Anugerah


R. Valentina Sagala

 

Tulisan ini telah dimuat di Harian SINAR HARAPAN edisi cetak 27-28 September 2014

 

            Di kala hati tengah gembira atau suka cita, sepertinya tak sulit bicara anugerah. Kemarin saat sarapan pagi, suami saya bilang, bicara anugerah membuatnya teringat perjalanan kami ke Seoul, Korea Selatan, beberapa hari sebelumnya. Berawal dari undangan berpartisipasi dalam acara World Peace Summit, kami bahagia merasakan keramahan teman-teman baru dari berbagai penjuru dunia, kesejukan udara, keindahan panorama, dan beragam kegiatan inspiratif.

Tiba-tiba saya jadi berpikir, bagaimana ketika manusia sedang dirundung masalah? Apakah kita juga masih bisa memandang hidup sebagai anugerah?

Sebagian dari kita mungkin sulit merasakan anugerah saat dilanda masalah. Apalagi ketika kesulitan bertubi-tubi menerpa. Kita sedih, kecewa, kesal, bahkan marah. Saya ingat, pernah suatu waktu saya sedih dan kecewa karena sebuah pekerjaan yang tengah diincar suami, lepas dari genggamannya. Ada perasaan kecut sambil berpikir, bagaimana gerangan kebutuhan sehari-hari tercukupi dengan situasi ini.

Atau mungkin kita ingat rasa yang berkecamuk ketika mendapati diri atau orang yang kita sayangi “divonis” menderita penyakit yang sulit disembuhkan. Juga mungkin ketika teman atau sahabat mengecewakan hati kita, atau saudara kandung kita sendiri tega berbuat keji pada kita. Betapa sulitnya kita merasa penuh anugerah di saat-saat demikian.  

Ditambah lagi ketika iri menggoda, karena “rumput tetangga terlihat lebih indah dari rumput sendiri”. Lebih mudah kita tak puas pada apa yang tengah kita jalani, ketimbang menyaksikan apa yang orang lain “miliki”. Misalnya, daripada bersyukur pada istri yang sepenuhnya mendedikasikan hidup pada keluarga, ada suami yang lebih senang memuji perempuan lain yang hebat berkarir dan beruang banyak.

Patut diingat, sesuatu yang dipandang anugerah bagi seseorang, belum tentu dinilai sebagai anugerah bagi orang lain. Seorang teman saya, tak suka diberi pekerjaan serius yang melibatkan nasib banyak orang; sementara teman saya yang lain bersyukur diberi kesempatan bisa berbuat banyak bagi orang lain.

Menarik kemudian melihat apa arti kata “anugerah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008) didefinisikan, anugerah berarti pemberian atau ganjaran dari pihak atas (orang besar dan sebagainya) kepada pihak bawah (orang rendah dan sebagainya); karunia (dari Tuhan). Sekilas kita perhatikan, “pemberian” bisa dimaknai baik, kebaikan. Saat menerima suatu pemberian, kebaikan, sesuatu yang membahagiakan, kita mengatakan bahwa kita mendapat anugerah.

Namun selain “pemberian”, anugerah juga ternyata bisa dimaknai “ganjaran” atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan ganjaran sebagai 1 hadiah (sebagai pembalas jasa); 2 hukuman; balasan.

Dalam perenungan saya, mensyukuri sesuatu yang tidak menyenangkan, yang terjadi dalam kehidupan ini tentu bukanlah hal yang mudah. Tetapi jika hidup ini sendiri adalah anugerah yang mesti disyukuri, bukankah kepedihan sesungguhnya adalah bagian dari anugerah itu?

Dengan kata lain, pastilah ada yang dapat disyukuri dari jabatan yang tak bisa kita duduki, meski teramat kita impikan. Pastilah ada yang harus disyukuri dari sejumlah uang yang tak jadi kita peroleh, walau sangat kita nantikan.

Saya percaya hidup adalah anugerah dari Tuhan. Saya yakin misalnya, pertemuan saya dan suami yang singkat dengan anak kami yang kini telah bersama Tuhan di surga, juga adalah anugerah yang terindah dalam hidup saya. Bukan cuma kesempatan tertawa bersama, namun menangis bersamanya adalah anugerah. Waktu-waktu merawat dan menemani sakitnya, merupakan anugerah. Tak hanya belaian, senyum, dan pelukannya, namun rewel, nakal, dan pertanyaan-pertanyaan kritis dari almarhum dulu, adalah wujud anugerah dalam hidup kami.

Bagi saya, di samping kebahagiaan, hidup akan terus menyajikan masalah dan rintangan. Semua itu tak terelakkan. Bagi mereka yang memandang hidup sebagai anugerah yang patut disyukuri, selalu ada harapan untuk berbuat kebaikan bagi dunia. Tiap kepedihan merupakan batu ujian agar kualitas pribadi membaik.

Meminjam kata-kata bijak suami saya, jika sesuatu yang menyakitkan terjadi, sepanjang kita masih hidup, percayalah itu bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, bersyukurlah, karena bisa jadi itu berarti kita tengah disirami agar bertumbuh. Atau kita sedang ditempa agar lebih kuat menyebar kebenaran dan keadilan.

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

 

 

 

 

 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!