“Dialog Satu Hari untuk Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender”, Senin 25 November 2013: Bersama Mewujudkan Masyarakat Bebas Kekerasan terhadap Perempuan


Sehubungan dengan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism against Gender Violence Campaign) 25 November – 10 Desember dan untuk mempromosikan masyarakat yang bebas dari kekerasan terhadap perempuan/kekerasan berbasis gender, INSTITUT PEREMPUAN didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menyelenggarakan “Dialog Satu Hari untuk Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender” pada Senin 25 November 2013, di Bale Rucita, Gedung Rektorat Universitas Padjajaran, Jatinangor.

Adapun guna memperkenalkan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, sejak 1991 para aktivis perempuan mengembangkan “16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan” sebagai kampanye global, mulai 25 November hingga 10 Desember (diperingati sebagai Hari HAM Sedunia).

Pada pembukaan, Valentina Sagala (feminis, Chairperson of Executive Board INSTITUT PEREMPUAN), menambahkan bahwa dua hari internasional; 25 November (Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) dan 10 Desember (Hari HAM) dihubungkan dalam wujud Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan guna menyampaikan pesan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM. Oleh karena itu, ini bukan masalah perempuan saja, melainkan masalah kemanusiaan yang harus diatasi bersama.

Acara Dialog diawali dengan Sesi “Keterlibatan Laki-laki dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan”. Pada Sesi ini, menampilkan Eko Bambang Subiantoro (Koordinator Aliansi Laki-laki Baru), Yasraf Amir Piliang (Pemikir cultural studies, pendiri Yasraf Amir Piliang Institute) dan Pheng Thao (aktivis gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan di AS). Sesi ini, membicarakan penyebab kecenderungan laki-laki menjadi pelaku kekerasan karena minimnya kesadaran keadilan gender yang ditumbuhkan sejak kanak-kanak dimana sejak kecil laki-laki selalu ditanamkan nilai-nilai yang maskulin, superior, dan agresif. Sementara itu, pada perempuan ditanamkan subordinasi dan kepasifan. Sejak awal, ruang untuk saling memperkenalkan pengalaman masing-masing (perempuan dan laki-laki) tertutup. Tak ada ruang berdialog untuk menghindari salah paham. Hal yang ada hanya sekat-sekat patriarkis, penuh stereotip, dan prasangka. Ruangan untuk membangun dialog untuk saling mengenal adalah sangat penting. Ruang untuk bersuara dan memperjuangkan hak dihapuskannya kekerasan terhadap perempuan harus dibuka lebar, termasuk juga bagi laki-laki. 

Pada sesi kedua, yang menampilkan Sr. Irena Handayani, OSU (pegiat HAM, Ketua Yayasan Widya Bhakti/SMA Santa Angela), Goris Mustaqim (Asgar Muda Foundation) dan Islaminur Pempasa (pemimpin Redaksi Harian Pikiran Rakyat), tercipta ruang diskusi mengenai peran anak muda dalam upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan.

Acara ditutup dengan pengumuman dan pemberian penghargaan bagi pemenang Kompetisi Kompetisi Pembuatan Video untuk Mahasiswa Bandung dan Kompetisi Poster dan Slogan untuk Pelajar Bandung dengan tema Membayangkan Masyarakat yang Bebas dari Kekerasan Gender.


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!