Kejutan


R. Valentina Sagala

 

           

Dimuat di Harian SINAR HARAPAN Edisi cetak 11-12 Oktober 2014

 

 

            Satu hal yang saya ingat tentang almarhum anak kami adalah bahagianya ia menerima kejutan pesta ulang tahun yang saya dan suami persiapkan. Acara sederhana itu dilakukan sebatas lingkup keluarga berupa makan siang dan berenang bersama. Melihat para sepupu, paman dan bibinya datang lengkap dengan membawa hadiah ulang tahun, si kecil tersenyum lebar dan bersorak sorai. Matanya berbinar penuh suka cita.

Seperti si kecil, suami saya sering mengatakan, ia suka kejutan.Tepatnya kejutan yang menyenangkan.

Saya pikir hampir semua orang menyukai kejutan yang menyenangkan dan membahagiakan. Tapi bagaimana dengan kejutan yang tidak menyenangkan?

Kata orang, hidup penuh dengan kejutan. Setiap hari ada kejutan yang berbeda. Kejutan mengacu pada sesuatu yang di luar dugaan, jauh dari perkiraan, lepas dari harapan. Soal apakah kejutan itu membahagiakan, karena kebahagiaan itu relatif buat setiap individu, relatif lah pula rasa kebahagiaan itu menyergap batin tiap individu.

Belum lama ini saya dan suami saya mendapat kejutan yang tak menyenangkan. Suami saya meminta pertolongan dari sahabat dekatnya. Sang sahabat mengiyakan dan menjanjikan memberi pertolongan. Belakangan kami tahu, ternyata ia tak berbuat apa-apa guna menolong. Suami saya bilang, karena judulnya “meminta pertolongan”, jika tak ditolong ya tak apa-apa, tak perlu marah dan kecewa, apalagi terkejut.

Sepandai apapun suami saya menyimpan rasa marah dan kecewanya, lewat tatapan matanya, saya menyaksikan ada keterkejutan. Ia seolah tak menyangka sahabat yang selama ini diyakininya sewaktu-waktu akan membantunya, ternyata tak memberi pertolongan. Sungguh kejutan pahit.

Saya mencoba memahami. Di sebuah persahabatan, tentu ada harapan. Harapan di kala sahabat kesulitan, yang tak kesulitan dapat memberikan pertolongan. Harapan di saat sahabat terjatuh, yang tak jatuh mengulurkan pertolongan. Harapan-harapan ini menjadi sebuah pola, keteraturan, atau program yang seolah pasti selalu akan terwujud. Kita menjadi lupa bahwa selalu ada kemungkinan kejutan menghampiri.

Ketika kejutan itu tiba-tiba muncul di antara “harapan akan kepastian”, hadirlah rasa kecewa. Semakin jauh dari “kepastian”, semakin mencekam rasa kecewa. Kita tahu, kebanyakan dari kita berharap seorang ibu selalu menjaga anaknya lebih  dari karirnya, seorang ayah menyayangi istrinya saat susah dan senang, seorang pemimpin bangsa mengutamakan kepentingan rakyatnya dibanding kepentingan pribadinya, dan seterusnya. Ketika hal itu tak berjalan sebagaimana yang kita pikirkan semestinya terjadi secara teratur dan terpola, kita terkejut dan kecewa.

Menurut saya, sebagian besar orang senang menerima kejutan yang membahagiakan. Kebahagiaan itu bertambah kala si pemberi kejutan adalah orang yang kita kasihi dan mengasihi kita. Sebab dari dan pada mereka ada harapan tentang kebahagiaan. Namun yang mesti kita ingat barangkali, tidak semua kejutan menyenangkan. Ada kalanya kita mau tak mau mendapati kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan. Menemukan istri berselingkuh dengan laki-laki lain, mendapati anak yang kita cintai berbohong, menyaksikan pemimpin tak punya arah kebijakan yang jelas dalam melayani rakyatnya yang menderita.

Di hari yang sama suami saya kecewa karena sahabatnya tak menolongnya, seorang kenalan jauh yang lama tak berkomunikasi dengan kami tiba-tiba menelepon. Entah bagaimana, sang kenalan menawarkan suatu pekerjaan yang membuat kami tertolong mengatasi kesulitan kami. Kami terkejut dengan kejutan yang membahagiakan ini.

Dalam perenungan saya, sesungguhnya kejutan tetaplah kejutan, entah menyenangkan atau menyedihkan. Manusia kelihatannya harus belajar membuka diri pada kemungkinan akan kejutan, bahwa dalam kehidupan ini tak ada yang abadi kecuali kematian itu sendiri.

Setiap menit kejutan bisa datang berupa masalah yang mesti kita selesaikan, atau suka cita yang juga harus kita tuntaskan. Ia datang pada saat-saat tak terduga, dari pihak atau orang yang bisa tak kita sangka-sangka, pada tempat yang tak direncanakan.

Bagi saya, kedewasaan merupakan proses kala kita menyadari selalu ada kejutan dalam hidup. Tiap kejutan merupakan kesempatan untuk (kembali) sadar bahwa segala rencana yang kita buat, tak selamanya akan berjalan sesuai yang direncanakan.

Saat menghadapi kejutan, saya beri waktu diri saya untuk terkejut, lalu segera bergerak melampauinya.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

 

 

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Kirab
Langkah Perempuan Pedesaan Membangun Koperasi Perempuan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!