“Organisasi perempuan itu penting agar ibu-ibu bisa pintar…”


Wawancara dengan Ani Yuani, Ketua Koperasi Annisa Desa Kanci Kulon, Cirebon Jawa Barat

Oleh: Lispianah

 

 

Pagi itu, gerimis mengguyur desa Kanci Kulon, kecamatan Astanajapura Cirebon. Saat saya tiba di depan rumahnya, seorang ibu muda dan anak perempuan kecil menyambut kedatangan saya dengan senyum hangat lalu mempersilahkan untuk masuk. Saat menunggu beliau menyelesaikan kerjaannya menyapu lantai saya mengamati mengambil kertas dan bolpoin dari dalam tas saya. Hari ini saya sudah berjanji untuk ngobrol dengan Ibu ini tentang pengalaman beliau..

 

Biodata:

Nama lengkap             : Ani Yuani

Tempat/ Tgl. Lahir      : Kanci Kulon, 7 Oktober 1972

Pendidkan                   : SMKK (sekarang SMK 1 Cirebon)

Menikah Tahun 1994 (usia 23 tahun), sekarang dikarunia 3 orang anak yaitu Terry (15 tahun),  Tedy   (9 tahun) dan Intan (3 tahun)

Kegiatan sehari-hari    : Ibu Rumah Tangga

 

Selamat pagi Bu Ani. Bisa diceritakan sekilas mengenai keluarga Ibu?

Bapak saya meninggal saat usia masih 5 tahun dan Ibu yang bekerja sebagai buruh tani tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Saya anak ke-4 dari 8 bersaudara ini harus berjuang bisa sekolah sehingga saya dan kedua adik saya tinggal di panti asuhan Budi Asih yang terletak di Jl.Wahidin, Kota Cirebon. Saya merasa beruntung tinggal di Panti Asuhan Budi Asih karena bisa tinggal di asrama dan juga disekolahkan dari kelas 1 Sekolah Dasar hingga tamat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Semua kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan perlengkapan sekolah dibiayai oleh panti yang tentu saja dananya diperolah dari donatur. Berasal dari keluarga yang pas-pasan membuat tekat saya untuk belajar makin giat.

 

Setelah tamat SMKK, saya pernah bekerja di PT. Kahatek yaitu sebuah pabrik tekstil di Bandung selama kira-kira 1 tahun. Setelah itu pulang ke sini (Cirebon-red.) dan bekerja di di sebuah Klinik Bersalin dengan menjadi asisten bidan, tugasnya membantu persiapan tempat, alat-alat dan obat-obat yang diperlukan untuk proses persalinan. Pada tahun 1994, saya menikah dan kerja di pabrik-pabrik di sekitar desa Kanci Kulon seperti pabrik pengepakan hasil laut (udang, teri dan rajungan). Setelah punya anak saya tidak bekerja lagi karena merasa repot harus membagi waktu antara kerjaan dan tugas rumah tangga. Belum lagi karena anak-anak juga masih kecil.

 

Sejak kapan Koperasi Annisa ini terbentuk,Bu?

Kira-kira setahun yang lalu yaitu tepatnya akhir tahun 2009.

 

Kenapa Ibu-ibu disini membentuk Koperasi Annisa?

Dulu saya sudah sangat tertarik untuk membentuk koperasi karena saya melihat adik saya yang berhasil mengelola koperasi pasar di daerahnya. Namun saya bingung mau memulai dari mana dan bagaimana cara mengajak masyarakat sini agar mau bergabung sehingga keinginan saya itu saya simpan sendiri. Sampai pada suatu hari dipenghujung tahun 2009, saya dikenalkan oleh Bu Baeda dengan Mbak-mbak dari Institut Perempuan Bandung yang mengajak berkumpul dan membentuk sebuah koperasi. Bertemu dengan Mbak-mbak dari IP saya merasa seperti menemukan jalan untuk mewujudkan mimpi saya itu. Akhirnya kami berkumpul di rumah Bu Baeda untuk mendengarkan penjelasan dari Mbak-mbak tentang prinsip-prinsip koperasi.Walau awalnya hanya beberapa orang yang datang dan menyatakan siap bergabung, hal ini tidak mengecilkan niat kami untuk terus mengajak dan memberi pengertian ke masyarakat.

 

Awal keterlibatan Ibu di Koperasi Annisa?

Awal keterlibatan saya mulai dari mengajak Ibu-ibu disini untuk berkumpul, mencari anggota, terbentuknya pengurus hingga mengikuti pelatihan-pelatihan yang difasilitasi oleh Institut Perempuan

 

Motivasi Ibu mau bergabung di Koperasi Annisa?

Saya ingin banyak belajar, mbak, melakukan sesuatu yang berguna, tidak hanya kumpul ibu-ibu disini diisi dengan gosip atau membicarakan tetangga namun bagaimana masyarakat bisa hidup rukun dan sejatera, serta belajar menyisihkan uang sisa belanja untuk ditabung.

 

Apa motivasi Ibu menjadi ketua organisasi Annisa ini?

Sebetulnya saya sama sekali tidak ada keinginan untuk jadi Ketua. Namun karena pada waktu itu anggota menunjuk saya jadi saya menerima kepercayaan itu sebagai amanat. Setelah itu saya menganggap posisi saya juga untuk belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin sebuah kegiatan.

 

Keuntungan apa yang Ibu peroleh setelah bergabung di Koperasi Annisa?

Adanya koperasi Annisa bisa menambah pengetahuan dan informasi yang tadinya belum saya ketahui dan mengerti. Misalnya cara mendidik anak, kewajiban yang harus orangtua berikan ke anak selain memberi makan yang cukup dan sehat. Selain itu saya bisa meminjam modal ke koperasi untuk usaha kredit barang yang saya jalankan. Ya tentunya dengan tetap ikut ketentuan yang berlaku di Koperasi Annisa. Di sini kami bisa berkumpul, mengungkapkan pendapat dan mencari solusi bersama.

 

Bagaimana pandangan keluarga, terutama suami Ibu dengan kegiatan ibu ikuti ini?

Suami dan anak-anak saya, alhamdulillah mendukung sekali asal kegiatan yang saya lakukan positif. Malah suami saya banyak sekali membantu, misalnya memberikan menjelaskan ke warga dan kader desa tentang kopeasi kami, bahkan cap koperasi yang membuat suami saya dan suaminya bu Emut (Bendahara Koperasi-red.), suami saya juga sering memberi masukan tentang kegiatan dan usaha yang kami lakukan.

 

Usaha-usaha apa yang dilakukan Koperasi?

Simpan pinjam untuk anggota. Sekarang kami mengelola pembayaran rekening listrik masyarakat secara kolektif. Lumayan dari satu rekening listrik kami bisa memperoleh keuntungan Rp. 3.000,-, dan saat ini sudah ada 22 warga yang mempercayakan pembayaran rekening listrik rumahnya melalui kami. Mulai September 2010 kemarin kegiatan yang kami lakukan bertambah, kami mengelola tabungan harian masyarakat, caranya kami berkeliling ke rumah-rumah masyarakat untuk mengmbil tabungan yang mereka setorkan setiap hari, besarnya tabungan tidak ditentukan. 2 minggu berjalan saja tabungan masyarakat yang dikumpulkan oleh Koperasi Annisa sudah mencapai 3,3 juta. Akhirnya Koperasi membuka Tabungan di Bank untuk menyimpan uang tersebut. Besarnya potongan (biaya administrasi) diambil oleh Koperasi Annisa dari setiap orang yang menabung adalah 4 % dari total tabungan yang ada.

                      

Biasanya anggota meminjam uang ke koperasi untuk apa?

Ada yang pinjam untuk modal usaha misalnya Bu Emut pernah pinjam untuk menambah modal usaha kredit barang, Bu Siti pinjam untuk modal dagang aksesoris atau mainan anak-anak, Bu Oja pernah pinjam karena kepepet mesti bayar tagihan cicilan sepeda motor suaminya, Bu Uun pernah pinjam untuk membawa anaknya yang kejang-kejang ke Rumah Sakit. Jadi dengan adanya koperasi Annisa ini lumayan bisa membantu anggota mendapatkan pinjaman untuk usaha dan keperluan mendesak lainnya.

 

Suka dukanya yang Ibu alami selama ini apa aja?

Banyak sekali mbak, padahal Koperasi ini baru berjalan satu tahun...

 

Dukanya adalah dari susahnya mengumpulkan orang-orang untuk menjadi anggota karena masih awamnya pemahaman orang-orang di sini tentang koperasi, pernah dijauhi dan dimusuhi orang karena dianggap kegiatan yang kami lakukan ini ”aneh”. Namun setelah berjalan sedikit demi sedikit orang disini mulai mengerti, karena pengurus juga pelan-pelan memberikan pengertian kepada masyarakat. Persaingan usaha yang dijalankan oleh koperasi dengan salah satu keluarga juga membuat keluarga tersebut memusuhi dan mejauhi keluarga saya, tapi saya menganggap hal ini biasa dan merupakan sebuah tantangan buat saya, yang penting kami bisa menjaga baik koperasi dan usaha yang kami jalankan juga untuk kepentingan bersama.

 

Sukanya yaitu melalui SEKOLAH yang diadakan setiap satu bulan sekali, kami bisa silaturahmi dengan anggota koperasi, dan bisa banyak belajar. Belajar hal-hal tentang anak, belajar pembukuan koperasi, bisa diskusi dengan bidan desa tentang gizi juga pernah kami lakukan. Selain itu kami bisa belajar menabung, dan mencari tambahan pendapatan dengan melakukan usaha yang modalnya bisa kami pinjam dari koperasi.

 

Masyarakat Kanci belum paham dengan sistem dan prinsip yang ada di koperasi. Mereka selama ini tahunya tabungan harian. Yang kami lakukan sambil keliling mengambil tabungan ke rumah masyarakat yaitu memberikan pengertian dan mengajak mereka untuk bergabung di koperasi. Kami menjelaskan sistem dan prinsip yang ada di koperasi dan mengajak mereka untuk membandingkan dengan kegiatan tabungan harian ini. Perlu kesabaran memang, tapi sekarang alhamdulillah sedikit demi sedikit ada yang sudah mulai mengerti dan mengatakan ingin bergabung di koperasi.

 

Bagimana keadaan koperasi saat ini?

Simpan pinjam masih berjalan, alhamdulillah anggota tertib dan membayar pinjaman tepat waktu.

Saat ini malah banyak yang ingin bergabung dengan koperasi, namun karena ini sudah mau RAT untuk tutup buku jadi mereka bisa bergabung nanti kalau sudah dimulai lagi Januari, kalau sekarang malah repot pembukuannya. Ada juga laki-laki yang mau bergabung namun saat ini koperasi ini hanya untuk ibu-ibu atau perempuan dulu, karena kalau ada laki-laki malah repot dan suka semaunya.

 

Pertemuan rutin tiap bulan masih terus berjalan, namun kalau tidak ada Mbak-mbak dari Institut Perempuan isinya ya hanya membahas persoalan koperasi.

 

Bagaimana pandangan Ibu tentang organisasi perempuan?

Saya memandang organisasi untuk perempuan itu penting agar ibu-ibu bisa pintar. Saya kadang menyesal, kenapa tidak dari muda dulu saya bergabung di organisasi agar bisa memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, andai waktu bisa diputar kembali ya, mbak…

 

Bagimana pendapat Ibu tentang organisasi perempuan di Kanci Kulon?

Organisasi perempuan di Kanci Kulon lebih banyak untuk kelompok tertentu, misalnya organisasi Ibu-ibu PKK. Anggotanya berasal dari istri-istri aparat desa. Kegiatan mereka pun saya lihat tidak begitu baik karena yang aktif dan pintar hanya satu atau dua orang saja. Organisasi lainnya hanya kelompok-kelompok pengajian ibu-ibu yang rutin disenggarakan setiap hari tertentu di beberapa blok.

 

Apa cita-cita Ibu dan Koperasi Annisa ke depan?

Kami ingin koperasi yang kami mulai dari NOL ini, bisa lebih berkembang. Pemikiran Ibu-ibu disini makin maju dan kesejahteraannnya juga makin meningkat, selalu berkembang…berkembang…

 

Oke, Bu. Terima kasih untuk obrolannya. Ada gak uneg-uneg lagi yang mau Ibu sampaikan?

Kemarin-kemarin ada pelatihan Desa Siaga yang diadakan oleh puskesmas, pelatihan ini diikuti oleh  beberapa orang kader desa dan saya juga ikut. Pelatihan ini untuk membantu masyarakat kalau sewaktu-waktu memerlukan pelayanan kesehatan sebelum di bawa ke puskesmas, jadi seperti pertolongan pertamanya. Saya dengar surat keterangan tidak mampu (SKTM) bagi masyarakat yang sakit dan ingin berobat sekarang sudah tidak berlaku lagi, lalu penggantinya apa ya,mba? Padahal kan tidak semua warga di sini memperoleh Jamkesmas. Sekarang ada yang sakit dan kami tidak bisa melakukan apa-apa. Lalu saya mikir apa gunanya Desa Siaga kalau tidak bisa membantu masyarakat!!!

 

Usai menutup percakapan dan berpamitan dengan beliau, saya pulang dengan membawa juga sekelumit kegelisahan dan perasaan Ibu Ani mengenai isu layanan kesehatan dan Jamkesmas. Beginilah sehari- saya sebagai community organizer. Tidak semua saya mampu menjawab pertanyaan dan kegelisahan ibu-ibu di desa tersebut. Saya sering berkata dan menyemangati agar kegelisahan ibu Ani dapat ditularkan pula kepada ibu-ibu warga lainnya untuk selanjutnya dibicarakan karena saya percaya kegelisahan ini hanyalah awal proses perubahan sosial… Selama ada kegelisahan, maka selalu ada harapan akan adanya proses perubahan sosial….

 

Information and Links

Join the fray by commenting, tracking what others have to say, or linking to it from your blog.


Other Posts
Gerakan Rp. 1000 Untuk Pemulangan TKI Terlantar di Kolong Jembatan di Saudi Arabia
Latihan Dasar Kepemimpinan Jema’ah Perempuan Kalimekar

Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!