Berani Sentuh, Saya Laporkan! Rabu, 28 Nov’12, @america


 

UNDANGAN bagi yang berminat hadir…

 

GRATIS, Terbuka untuk Umum, Silahkan Langsung Hadir!

 

Hari/tanggal: Rabu, 28 November 2012, Pukul 19.00-21.00

Tempat: @america Pacific Place-Jakarta, Lantai 3

Tema: Berani Sentuh, Saya Laporkan!

 

Mari simak diskusi para ahli mengenai kesadaran diri akan tubuh dan PELECEHAN SEKSUAL. Kegiatan ini merupakan bagian dari “Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence)”

Bersama:

-       Livia Iskandar (Yayasan Pulih)

-       Candra Widanarko (Majalah MORE Indonesia)

-       Unit Perlindungan Perempuan dan Anak POLDA Metro Jaya

 

Pembacaan Puisi-puisi karya R. Valentina Sagala, oleh: R. Valentina Sagala dan Qorihani (Institut Perempuan)

 

 

 

Puisi-Puisi R. Valentina Sagala

 

R. Valentina Sagala, lahir di Jakarta, 9 Agustus 1977, adalah feminis, aktivis hukum dan HAM, penulis dan  penyair, yang telah lebih dari 12 tahun mengabdikan hidupnya memperjuangkan keadilan bagi perempuan. Mendirikan INSTITUT PEREMPUAN (1998) sebagai organisasi feminis untuk penegakan hak asasi perempuan, anak, dan kelompok minoritas. Salah satu program INSTITUT PEREMPUAN yang diinisiasi pada awal berdirinya adalah pendampingan perempuan dan anak korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Sejak tahun 2004, INSTITUT PEREMPUAN aktif menginisiasi pembentukan sistem layanan terpadu bagi penanganan kekerasan terhadap perempuan, yang melibatkan Pemerintah, Rumah Sakit, Kepolisian, Profesi Psikolog, Psikiater, Pengacara/Advokat, Tenaga Kesehatan, Pekerja Sosial, serta Rohaniawan dan Relawan Pendamping.

 

Saat ini selain sebagai Independent Consultant, ia menjabat Chairperson of Executive Board INSTITUT PEREMPUAN dan “Seperti Pagi Foundation”. Artikel, esai, puisi, dan cerpennya telah dimuat di berbagai media massa dan jurnal. Bukunya yang telah terbit antara lain “Pelacur vs His First Lady?” (2004), “Percakapan tentang Feminisme versus Neoliberalisme” (2004) ditulis bersama Arimbi Heroepoetri, “Memberantas Trafiking Perempuan dan Anak” (2007), “Pergulatan Feminisme dan Hak Asasi Manusia” (2007) ditulis bersama Ellin Rozana, “Perlindungan Pekerja Rumah Tangga/Anak di Indonesia: Peta Arah Hukum” (2008), dan “Tentang Cinta: Kumpulan Tulisan tentang Perempuan dan Anak” (2009).

 

Pidato Kebudayaannya berjudul “Rasa Cinta (dan Pikir Cinta)”, yang untuk pertama kali dibacakan pada Women’s International Day 2011 di Pusat Perfilman Usmar Ismail (Jakarta), telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris (“Cultural Speech: Sense of Love (and Thoughts of Love)”).

 

Antologi puisinya (2012) yang banyak dibicarakan adalah “Seperti Pagi”, ditulis beserta “Kredo: Pada (“Seperti Pagi”)”. Follow Twitter: @ValentSagala , @InstPerempuan

 

 

 

Tentang Buku Puisi “Seperti Pagi”

“SEPERTI PAGI” adalah Antologi Puisi pertama yang meneguhkan R. Valentina Sagala juga sebagai penyair feminis.

 

SALAH satu keunikan buku ini ialah bahwa penyairnya memperlakukan hubungan cintanya dengan puisinya seperti hubungan cinta seseorang (“aku”) dengan kekasihnya (“kamu”). Dua bentuk hubungan cinta ini berkelindan, jalin-menjalin, dalam momen yang entah, tak terjelaskan. “Puisi ada-lah ‘aku tidak tahu’,” demikian bunyi salah satu ayat Credo dalam buku ini. Dalam situasi “ketidaktahuan” itulah puisi-puisi Valentina bergerak antara rasa cinta dan –meminjam istilah Valentina — pikir cinta. Baris “Bukankah puncak berada di dasarku?” dalam puisi “Kaki Ranjang”, misalnya, menantang logika dan kesadaran kita tentang bagaimana perempuan memandang dan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri, tubuhnya sendiri.

Joko Pinurbo, penyair

 

MEMBACA  puisi-puisi ini, saya merasa dalam lapisan pemahaman berikutnya—betapa cinta adalah sesuatu itu genting. Kegentingan yang membuat kata-kata mengambil narasi dan penandanya sendiri dalam tubuh. Sensualitas, waktu yang hadir mengendap, atau realitas eksistensi dan ruang kepunahan. Lepas dari pelabelannya—Puisi-puisi Feminis—Valentina Sagala telah menawarkan sebuah strategi tersendiri dalam menghadirkan gagasan kesadaran ihwal relasi manusia dan cinta.  “Puisi-puisi ide” yang ditating dari momen keseharian. Usai membaca  membaca buku ini, diam-diam saya merasa cemburu pada orang kedua (kamu) yang selalu disebut di setiap puisi.

Ahda Imran, penyair    

 

VALENT, aku mengenalnya feminis gigih, tak kenal kompromi. Ia menanggung nyeri dan lelah. Kini ia terlempar dalam ruang galau, bergulat mencari ada, dalam cinta tiba-tiba menyergap. Kredo dan puisi-puisi feminis ini adalah suara menjelang absurditas. Aku berharap esok atau lusa penyair feminis ini akan mencipta tarian-tarian mabuk, diiringi ney mendayu. Seperti Rumi. Larut di sepanjang malam, membara hingga pagi datang.

Husein Muhammad, komisioner Komnas Perempuan

 

CINTA seolah tak pernah letih menyihir. Banyak orang, dari zaman ke zaman, tertenung sihir cinta dan berusaha menangkap serta menyatakan kembali kekuatannya. Valentina, melalui Seperti Pagi ini, seolah tak hirau pada risiko itu. Seolah tanpa beban ia mencoba merengkuh dan menubuhi cinta.

Sitok Srengenge, penyair

 

“FEMINIS, jatuh cinta, puisi”,  sungguh ramuan marketing menggelitik. Tapi itu bagus,  agar semakin banyak orang membuka buku puisi ini. Di era ‘bahasa gaul’  yang  mendominasi  saat ini, bahasa puisi yang indah bisa menajamkan kembali kemampuan  kita berkomunikasi secara halus dan peka  dalam bahasa Indonesia kita.

Petty S Fatimah, Editor In chief - Chief Community Officer Femina Magazine

 

PAGI bisa merujuk pada momen kontradiktif, kesegaran penuh harapan tentang masa depan, kegelisahan. Pagi juga “ruang antara” yang memberi kita kenyamanan berkontemplasi, mengevaluasi malam, dan merencanakan hari ini. Pun pagi adalah kembalinya kesadaran dan rasa yang bisa ditemukan melalui jejak-jejak pada tubuh, pikiran, ingatan hingga mimpi. Dalam suasana ini, percikan ide dan rasa R. Valentina Sagala–yang saya kenal sebagai perempuan aktivis-feminis yang gigih–menemukan kesegaran, sekaligus daya kuat kontemplasi.

Mohamad Guntur Romli, penulis & aktivis

 

WOW! Inilah kejutan lain lagi dari Valent, yang terus menulis dan memberi angin segar kreatifitas seorang yang mengindentifikasi secara gamblang sebagai feminis. Kali ini, sebuah karya kreatif puisi, yang mengejutkan dalam bentuk dan isi. Valent, memerdekakan diri dari keterkungkungan kata dan dalil/aturan kredo dalam bentuk puisi menarik, ciamik dan cerdas!  Kental refleksi tajam seorang feminis.

BJD. Gayatri, aktivis, penikmat & pemerhati sastra

 

TIAP kata dalam larik dan bait puisinya adalah kata perempuan. Val adalah pejuang, feminis. Ketika jatuh cinta, ia bawa pengalaman cinta, bugil, bingung, sakit, perih, serta tawanya bersama perempuan lain. Pujaan hatinya -sang lelaki- pun tak selalu sendiri. Ia bisa datang dalam gelap bersama nafsu laki-laki lain, kerakusan lembaga, kedoliman negara. Puisi Val menjerit, sampai ke telinga, mata, hati, juga jantung kita.

Leya Cattleya, independent consultant & peneliti

 

Qorihani

Lahir 6 September 1975, ibu dari Khalyf Farhan, bocah laki-laki penyemangat hidupnya. Adalah aktivis gerakan sosial, khususnya isu anak, perempuan, dan kelompok rentan, serta demokrasi. Sejak tahun 2000, berkegiatan di berbagai LSM tingkat lokal, nasional, dan internasional, serta menjadi fasilitator untuk advokasi kebijakan serta penguatan kapasitas organisasi masyarakat sipil. Lima tahun terakhir secara pro-bono menjadi konsultan Institut Perempuan. Beberapa tulisannya telah dimuat di jurnal dan media online. Banyak terlibat dalam kegiatan budaya khususnya Pembacaan Puisi, belum lama ini Cerpennya berjudul “Aborsi” telah diterbitkan dalam Kumpulan Cerpen Penulis Perempuan “Hari-Hari Salamander’. Follow Twitter: @qorihani

 


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!