SIARAN PERS – INSTITUT PEREMPUAN: R. Valentina Sagala menerima “N-PEACE AWARD” 2013 - “Role Model for Peace” pada “N- Peace Awards Ceremony & Leadership Forum for Peace”, Bangkok, October 22-23, 2013


Tahun ini, kami, INSTITUT PEREMPUAN berbangga karena Pendiri dan Chairperson of Executive Board kami menjadi Penerima “Role Model for Peace” Indonesia dari “N-Peace Award” 2013, bersama dengan perempuan pemimpin dan pejuang perdamaian lain dari Afganistan, Nepal, Sri Lanka, Timor Leste dan Filipina.  

 

“N-Peace Award”, adalah penghargaan bergengsi atas upaya memberi pengakuan dan membangun profil pemimpin perempuan dan perempuan yang terlibat membangun perdamaian dalam menciptakan perubahan akar rumput hingga tingkat nasional di enam negara di Asia yang terkena dampak konflik. Inisiatif ini difasilitasi oleh United Nations Development Programme Asia Pacific Regional Centre (UNDP APRC), bermitra dengan Search for Common Ground dan Institute for Inclusive Security, atas dukungan AusAID*.

 

Valentina akan mengikuti “N-Peace Awards Ceremony & Leadership Forum for Peace”, 22-23 Oktober 2013, untuk penerimaan Award dan mengikuti kegiatan penting lain seperti Debat langsung tentang “Rencana Aksi Nasional (RAN) - satu-satunya alat menerjemahkan UNSCR 1325 tentang Perempuan, Perdamaian dan Keamanan”  dan diskusi mengenai  “Perempuan dalam membangun perdamaian – tantangan, strategi dan pintu masuk”.  Sebagai tambahan, sebuah dokumentasi video mengenai Valentina dan Pemenang “N-Peace Award” 2013 lainnya akan diluncurkan pada saat Acara Penganugerahan Award guna menghormati upaya kepemimpinan untuk membangun perdamaian yang inklusif dan berkesinambungan di komunitas dan negara mereka. N-Peace Network akan membagikan pesan-pesan ini secara meluas, melalui saluran sosial media secara langsung. (Media Release berjudul “100 Asian peace champions to attend N-Peace Awards Ceremony!”: http://n-peace.net/news/2013/10/100-asian-peace-champions-will-honor-women-leaders-at-npeace-awards-ceremony )

 

Dalam Pidatonya saat penganugerahan Penghargaan, Valentina membagikan pesan untuk dedikasinya: “Perdamaian bukanlah semata-mata berarti tidak adanya perang. Bagi saya, esensi dasar dari perdamaian adalah sebuah komitmen: pada CINTA, hak asasi manusia, dan keadilan sosial; untuk bertenggang rasa, saling menghormati, dialog dan tanpa-kekerasan. Bagi mereka yang memperjuangkan dan melakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari, baik di publik maupun pribadi; Saudara-saudara perempuan Feminist saya di Institut Perempuan; kedua orang tua saya dan adik-adik saya, suami saya tercinta Tri Sukma (Nanu) Djandam, anak perempuan saya Belai, almarhum anak saya terkasih Janang; juga untuk seluruh korban/survivors/penyintas dari kekerasan, diskriminasi dan  eksploitasi dan intoleransi, … bagi MEREKA-lah saya dedikasikan Penghargaan N-Peace ini. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Terima Kasih.”

 

INSTITUT PEREMPUAN telah terus dan terus terlibat mempromosikan perdamaian yang inklusif dan berkesinambungan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Penghargaan kepada Pendiri dan Executive of Board kami ini pastinya tidak menjadi akhir dari perjuangan kami. Berbagai upaya-upaya untuk mencapai keadilan yang berarti, keamanan dan keadilan, khususnya bebas dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, masih sangat panjang. Di Indonesia, meskipun telah lahir beberapa peraturan perundang-undangan mengenai kekerasan terhadap perempuan, implementasinya masih menjadi tantangan. Sebagai pekerja migran atau pekerja rumah tangga, perempuan berisiko atas kekerasan, eksploitasi dan perdagangan manusia. Kami memberikan perhatian sangat serius terhadap TKW yang terancam hukuman mati di Malaysia dan negara lain. Amademen UU Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri dan mendorong lahirnya UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga masih harus diperjuangkan agar mengakomodasi persoalan kekerasan yang dialami perempuan. Sementara UU Penanganan Konflik Sosial juga perlu dikritisi, sebagaimana dengan UU Organisasi Masyarakat yang baru disahkan meski diwarnai penolakan masyarakat sipil. Masih ada banyak hal yang harus menjadi pekerjaan rumah. 

 

Secara khusus dengan kemenangan ini, sekali lagi kami sangat berharap agar Presiden Yudhoyono segera menetapkan Peraturan Presiden tentang RAN Pencegahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Daerah Konflik (RAN P4DK) yang dalam perkembangan terakhir masih berupa Rancangan Peraturan Presiden tentang RAN  Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Penanganan Konflik Tahun 2014-2019 (RAN P3A-PK). Sangatlah penting memastikan RAN sejalan dengan instrumen hak asasi manusia (HAM) khususnya perempuan, perdamaian, dan keamanan, termasuk United Nations Security Council Resolution (UNSCR) 1325 (2000); 1820 (2009); 1888 (2009); 1889 (2010); 1960 (2011); 2106 (2013): dan yang terbaru UNSCR 2122 yang diadopsi UN Security Council pada 18 Oktober 2013. 


Terima kasih, 

Demi Keadilan, Kesetaraan dan Kemanusiaan,

INSTITUT PEREMPUAN 


Twitter: @Instperempuan

Contact: Ellin Rozana – 0815.9074798, institut_perempuan@yahoo.com

*Rilis Media “Asian Women Peace Activists Receive N-Peace Awards for Their Work in the Frontlines of Conflict”: http://n-peace.net/n-peace-awards/awardees- 2013


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!