Kemiskinan, Puasa dan Kenaikan Harga Bahan Pokok


Rekam Pengalaman Pendidikan & Pengorganisasian INSTITUT PEREMPUAN, Agustus 2012


Pagi itu lampu di ruang dapur di rumah Ibu M sudah terlihat menyala dan terdengar suara berisik di dapur. Saya beranjak keluar kamar. Seperti ibu-ibu umumnya di Desa KK, aktivitas Ibu M juga telah dimulai pada pagi hari. Saat suami dan anak-anaknya masih tidur lelap, beliau telah memasak air. Sambil mengunggu air mendidih, ia juga mencuci piring-piring kotor bekas makan semalam.

Setelah menyapa Ibu M, saya berjalan menuju warung untuk belanja sayur. Entah kenapa hari ini saya berniat untuk memasak. Saya menuju warung Ibu Y. Ibu Y adalah salah seorang saudara Ibu M yang bekerja sebagai pedagang dan memiliki warung di depan rumahnya. Bermacam-macam bahan kebutuhan rumah tangga ia jual. Saat saya tiba, terlihat Ibu Y baru pulang dari pasar dan sibuk menata dagangannya. Di depan warung sudah terlihat ibu-ibu warga Blok KP yang sudah ramai menunggu untuk berbelanja. Herannya, yang mereka bawa adalah buku. Bukan uang seperti alat transaksi jual beli yang umumnya berlaku.

Karena penasaran, saya mundur beberapa langkah ke belakang dan mempersilahkan ibu-ibu di belakang saya untuk berbelanja duluan. Sambil menunggu, saya sibuk memperhatikan tangan mereka. Sembari memilih-milih bahan makanan yang mereka butuhkan, mereka menyerahkan buku tersebut pada Ibu Y. Ibu Y menuliskan harga barang-barang yang mereka beli. 

“Ooo… Ibu-ibu ini belanja kas bon, tah, gumam saya dalam hati.

Barulah saya mengerti, bagaimana ibu-ibu warga Blok KP belanja setiap hari dengan sistem kas bon. Agak jauh dari warung, saya sempat bertanya pada seorang ibu yang telah selesai berbelanja.

“Kalau dengan sistem kas bon seperti itu harganya lebih mahal atau bagaimana, Bu?” tanya saya.

“Ya nggak tahu, Mbak, jawab Ibu tersebut. “Kami disini tidak peduli dengan harga. Mau lebih mahal atau tidak yang penting kami dibolehkan ngutang saja sudah syukur, lanjutnya.

Saya hanya terdiam. Alangkah uniknya kebiasaan masyarakat di sini. Saya jadi teringat bagaimana ibu pemilik kost saya di Bandung. Saat berbelanja di warung, beliau akan membandingkan dulu harga di sebuah warung dengan warung lainnya. Kalau harga di warung A lebih murah daripada harga di warung B, maka ia akan kembali dan berbelanja di warung A. 

“Setiap belanja kas bon, Bu?” tanya saya lagi.

“Iya, mbak, jawabnya sambil tersenyum.

“Kalau setiap belanja kas bon seperti itu, lalu Ibu bayarnya kapan?” tanya saya lagi.

“Ya kalau lagi ada uang bayar. Bayarnya kadang seminggu sekali, kadang kalau tidak punya duit ya sebulan sekali nunggu suami gajian,” jawab ibu itu lagi sambil tertawa.

Karena makin penasaran, saya lanjutkan bertanya, “Biasanya dalam sebulan, bayar kas bon bisa sampai berapa, bu?”

“Dalam sebulan nggak tentu, Mbak. Kadang sampai Rp. 500.000. Kadang ya sampai Rp. 700.000 ada. Padahal saya hanya belanja sembako aja lho, mbak”, jawabnya sambil tersenyum.

“Waduh, banyak juga ya, gumam saya.

Sudah dulu ya, Mbak, saya pulang dulu. Mau masak. Suami saya di rumah belum sarapan, katanya sambil berlalu pergi.

Setelah warung sepi, saya mulai berbelanja sambil memilih sayur kangkung yang hanya tinggal beberapa ikat lagi.

Saya bertanya pada Ibu Y, “Ibu-ibu disini kalau belanja sering kasbon ya, Bu?”

“Iya. Mau bagaimana lagi, Mbak. Warung saya ramai karena saya masih mau menerima kas bon, jawab Ibu Y.

“Kas bon setiap hari? tanya saya.

“Iya, Mbak. Kadang ada yang belanja bahan-bahan makanan untuk dimasak pagi, kadang ada yang jajan anak. Ya apa aja, jawab Ibu Y lagi.

Pikiran saya melayang sambil berpikir jika warga Desa KK berbenja di sini setiap hari secara kas bon berarti Ibu Y harus mempunyai modal banyak untuk dapat berbelanja kembali.

Tiba-tiba terdengar lagi suara Ibu Y. “Kalau dagang di sini tuh harus ulet, Mbak ujarnya.

“Maksudnya bagaimana?’ tanya saya.

“Disini jarang sekali ada warga yang beli minyak sayur ¼ liter. Biasanya mereka beli yang ukuran kecil satu plastik. Ukuran ¼ saya kurangi dan buat kemasan kecil dengan kemasan plastik lain dengan harga seribu rupiah per plastik, kata Ibu Y menjelaskan. “Atau untuk gula juga sudah saya buat kemasan paket. Satu paket seharga Rp. 1000, berisi gula dan teh yang cukup untuk satu gelas minuman. Kalau menjelang Puasa begini, harga-harga pada naik. Jadi kadang saya juga bingung harus jualnya berapa,” lanjutnya.

Kaget juga saya. Setahu saya, kemasan minyak sayur paling kecil ¼ liter. Saya juga belum pernah lihat gula dan teh juga yang dikemas paket untuk ukuran satu gelas. Ternyata kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh pembeli namun juga oleh pedagang kecil seperti Ibu Y.

Kemudian, saya membeli satu ikat kangkung dan bumbu-bumbunya serta ¼ kg telur. Setelah membayar, saya pun pulang ke rumah Ibu M untuk memasak.

Siang hari, setelah mengobrol dengan Ibu S dan Ibu M mengenai rencana kegiatan pertemuan Koperasi Annisa, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Desa KM. Di Desa KM, saya bertemu dengan keluarga Ibu Ra. Setelah sekian lama tidak bertemu, kami saling menanyakan kabar dan bercerita tentang kesibukan masing-masing. Ibu Ra bercerita tentang anak pertamanya, Adn, yang sekarang mulai bersekolah setelah libur kenaikan kelas, dan tentang Nn, anak keduanya yang mulai besar dan pintar.

Setelah itu, Ibu Ra bercerita mengenai harga-harga sembako yang naik menjelang Puasa.

“Mau puasa. Biasa lah, Mbak, harga-harga pada naik,” kata Ibu Ra. Kemarin harga telor ¼ kilo masih Rp. 4.000. Sekarang sudah naik jadi Rp. 5.000. Gula pasir ¼ kilo yang harga tadinya Rp. 2.500 sekarang jadi Rp. 3.500. Begitu juga dengan harga minyak, daging dan lain-lain semua pada naik,” kata Ibu Ra.

Naiknya harga kebutuhan bahan pokok ini dikeluhkan oleh kalangan ibu di Desa KM dan keluarga Ibu Ra karena secara otomatis menyebabkan membengkaknya biaya pengeluaran kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Pendapatan keluarga saya tetap namun pengeluaran bertambah. Malah saya lihat di TV, di acara Topik Siang tuh, Mbak, Pak Menteri Perdagangan ngomong kalau harga-harga menjelang Puasa masih stabil. Masya Allah, Mbak, harga segitu masih dibilang stabil. Padahal yang masih stabil itu menurut saya hanya bawang merah,” kata Bu Ra berusaha sambil tersenyum dan mencoba mengurai beban yang menghimpitnya.

Saya ikut tersenyum, teringat Ibu Ra yang cerdas. Beliau tidak hanya menonton sinetron tetapi juga sering menyimak berita di televisi

Saya memang bukan seorang psikolog, namun saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ibu Ra. Saya berusaha menjelaskan bahwa biasanya saat menjelang Puasa semua orang ingin membeli barang-barang kebutuhan itu sehingga permintaan banyak. Sedangkan ketersediaan barang mencoba menyeimbangi permintaan tersebut.

Lalu saya bertanya, “Terus, gimana cara mensiasatinya, Bu? Walaupun harga naik tapi kan tetap saja kebutuhan tersebut harus Ibu beli?”

Ya jatah jajan yang dikurangi. Saya yang kadang-kadang jajan jadi nggak jajan, kata Ibu Ra sambil tertawa datar.  Kemudian lanjutnya, “Kalau jajan anak tidak saya kurangi, takutnya tuh, anak nangis. Mending sayanya saja yang menangis walaupun cuma bisa dalam hati, saya yang harus berkorban”.

Tiba-tiba Ibu Rk masuk ke dalam rumah sambil mengangkut karung yang berisi gabah padi yang habis dijemur dari halaman belakang rumahnya, menaruh karung di pojok ruangan, menghela nafas sejenak dan mengelap keringat yang bercucuran di keningnya. Ia langsung menyambung pembicaraan Ibu Ra.

Iya, Mbak. Harga-harga pada naik termasuk harga beras. Untung, kalo saya beras nggak beli. Ini dapat dari bantu kerja di sawah orang,” katanya.

Kalau harga gas dan minyak tanah juga naik, tapi saya masaknya masih pakai kayu bakar. Minyak tanah saya beli untuk menghidupkan kayu bakar saja. Kalau gas hanya untuk masak makan yang cepat seperti telur ceplok dan mie instan. Pintar-pintar ngatur saja, Mbak. Kalau mau utang di warung, saya nggak berani. Mending kalau dikasih. Kalau nggak dikasih, ya kan saya malu”, kata Ibu Rk menambahkan.

Saya tersenyum dan melihat ke arah Ibu Rk, memperhatikan wajah lelahnya karena capek baru pulang kerja. Hasil kerjanya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau bersama suami dan kedua anaknya. Meski kenaikan harga ini terjadi hampir setiap tahun menjelang puasa, namun tentu saja masih terasa sangat memberatkan bagi mereka.

Setelah berpamitan dengan Ibu Ra dan Ibu Rk, saya kembali ke Desa KK. Di desa KK, topik yang jadi perbincangan sehari-hari di kalangan anggota Koperasi Annisa juga sama, yaitu masalah kenaikan harga. Di rumah, Ibu M telah membeli daging kambing. Harga daging juga mahal sekarang. Biasanya Rp. 60.000/kg. Sekarang jadi naik jadi Rp. 80.000/kg,”ujarnya.

Ibu M bercerita kalau ia telah membeli setengah kilogram daging sebagai lauk pada saat sahur. Saya pun membantu Ibu M menyiapkan bumbu yang akan digunakan. Setelah selesai, pada siang harinya saya diajak oleh Ibu A untuk menemani beliau belanja ke pasar. Kata Ibu A, biasanya untuk kebutuhan memasak sehari-hari, mereka cukup belanja di warung dekat rumah. Namun menjelang Puasa, barang dagangan di warung sudah habis pada pagi hari karena cukup banyak yang berbelanja.

Siang itu, Pasar Sindang telah diramaikan orang-orang yang sibuk berbelanja. Saya dan Ibu A berjalan menuju kios-kios yang menjual ayam dan sayur mayur. Ibu A mendekati pedagang ayam dan langsung berujar “Ayamnya satu kilo ya, Bu. Saya minta bagian sayap dan paha. Berapa ayamnya sekilo sekarang, Bu?” tanya Ibu A.

“Sekarang naik, Bu. Jadi Rp. 30.00/kg, jawab sang pedagang.

“Bisa kurang, tidak? kata Ibu A berusaha menawar harga.

Sudah pas, Bu. Sudah harga dari sananya segitu, jawab sang pedagang.

Ibu A mengeluarkan uang pecahan Rp 20.000 dan Rp. 10.000, lalu diberikannya pada pedagang ayam. Setelah itu, kami berkeliling pasar untuk membeli buah-buahan. Sambil memilih buah yang bagus, saya bertanya kepada Ibu A tentang penyebab orang-orang sibuk berbelanja kebutuhan pada waktu bulan Puasa. Menurut Ibu A, menjelang bulan Puasa umumnya masyarakat akan menyiapkan menu yang berbeda dari hari-hari biasanya. Misalnya membeli daging sapi atau ayam agar anak-anak lebih bersemangat berpuasa.

Ramai sekali pasar pada hari itu. Tak jarang saya harus berpegangan tangan dengan Ibu A agar tidak terpisah. Setelah selesai berbelanja kami pun pulang. Saya melihat Ibu Sm yang sedang sibuk membersihkan beras di depan rumahnya. Saya mendekat dan duduk disampingnya. Ibu Sm bercerita bahwa beras tersebut adalah beras raskin yang diterima dari Pemerintah. Masing-masing keluarga memperoleh 3 kg dengan harga sejumlah Rp. 6.500.

Kemudian saya bertanya, “Untuk sahur nanti malam mau masak apa, Bu?”

“Saya masak seadanya saja, Mbak. Saya tidak beli apa-apa. Belum belanja seperti yang lain, jawabnya. Ada nada datar pada kalimatnya.

“Harga barang-barang pada naik, Mbak. Nanti kalau sahur, saya paling mau masak telor dan bikin oseng-oseng sayur kacang panjang,” lanjutnya lagi.

Saya tersenyum mendengar jawaban Ibu Sm. Ah, andai semua masyarakat tetap bersikap sederhana seperti Ibu Sm, pikir saya.

Tak lama setelah itu, dari masjid di samping rumah Ibu M terdengar suara adzan. Saya bersama para ibu anggota Koperasi Annisa bersiap-siap berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat tarawih.

Bulan Puasa sudah dimulai. Semoga pada tahun selanjutnya Pemerintah dapat memberikan solusi nyata untuk mengatasi persoalan kenaikan harga menjelang Puasa agar masyarakat yang menunaikan ibadah Puasa tidak lagi mengeluhkan hal-hal seperti ini.


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!