Transisi


R. Valentina Sagala

 

 

Tulisan ini telah dimuat di Harian Umum SINAR HARAPAN, edisi cetak Sabtu-Minggu, 6-7 September 2014

 

            Salah satu topik hangat perbincangan sekarang ini adalah persiapan perpindahan kekuasaan dari pemerintahan lama ke yang baru. Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dengan cepat membuka Kantor Transisi, di Jl. Situbondo No. 10, Menteng, Jakarta Pusat. Kabarnya kantor berisi 13 kelompok kerja (pokja) dan tiga unit inilah yang mempersiapkan usulan rencana pemerintahan baru.

Tak sedikit teman dan kenalan saya berkunjung ke Kantor Transisi. Ada yang memang menjadi bagian dari pokja, bertamu karena kebagian tugas sebagai tim lobi untuk mengatur pertemuan kelompok masyarakat sipil dengan Pak Joko Widodo, atau membawa proposal skema kelembagaan bagi pemerintahan baru nanti.

Bicara transisi, minggu lalu saya baru mengalami operasi di salah satu rumah sakit di Jakarta. Selesai dioperasi, saya tak serta merta dinyatakan sembuh atau sehat. Dua malam saya diopname di rumah sakit. Saya menginjak transisi, masa dimana umumnya keadaan belum stabil. Boleh dibilang, saya memasuki masa peralihan menuju sehat atau sembuh.

Selepas diopname, saya diperbolehkan pulang ke rumah. Dokter tetap mengingatkan bahwa saya masih dalam masa transisi. Jadilah saya mengatur agar tak langsung “terjun bebas” ke kegiatan saya seperti dulu. Saya belajar tentang transisi, proses “mendengar” anggota-anggota tubuh saya berkisah tentang kondisinya, menjalani upaya demi upaya memperbaiki kekurangan, guna beranjak dari keadaan sakit menuju sehat yang saya idamkan.

Di masa transisi, orang yang baru saja diperbolehkan pulang ke rumah, tidak serta merta tuntas bisa berbuat layaknya orang sehat walafiat. Saya masih harus dibantu suami tercinta untuk mengambil benda-benda yang sulit dari jangkauan saya karena berada di ketinggian tertentu. Suami pun sebisa mungkin memastikan saya tak berlama-lama berdiskusi atau rapat dengan teman-teman. Baru sejam di depan komputer, suami menyempatkan diri memeriksa suhu tubuh dan apakah saya kelelahan atau berkeringat dingin. Sup hangat dan menu bergizi lainnya disiapkan suami di hari-hari transisi ini.

Jelasnya, ada yang berubah dari situasi saya dulu (yang saya duga sehat, ternyata bermasalah hingga mesti dioperasi), dengan masa transisi. Terasa sehat, padahal belum benar-benar sehat. Hingga kemudian saya kontrol ke dokter untuk pertama kali setelah pulang dari opname di rumah sakit. Sang dokter mengatakan, proses penyembuhan sudah berjalan baik, bekas jahitan operasi sudah mengering, dan bagian tubuh yang sakit kini berfungsi lebih  baik sesuai dengan harapan. Artinya, kondisi saya akan jauh lebih baik dari ketika saya sakit dulu, sebelum saya dioperasi.

Dalam renungan saya, transisi adalah masa dari sesuatu menuju sesuatu. Misalnya, dari anak menjadi dewasa; dari kepompong jadi kupu-kupu; dari biji menjadi berbuah. Harapan dalam masa transisi tentu agar menjadi lebih baik dari yang sebelumnya, bukan menjadi lebih buruk. Jadi hemat saya, pesan moral di balik Rumah Transisi Jokowi-JK, semestinya adalah genggaman harapan untuk menjadi lebih baik. Sebagai sebuah harapan, yang rakyat inginkan saat ini tentu bukanlah wacana. Rakyat ingin perubahan kongkrit, yang terwujud dan bisa dirasakan senyata-nyatanya.

Saya rasa kita senang karena dalam proses demokrasi Indonesia kini, pemerintahan baru mulai memikirkan pentingnya transisi kekuasaan dari pemerintahan lama ke yang baru. Kita juga boleh senang karena ide ini setidaknya “disambut” oleh pemerintahan yang masih berjalan, sekalipun kebiasaan mendialogkan proses transisi bukanlah mekanisme formal kenegaraan yang tertera dalam undang-undang.

Pada transisi, diplomasi yang terjadi di antara penguasa mestinya berakar semata pada kepentingan rakyat. Negosiasi demi negosiasi selayaknya tidak ditujukan untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu atau menyelamatkan aktor-aktor kejahatan tertentu. Jabatan, kedudukan, atau kasus hukum seyogyanya tidak diperjualbelikan.

Jika tujuan berpolitik adalah untuk kebaikan bagi rakyat, yang utama tentu adalah rakyat. Jika kita ingin keadaan rakyat jauh lebih baik lagi, kita butuh transisi yang tidak elitis, namun yang sungguh-sungguh mendengar dan melibatkan rakyat, termasuk perempuan dan kelompok minoritas yang selama ini dibungkam dan dipinggirkan.

Satu hal yang tak kalah penting: berlama-lama di transisi, sejujurnya tidaklah mengenakkan. Salam tiga jari!

Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Konsisten
Annisa Women’s Cooperation Held Discussion on Domestic Migrant Worker in Saudi Arabia

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!