Aku yang Perempuan


R. Valentina

Nama saya Valent, aku yang perempuan. Usiaku kini 26 tahun. Bukan usia tua, tapi mungkin juga tidak muda lagi. Terkadang aku lebih banyak merasa aku ingin mengakhiri hidup. Konon, ada yang bilang, yang paling menyenangkan adalah tidak dilahirkan, dan yang kedua menyenangkan adalah mati muda. Tapi lantas, gelisahku selalu memberi keberanian untuk kembali menyambut, menantang, menggenggam pagi, siang, senja, petang, malam, pagi.

Aku perempuan dalam pusaran tanya yang tak henti. Tak tahu yang tak berhenti. Di usia belasan tahun, aku bertanya mengapa aku yang perempuan harus selalu berpasang-pasangan dengan laki-laki. Mengapa istilah ‘alat kemaluan’ harus dilekatkan pada vaginaku yang menggemaskan. Dan payudaraku disesalkan tatkala kian menonjol dan menjadi tanda takut pada serangan seksual laki-laki. Mengapa tak pernah ibu mengajari kalender kesuburan sel telurku hingga aku tak perlu seperti sang dungu yang panik seusai bersetubuh dengan penis. Untuk satu ketakutan, hamil tanpa menikah.

Mengapa aku yang perempuan harus menjaga perawan untuk kelak kupersembahkan pada yang maha dipertuan suamiku. Mengapa marga Sagala dilekatkan pada namaku, dan kelak harus kulepas dan berganti dengan marga suamiku. Mungkin Sinaga, Sirait, Siregar, atau yang lain yang tak dilarang adat Batak. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak diakhiri tanda tanya. Lantas aku bertanya pada ibuku yang bersuku Batak, mengapa ia mau menghapus boru Sitanggang nya dan menggantikannya dengan marga bapakku, atau bahkan ia biasa dipanggil dengan Ny. Sagala, –marga bapakku–.

“Ini jalan hidupku. Takdirku,” demikian ibuku menjawab.

Beberapa tahun kemudian dari pertanyaan-pertanyaan itu, aku mulai mengidap serangan sakit kepala yang disertai rasa nyeri berdenyut pada satu sisi saja. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1991) menyebutnya sebagai migrain atau migren. Aku merasa tak perlu ke dokter. Karena aku tahu, dokter tak mampu menyembuhkannya. Sering kawan-kawanku membantu mencarikan obat-obatan alternatif untuk sekedar menunda sakitku. Sebab jika kambuh, sejuta jarum seperti menusuk-nusuk belahan kepalaku. Kata kawan-kawanku, mereka tidak tega melihat derita fisikku. Dan biasanya mereka segera menambah, mereka paling tak tahan merasa gelisahku.

Tampaknya pusaran yang kutempuh kian menderas. Aku menderita gelisah. Dan malam-malam tanpa tidur nyenyak. Hingga aku mulai kesulitan bahkan untuk sekedar memejamkan mata.

***

Aku membesarkan tubuhku seperti yang dia mau. Kadang, orang bertemu dan mengatakan, “kamu terlihat makin cantik.” Pada waktu lain, mereka mengatakan, “kamu tambah gemuk.”

Tubuhku kini bermakna seksual. Dengan pisau di sekujurnya yang siap menusuk resah. Mengapa serangan seksual terjadi pada rentang usia yang berjarak renggang. Bayi perempuan yang diperkosa tetangga di pematang sawah, perempuan yang diremuk lantahkan dalam perkosaan massal di jalan-jalan utama ibu kota, perempuan tua yang dihisap kering vaginanya oleh penis yang tak lagi bercairan, perempuan idiot yang diluluhkan ketubuhannya di semak-semak, bapak yang mengumbar ‘cinta’ pada anak-anak kandungnya demi kenikmatan memasukkan penisnya dan bergoyang naik turun diatas sakit rintihan.

Hingga aku menemukan ‘dunia’ baru yang kususun sendiri, seperti bab-bab buku yang tak berurutan konvensional. Terkadang diawali penutup, pendahuluan, lalu isi. Di malam hari. Kala bintang memancarkan terang kecil dan bulan tak tentu muncul. Aku tenggelam dalam buku-buku dan diskusi dengan para aktivis, politisi, seniman, sastrawan, dan budayawan, kebanyakan laki-laki. Terkadang, diskusi di malam hari hingga pagi itu, diakhiri percintaan di pagi menjelang tidur. Hingga pasangan-pasangan terbangun beberapa jam kemudian, hanya jam sesaat. Lalu berlagak tak terjadi apapun di antara mereka.

Memprihatinkan memang. Mereka yang dengan idealisme tinggi, berhenti hingga celana dalam mereka. Selebihnya di dalam celana dalam, itu urusan pribadi, bung! Dan wahai bung-ku, bajingan-bajinganku, yang bermimpi tentang keadilan sosial, dan membahasakannya dengan ‘jadikan aku belahan jiwamu’ sekaligus ‘antarkan aku ke karier puncakku’, aku sadar, aku bukan pengecut.

Kawan-kawan aktivisku bilang, dalam aksi-aksi massa, nyaliku cukup besar, meski urat rasioku tak putus. Akibatnya aku merasa aku dikawal agak ekstra oleh kawan-kawan. Perasaanku saja memang. Karena aku tahu, ketakutanku berhadapan dengan intel dan aparat militer, bagaimanapun berbeda dengan ketakutan kawan-kawan laki-lakiku. Kami bisa saja ditangkap dan digiring ke ruang tahanan. Tapi, aku yang perempuan, sadar benar bahwa dalam kondisi kekejaman mereka pada aktivis, mereka tak segan-segan menumpahkan kata-kata ‘pelacur’, atau mata-mata jalang itu menatap tajam tak lepas dari gumpalan payudaraku yang menonjol, atau tangan-tangan kotor mereka mencari kesempatan menjelajahi kenikmatan tubuhku.

Aku bukan penakut. Karena hidup terlalu sunyi dilalui dengan takut. Atau karena kita telah ditakutkan selalu oleh kuasa, uang, dan nikmat. Penis adalah dosa karena ia tidak direstui kuasa perkawinan. Vagina juga dosa, tapi ia direstui kuasa uang dan nikmat. Hingga vagina lebih pantas dijual dan dinikmat, ketimbang menikmati.

Tapi aku tak akan pernah jadi penakut. Tubuh ini bukan manekin, bung. Dia milikku. Dan tolong jangan ajarkan ayat suci tentang ‘tubuh ini bahkan tak pernah kumiliki’. Karena itu hanya dusta.

Aku berdoa,

Bapa kami yang ada di surga

Dimuliakanlah namaMu

Datanglah kerajaanMu

Jadilah kehendakMu

Di atas bumi seperti di dalam surga

Berilah kami rejeki hari ini

Dan ampunilah kesalahan kami

Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami….

Tapi aku tak hendak mengampuni. Aku hanya bisa memberi janji, bahwa Tuhan akan membalas semua kejahatanmu wahai penzalim, dengan caranya yang ajaib. Karena kelak, orang-orangmu, darahmu, akan mengalir di atas tanah yang telah kau rampas. Dan tubuhmu wahai perampok, akan ditolak oleh langit kelam yang kini tak berTuhan. Seluruh surgawi adalah kidung derita bagi para pendosa.

Doa sering kali tak pernah bisa dipahami dengan kata.

***

Kekasihku perempuan Valent, seorang aktivis feminis. Beberapa waktu lalu kami bertemu di sebuah bukit. Sebuah pertemuan indah yang tak pernah kubayangkan sepanjang hidupku yang telah terlampaui.

Kami saling berpelukan. Berciuman di bibir. Nafsu yang tak terbendung.

Kuremas payudaranya seperti ia meremas payudaraku dengan lembut, namun penuh makna. Sekujur tubuhku bergetar. Dengan kecepatan yang tak lagi beraturan, kami saling menanggalkan kain-kain yang menutupi tubuh kami malu-malu. Kami saling menelusuri tubuh satu sama lain, jemari kami, lengan, leher, dada, lekuk pinggang, pinggul, paha, lalu rambut, pipi, telinga, bibir, lidah, hembusan nafas. Dia menidur telentangkan aku di hamparan rumput merah. Kedua tangannya meraih kedua kakiku dan membukanya hingga aku dalam posisi mengangkang. Lantas dia menciumi vaginaku, lidahnya menguak rongga-rongga kedalaman klitoris dan seluk beluk bibir vagina dengan lembut. Nikmat, sebuah doa. Kami tidak gugup, meski jantung kami berdegup lebih kencang dari biasanya. Sebuah rindu yang tak tertahan.

Kami pun bergumul segera, sambil kata-kata cinta mengalir dari mulut kami. Doa-doa syukur dan puji-pujian pada Tuhan, atas segala keindahan dan kemurkaan yang telah diwariskannya pada kami yang tak pernah berhutang. Yang tak pernah meminta dilahirkan.

“Aku mencintaimu dengan segenap tubuh, jiwa, dan pikiranku,” ujarku.

“Aku mencintaimu untuk semua hal yang patut ditangisi dan ditertawakan,” jawab kekasih perempuanku. Kata dan intonasinya seperti bacaan ayat-ayat kitab suci.

Pergumulan kami seketika mengingatkanku pada ratusan bahkan ribuan laki-laki yang pernah bergumul badan dengan kami. Satu persatu. Sang aktivis mahasiswa yang gagah memimpin aksi-aksi massa menurunkan diktaktor Soeharto, sang aktivis pro demokrasi yang kini sibuk menawarkan jasa konsultan di Bapenas atau lembaga keuangan internasional, sang penyair yang menyair tentang keindahan namun memperkosa ketulusan perempuan dengan janji-janji surgawi, sang seniman yang menjual mimpi, sang penulis yang mengarang kisah hidup di atas tangis perempuan muda yang hendak belajar menulis, sang hewan,… . Penis-penis itu.

Dalam tubuh yang kini satu, kami seperti dikuatkan satu hal, bahwa kami masih gelisah. Bahwa kami bangga sebagai perempuan, dan karenanya kami gelisah tak berkesudahan melihat dunia yang iri.

***

Setelah percintaan indah itu. Kami berbaring-baring di hamparan rumput merah, meregangkan kaki kami, berleha-leha. Tanpa rokok dan kopi. Kami memang perokok. Tapi kami tak terlalu hina untuk segera mencari dan menghisap rokok, sesaat usai bercinta. Kami bukan para seniman gila itu, yang berpikir persetubuhan tak ada relevansi apapun dengan hati dan pikiran. Seolah penis, otak, dan rasanya adalah puzzle dari gambar yang berlainan.

Aku mempermainkan rambutku. Kubalikkan badanku hingga menghadap ke arah bulan. Perempuan itu kemudian memelukku lembut dari belakang. Jemarinya yang kokoh menyentuh belahan payudaraku. Dia mengelus-elus lembut kulitku yang dibasahi keringat. Seolah dia mengerti menentramkan hatiku yang dihujam berjuta tanya.

Gelisah, seperti biasa. Karena kegelisahan membuat kita hidup.

Kubilang, “Tidakkah kamu masih insomnia dan tergila-gila kerja?”.

Dia menjawab,”Tidak terlalu. Kini aku belajar tidur, meski tetap sulit.”

“Masihkah telepon genggammu menjadi milik publik?”

“Masih. Masih seperti dulu. Untuk yang satu itu, aku belum ingin berubah.”

“Tapi kamu terlihat lebih cantik, lebih manis, dan lebih…feminim”

“Akh, itu hanya soal belajar mentertawakan dunia. Menikmati sekujur tubuh… .”

“Bagaimana kabar gerakan perempuan kini?”

“Begitu-begitu saja. Ada yang tidak berubah. Ada yang semakin rumit. Peta persoalannya masih berkisar kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, ketidakadilan. Lawannya yang menjadi rumit. Kini kita tidak bisa hanya mengatakan state sebagai jantung soal. Struktur itu ternyata tidak hanya state, melainkan juga pelaku dan relasi kekuasaan lainnya, seperti World Bank, ADB, IMF, dan lembaga keuangan internasional lainnya. Memuakkan. Dan parahnya, banyak pecundang-pecundang gerakan sosial rela menjual diri mereka untuk menjadi konsultan lembaga-lembaga itu. Tak sedikit bahkan yang mengemis minta didanai programnya. Sungguh memuakkan.”

Pembicaraan ini pasti akan berlanjut, pikirku. Kekasih perempuanku yang satu ini selalu sulit menghentikan jika diajak bicara soal gerakan. Aku segera melanjutkan tanyaku.

“Jadi bagaimana mimpi-mimpimu?”

“Mimpi yang mana?”

“Waktu kau sering menangis dulu.”

“Yang mana? Aku sering menangis. Aku terlalu sering meratap.”

Aku tersenyum. Aku ingat keluhan dan selentingan yang beredar di gerakan sosial tentang kekasih aktivis feminisku. Valent yang malang, yang selalu menangisi derita perempuan dan memasaknya menjadi darah untuk melawan. Yang bicara hal yang tak laku dijual di media cetak dan forum-forum ilmiah. Karena derita kemiskinan ibu-ibu pedesaan atas pengelolaan lingkungan yang patriarkis selalu kalah populer ketimbang wacana feminisme di bangku kajian S2. Karena kepedihan para ibu yang ditiadakan, diabaikan keber-ada-annya oleh para aktivis agraria, dianggap konyol dan mengada-ada.

Bukankah kita sedang melawan struktur, bu Valent? Dan bukanlah itu bacaan-bacaan dan ajaran para kaum jenggotan saat kita sama-sama belajar di Free-School dulu? Jangan mundur gitu dong! Demikian mereka selalu berceloteh. Sebentar lagi mereka bilang, Valent sedang membangun valent-isme. Ha..ha..ha.. mereka tertawa-tawa sambil malu, saat aku melihat mereka meringkuk kelelahan setelah mereguk nikmat cairan vaginaku.

Kami belum pernah merasakan kenikmatan sejenis ini. Getar-getar dan debar yang hampir sempurna dari segala kesempurnaan yang kami pikir mustahil, demikian ujar mereka. Kami mengingat Tuhan dalam persentuhan kami denganmu, wahai Valent yang perempuan.

Sungguh ingatan yang patut disenyum kulumkan.

Aku kembali ke percakapan kami.

“Tentang ibu yang tak tahu harus memberi makan apa keempat anaknya. Tentang TKW yang diperkosa dan pulang dengan badan babak belur, atau mati tinggal nama. Tentang ibu yang tak mampu melawan kala suaminya meniduri anak kandungnya sendiri…,” aku berupaya menjelaskan. Atau lebih tepatnya, mengingatkan.

“Hentikan!”

“Tapi mengapa harus dihentikan?”

“Karena aku masih tetap menangis. Dan meratap. Dan meraung. Dan menangis.”

Aku mendengar isaknya. Buliran air matanya membasahi punggungku. Aku membalikkan tubuhku, hingga kami saling berhadapan. Aku melihat air mata menetes tanpa malu-malu dari sudut-sudut matanya. Aku tak kuasa menahan tangis. Aku mengingat semuanya. Tiba-tiba slide-slide pengalaman perjalanan kami beberapa tahun silam, di kota Bandung tempat kami tinggal, Jakarta tempat kami lahir dan dibesarkan, Garut yang kami kunjungi, Tasikmalaya, Cirebon, Indramayu, Pontianak, Makasar, Lombok, Denpasar, Kupang, Ambon, dan banyak lagi…segala kesedihan dan gelisah.

Juga terpampang wajah perempuan-perempuan yang meratap. Ratusan perempuan dari pantura yang mengais-ngais sisa-sisa sayuran di pasar Cibinong karena tak punya kerja. Wajah-wajah Wati, Imas, Enti, para pahlawan devisa, yang luka-luka, cacat, histeris, hingga lupa ingatan, yang memohon kasihan namun aparat Terminal III Bandara Soekarno Hatta seolah tak peduli pada kisah duka mereka di negeri rantau. Duka lima orang TKW di Singapura yang terancam hukuman mati, tanpa pernah tahu apa salah mereka.

Aku kini memiliki segenap alasan untuk berteriak, “Berhenti!”. Dan aku segera memeluk diriku, bagian hidupku yang selama ini meronta tak habisnya, meyakinkan Tuhan bahwa aku kuat menghadapi segala kezaliman yang berlaku di muka dunia. Aku tidak lagi mencintai dunia, hidup yang penuh ketidakadilan. Aku berdoa untuk kematian.

Kematian yang kelak tak akan kutangisi karena hidup terlalu lama mengajarkan aku lupa untuk menangis dengan baik dan benar.

***

Aku berguling-guling di hamparan rumput merah. Berguling-guling hingga terjatuh ke laut. Laut yang biru, luas, dalam.

Kekasih perempuanku yang lain, Valent, seorang nasrani. Aku mengenalnya 26 tahun silam, saat ia meronta nakal diantar ke pelataran gereja dalam sebuah upacara pembaptisan.

Bah, apa pula yang dilakukan kedua orang tuaku di gedung ini? Mengantarkan aku, tanpa bertanya terlebih dahulu, apa yang kumau. Menyebalkan. Menindas,” demikian gerutunya.

Kini kulihat di lehernya ia mengenakan sebuah kalung berliontin salib terbuat dari emas.

“Aku melihat salib Kristus di jidatmu,” kataku membuka percintaan kami yang hendak kami mulai dengan segera.

“Salib apa?”

“Salib Kristus.”

Dia memandangku sambil tersenyum manis. Matanya bersinar terang, jernih. Sorot itu tajam dan tidak meneduhkan. Dia bukan Kristus. Sebab Kristus selalu meneduhkan.

“Ini bukan salib Kristus. Ini salibku. Yang kupikul sejak beberapa tahun lampau.”

Aku memandanginya seperti memandang sebutir embun. Salib yang berat itu. Mengapa aku melihat luka-luka tikaman, sayatan, gores, lebam, di sekujur tubuhnya?

“Haruskah kita bersetubuh?”

“Sstt…tidak perlu kita bicarakan. Cukup rasakan apa yang terasa. Dan kamu akan tahu…”

“Tapi bukankah kita harus membicarakannya terlebih dahulu? Consent. Kesepakatan tentang yang kumau. Apakah kamu lupa?”

Perempuan kekasihku terdiam penuh makna.

“Aku sudah lama lupa. Bukankah kata tak pernah cukup untuk menjelaskan rasa. Dan bukankah kau tahu apa yang kurasa?”

“Ya. Eh, tidak. Aku tidak bisa tahu. Aku bukan malaikat, apalagi Tuhan. Bahkan Tuhan pun sering kali kebingungan mendefinisikan apa yang kumau, jika aku tak mengungkap,” jelasku.

“Masa iya?”

Aduh, pikirku dalam hati. Kenapa pula pembicaraan macam filsuf begini harus aku alami di saat kami tengah bertelanjang bulat seperti saat ini. Apa tidak ada waktu lain apa, umpatku. Dan kenapa pula harus aku yang tadi memulainya, hingga kini aku mesti melanjutkannya.

“Kita harus membicarakannya. Agar aku tahu sejauh mana pengembaraanmu hingga kau kembali ke tempat ini. Dan kini kita bertemu. Adakah Tuhan yang kau cari telah mengajarimu bercinta dengan benar? Bercinta tanpa dosa.”

Perempuan itu merapikan posisinya. Menarik selimut putih di dekatnya, melilit-lilitkannya ke tubuhnya, lalu duduk di sampingku yang asyik mematut keindahan lekuk tubuh di hadapan cermin berumput laut.

“Tuhan menjawab semua doaku,” katanya serius.

“Aku merasakan cintanya dalam setiap hembusan nafasku, bahkan saat aku bersetubuh tanpa minta restu pendeta. Aku merasakan pengiyaannya kala aku membunuh para pemerkosa itu atau saat aku menembak kepala para aktivis dan sastrawan yang pernah memasukkan penis mereka ke tubuhku, tanpa berani jujur bahwa mereka meniduri ratusan perempuan yang bahkan tak bernama dalam ingatan mereka, dan meninggalkanku dengan stempel HIV/AIDS. Aku melihat Tuhan tersenyum saat aku kalah dalam perkara-perkara di muka pengadilan, sambil tak segan memenggal kepala para hakim yang mendusta di depan pengadilan atas nama keadilan.”

“Tapi bagaimana bisa? Sebegitu gelisahnyakah Tuhanmu? Tuhan kita?”

“Ya. Dia selalu gelisah. Seperti saat aku gelisah mengapa Yesus Kristus terlahir sebagai laki-laki di muka bumi dan bukan makhluk berpayudara, berahim, dan bervagina seperti kita? Atau mengapa Maria harus perawan sehingga kita para perempuan menjadi penting harus perawan? Atau mengapa dua belas orang murid Yesus laki-laki?”

Dia menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Masih seperti dulu. Aku mencinta Tuhan dalam segenap gelisah. Aku mengutuk karena derita tanya yang tak habis yang membuat aku kerap menangis dan meraung di tengah malam.”

“Aku tak akan sekuat kamu,” bisikku.

“Kamu akan selalu lebih kuat dari aku.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Siapakah kita yang menolak? Tuhan berkata, kalau kau mau ikut dengan Aku, sangkal dirimu, pikul salibmu, ikut dengan Aku.”

“Tapi aku takut.”

“Kau tidak akan takut. Karena kita tak pernah memilih. Kita telah dipilih. Menjalankan tugas kesejarahan Ilahi. Bukan untuk tunduk, tapi untuk menantang dunia. Bukan untuk menjawab, tapi untuk mempertajam dan menambah tanya. Bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani… . Karena roh kudus selalu menyertai kamu. Maka jika pipi kirimu ditampar, tendanglah si penampar dengan kaki kananmu, dan tinju dia dengan tangan kiri dan kananmu.”

Aku tersenyum.

“Tuhan yang mengerikan,” ujarku.

“Karena kita yang mendefinisikannya. Karena teks-teks indah kitab suci tak akan pernah mencapai keindahan Tuhan… . Karena kita teramat sering memaksa.”

Aku tersenyum lagi.

“Apakah Tuhan mencintai aku?”

“Dia bahkan mencintai aku yang dinistakan dunia. Saat semua menghujat dan berpaling dariku. Saat para penis menyerumput isi otakku, menjilati tubuh dan klitorisku, lalu mencampakkan aku tanpa pesan, kecuali penyakit kelamin…”

Tuhan kan selalu buka jalan. Seperti syair lagu…

Dia buka jalan, saat tiada jalan.

Dengan cara yang ajaib,

Dia buka jalan bagiku.

Dia menuntunku,

Dan memeluk diriku

Dengan kasih yang ajaib

Dia buka jalan

Dia buka jalan..[i].

“Buka jalan untuk siapa?”

“Untuk aku.”

“Apa juga untukku?”

“Tanyakan saja, apakah juga untukmu.”

“Bagaimana aku bertanya?”

“Mari, bercintalah denganku.”

“Jadi kita harus bersetubuh?”

“Ya, cintaku. Setubuilah aku. Rampaslah aku. Agar aku ada.”

Aku menindihnya. Jemari tanganku memasuki sela-sela jemarinya mencari tempat yang paling pas untuk menyebar hangat. Wajahnya yang cantik dengan garis-garis wajah keras, dan matanya yang bersinar tajam, tak sampai beberapa menit kusadari hingga bibir kami menikmati ciuman yang hangat dan basah. Lalu lidah kami saling melumat.

Dan kami pun bergumul dalam irama yang tak beraturan. Aku merasakan huruf-huruf H, I, V, A, I, D, S, berputar-putar di langit-langit percintaan kami. Lalu huruf-huruf yang membentuk nama-nama laki-laki kami berhempasan oleh ombak. Nama-nama yang kerap terpampang di lembar-lembar koran Jawa Barat, koran nasional, jurnal-jurnal politik, kebudayaan, jurnalistik, agraria, dan sebagainya.

Kami bercinta dengan merdeka, sambil menangis untuk semua kesedihan dan kegembiraan. Dengan sedikit siksa. Siksa atas duka, dan keberanian kami yang terlalu. Dengan merdeka. Dengan terlalu.

Tak pernah ada sesal terbesik di pikiranku terhadap kekasih-kekasih Valentku. Kami mengembara kemana kami mau. Kami terbang ke awan yang kami pilih. Kami tidur di laut, makan di tanah, dan menulis di angkasa. Kami bermimpi lewat kitab suci dan lautan aktivitas. Kami bergelisah tentang tanya, namun terus bertanya dalam gelisah. Kami bercinta dengan marah, kasih, doa.

Dan aku yang perempuan, masih sama. Valent, aku yang perempuan. Yang telah, sedang, masih, dan akan terus gelisah. Meski kini aku sungguh lelah bercinta.

Bandung, 20 Maret 2004

-untuk Ellin Rozana, Trisiandari, dan Arimbi Heroepoetri. Sebab kejujuran, keberanian, dan kesetiaan sebagai perempuan, selalu mahal harganya-


 

[i] Lagu Don Moen “God Will Make a Way”, versi Indonesia dipopulerkan oleh Franky Sihombing

(Cerpen ini pernah dimuat di Jurnal Perempuan edisi 35, Mei 2004)

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Mengampanyekan Nurani dan Logika
Mega, Capres, dan Makna Sebagai Perempuan

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

pernyataan km menarik seperti sesuatu kejujuran yang hrz di ungkapkan, seperti sebuah kebenaran yg harus di beritakan, seperti peryataan yg hrz di pertanyakan, tetapi semuanya bukanlah kejujuran bukanlah kebenaran dan bukanlah sesuatu yg harus di pertanyakan.