oleh pengalaman masa lalu (muda).

            Namun fakta menunjukkan tak semua perempuan muda mengalami hal yang saya alami. Data menunjukkan apabila dibedakan menurut jenis kelaminnya, penduduk perempuan miskin lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki. Rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan tinggi jumlahnya.

            Kemiskinan di negeri ini dapat dikatakan berwajah perempuan. Persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama lebih tinggi jumlahnya dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki dengan pendidikan sekolah menengah atas, jumlahnya lebih tinggi.

            Berbagai program dan dana bantuan yang netral gender serta tidak berangkat dari analisa gender, lebih banyak diakses oleh laki-laki miskin, karena asumsi dasar laki-laki sebagai kepala keluarga. Perempuan yang bekerja dipandang sebagai pencari nafkah tambahan saja, sehingga dimarjinalisasi mengakses dan menikmati hak ekonomi.

            Di Thailand, saat ini tengah berlangsung Konferensi Regional Asia Pasifik tentang 20 Tahun Pelaksanaan Landasan Aksi Beijing. Indonesia merupakan salah satu negara yang terlibat. Persoalan angka kematian ibu, lambannya penanganan kekerasan seksual, hingga belum adanya perlindungan pada perempuan pekerja di sektor non formal, dibahas.

            Dalam perenungan saya, ada baiknya kita melihat persoalan tak hanya di hulu. Sudah bukan waktunya lagi kita meremehkan dan luput memberi perhatian pada kaum muda, khususnya perempuan muda. Jumlah mereka signifikan, kualitas mereka adalah modal bagi bangsa ini bertumbuh dan berbuah kelak.

            Kebanyakan perempuan muda mengalami ketidakadilan gender, seperti mesti bergelut dengan kerja domestik, “diharuskan” oleh budaya dan faktor lainnya untuk dinikahkan dalam usia sangat muda, putus sekolah, tak berbekal percaya diri dan semangat bahwa ia, sebagai perempuan muda, setara dengan laki-laki muda, dapat tumbuh dan berbuah.

            Kebaikan penting dibagikan kepada semua orang. Tapi kita sering lupa, ibarat menanam padi, tak bisa hanya berfokus pada masa panen. Tiap tahap bertanam mulai dari mempersiapkan tanah amatlah penting.

            Untuk beroleh hasil yang baik, benih kebaikan tak cukup disebar, namun mesti dirawat, dipupuki, dan disirami sejak muda.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!