Ketika Perempuan Pedesaan Belajar Membaca dan Menulis..


Oleh: Lestari

 

Ada sebuah nasehat yang mengatakan bahwa tidak ada batasan umur untuk belajar. Apalagi, halangan belajar bukan datang dari dalam diri kita, melainkan disebabkan oleh faktor  lingkungan, yaitu ketidak adilan karena minimnya akses pendidikan yang layak bagi masyarakat miskin. Hal ini terjadi pada kaum perempuan di Blok KP di Desa KK Kabupaten Cirebon.

Bisa dikatakan bahwa melek baca tulis adalah gerbang ilmu dan keberdayaan perempuan. Namun, di jaman yang serba canggih ini masih ada sebagian rakyat Indonesia khususnya perempuan miskin yang tidak bisa baca tulis. Sungguh memprihatinkan, tapi inilah keadaan yang sebenarnya terjadi.

Di blok KP ini, cukup banyak ibu yang berusia 35 tahun atau lebih yang buta atau lupa huruf. Tetapi dari beberapa ibu-ibu di blok KP hanya satu orang ibu saja yang menurut saya masih mempunyai kemauan dan semangat untuk belajar baca tulis. Ibu Sm, seorang perempuan yang telah memiliki 5 orang anak dengan kegiatan sehari-harinya adalah mengurus rumah tangga. Pekerjaan sang suami adalah pengayuh becak di sekitar Desa KK.

Ketika saya bertanya apakah ibu mau belajar baca, Ibu Sm mengiyakan walaupun menjawabnya dengan malu-malu. Akhirnya saya dan Ibu Sm sepakat membuat jadwal belajar baca tulis pada sekitar Pukul 19:00 (setelah shalat Isya), dirumah Ibu A, juga bersama ibu-ibu lainnya yang tidak bisa baca tulis.

Pada sore hari, sebelum belajar baca tulis dimulai, saya sedang mengobrol dengan Ibu U didepan teras rumahnya (Saat itu Ibu U masih tinggal dirumah orang tuanya yang bersebelahan dengan rumah Ibu Sm). Ibu Sm menghampiri saya sambil membawa buku tulis. “Ayo, mbak, kita belajar”.

Spontan saya bangkit dari duduk dan menghampiri Ibu Sm. “Yang lain nggak ikut bu?”

“Samperin kerumahnya aja, tah?”

Iya, boleh, bu.”

Ada lima rumah yang kami datangi. Kelimanya adalah kediaman para ibu yang tidak bisa baca tulis. Walaupun sudah menyatakan minatnya untuk belajar baca tulis bersama, namun pada sore itu kelimanya terlihat tidak ingin bergabung untuk belajar.

‘’Anak saya nggak mau ditinggalin, mbak. Kalau ditinggalin, suka nangis”.

“Saya mau nidurin anak saya, mbak

“Akkhh... malu mbak, sudah tua”.

“Saya lagi masak, mbak. Suami saya mau makan.”

Ibu Sm terlihat bingung. Gimana ya mbak, ibu-ibu lain pada nggak mau ikut belajar?” kata Ibu Sm kepada saya. Saya jadi khawatir kalau ibu-ibu lain tidak mau ikut belajar akan mengakibatkan semangat Ibu Sm mengendur untuk belajar baca tulis.

Nggak apa-apa, bu, kalau yang lain tidak mau ikut belajar. Tapi ibu masih mau belajar

kan?”

“Iya dong mbak, kan saya juga nanti yang dapat ilmunya. Saya juga nanti yang dapat pintar membaca.”

Syukurlah, ternyata Ibu Sm tidak terpengaruh dengan yang lain. 

Ini adalah pertama kali saya mengajari seorang ibu baca tulis. Pengalaman ini mengingatkan ketika dulu saya mengajari adik laki-laki saya. Ada banyak perbedaan, dimana seorang ibu dengan usia yang tidak muda lagi dan penglihatannya yang sudah tidak normal lagi mengharuskan saya untuk lebih sabar dalam menghadapi dan mengajarinya.

Pelajaran pertama adalah membaca alfabet. Ternyata Ibu Sm cukup menguasainya. Saya terkejut juga karena awalnya saya berpikir Ibu Sm sama sekali tidak dapat membaca.

Lho, ternyata Ibu bisa baca kok”, ujar saya terheran-heran.

“Bisa, mbak. Tapi tidak lancar dan kalau melihat huruf yang terlalu kecil terlihat buram”, jawabnya.

Saya menuliskan kalimat dengan tulisan besar agar Ibu Sm tidak kesulitan membaca dan meminta Ibu Sm untuk membacanya. Cukup lancar walaupun sedikit terbata-bata. Lalu saya meminta Ibu Sm untuk menuliskan kalimat yang saya ucapkan. Saya harus bersabar menunggu Ibu Sm menulis kalimat yang saya ucapkan untuk melanjutkan kalimat berikutnya. Untuk melancarkan menulis saya memintanya untuk mengulang tulisan tersebut dalam satu halaman kertas buku. Saya juga memberikan sebuah majalah agar dibaca di rumah. Tentu saja saya memilih bacaan dengan tulisan yang lebih besar agar Ibu Sm tidak kesulitan membacanya.

Selama kurang lebih 5 bulan saya mendampingi kelompok perempuan di Desa KK, saya beberapa kali mengajari Ibu Sm baca tulis. Sebenarnya juga Ibu Sm sudah dapat membaca namun masih terbata-bata. Agaknya karena matanya tidak terbiasa melihat huruf dan mungkin juga karena matanya sudah harus menggunakan kacamata. Kesulitan lainnya adalah membaca huruf-huruf berukuran kecil. Untuk membantunya, maka setiap hari saya memberikan ia PR, yaitu menulis kalimat 1 halaman buku dan juga memberikan sebuah artikel agar dibaca di rumah. Tujuannya adalah membiasakan Ibu Sm untuk menulis, membaca dan membiasakan melihat sebuah tulisan. Dari mulai belajar mengenal dan mengingat alphabet sampai belajar baca dan tulis sudah diterapkan dimetode pembelajaran ini.

Ibarat kata pepatah ‘Belajar setelah dewasa, bagai mengukir di atas air’, mengajar perempuan yang tidak muda lagi tentu juga bukan hal mudah. Bagi perempuan dewasa memiliki tingkat kesulitan tertentu diakibatkan rasa enggan untuk belajar membaca di usia mereka. Tetapi saya mempunya rasa kepuasaan tersendiri dapat mengajari seorang perempuan desa baca tulis, apalagi dapat mengajarinya hingga lancar dan pandai.

Keengganan perempuan pedesaan untuk belajar membaca tulis merupakan PR dan tantangan yang harus diatasi. Saya dan teman-teman di INSTITUT PEREMPUAN harus ekstra memutar otak untuk dapat menyentuh kesadaran dan motivasi mereka. Sering, kami memanfaatkan pola pikir masyarakat pedesaan yang masih patriarki untuk ‘merayu’ kaum perempuan untuk mau belajar baca tulis kembali. Dalam pertemuan bulanan anggota Pra Koperasi perempuan, kami sering berdialog dengan para perempuan. Macam-macam cara “bujuk rayu” kami. Misalnya:

”Ibu-ibu, bayangkan bagaimana nasib anak-anak kita jika para ibunya tidak dapat membaca dan menulis?

Atau rayuan seperti ini,

“Ibu-ibu, bagaimana seorang ibu mengajari anaknya belajar membaca kalau ibunya sendiri tidak bisa membaca?

Atau juga bisa seperti ini,

“Ibu-Ibu, bagaimana seorang ibu jika membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah?

Sampai dengan alasan dibawah ini,

“Hayo Ibu-ibu, bagaimana kalau anak-anak kita sakit dan kita perlu menulis surat ijin untuk sekolah?

 

Nampaknya, ini semua belum optimal menumbuhkan kemauan para ibu untuk belajar baca tulis. Namun, saya dan teman-teman INSTITUT PEREMPUAN tidak patah semangat. Kami sadar, tidak akan tumbuh kelompok perempuan yang kritis dan sadar akan hak-haknya tanpa adanya upaya ke arah literasi perempuan. Oleh karena itu, kami tetap berusaha untuk dapat mengajak sebanyak-banyaknya perempuan pedesaan untuk belajar baca tulis.


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!