PENGORGANISASIAN PEREMPUAN MARJINAL: AGENDA FEMINIS KITA


PENGORGANISASIAN PEREMPUAN MARJINAL: AGENDA FEMINIS KITATulisan ringan dan cepat mengenai rekam pengalaman dan perasaan yang disusun tanpa mengindahkan tata bahasa Indonesia yang baik 

Bagi saya, kerja pengorganisasian itu sangat penting. Pengorganisasian masyarakat marjinal, khususnya. Dan karena saya yang berbicara ini adalah memandang dari sehari-harinya saya bergelut dengan persoalan perempuan, plus saya yang perempuan, plus saya yang feminis, maka yang saya maksud disini adalah pengorganisasian perempuan marjinal. 

Sejak beberapa tahun lalu, saya punya sebuah antusiasme terhadap pengorganisasian masyarakat. Hal ini yang membuat dalam perancangan program kerja organisasi, sedapat mungkin untuk memasukkan agenda pendidikan masyarakat akar rumput dan pengorganisasian. Bertahun-tahun saya dan teman-teman di INSTITUT PEREMPUAN bertanya-tanya, meraba-raba dan mempraktekkan sendiri dengan segala kemampuan mengenai apa yang dinamakan pengorganisasian. Pertemuan saya dengan beberapa orang yang mendedikasikan waktunya dalam kerja ini membuat saya semakin menaruh penghargaan yang sangat tinggi. Terkadang, mendengar cerita sepak terjang teman-teman ini, membuat saya bertanya apakah saya (dan Anda yang membaca tulisan ini!) juga dapat mengkontribusikan sesuatu pada kerja-kerja ini.  

Awalnya adalah sebuah program kerja di INSTITUT PEREMPUAN yang menuntut kami melakukan pendidikan kepada masyarakat, membuat kami akhirnya memutuskan untuk ‘mencari’ sebuah daerah dan masyarakat pedesaan di Jawa Barat sebagai kelompok mitra kami. Namun, dalam hati saya dan teman-teman saya, kami mempunyai niat lain untuk tidak sekedar menjadikan ini sebagai rutinitas ‘kewajiban program’ namun juga kemauan untuk mencoba melakukan hal berkenaan dengan penyadaran dan pengorganisasian perempuan.  

Seakan dituntun, kami dipertemukan dengan sebuah desa di kecamatan Astanajapura, kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Beberapa teman menunjukkan dan membantu kami untuk memasuki wilayah itu.  

Setelah beberapa bulan yang menggantung, tidak ada kemajuan yang membuat kami frustasi yang akhirnya diakhiri dengan kenekatan kami terjun langsung berkenalan dengan sekelompok ibu yang sedang ber’gosip sore’. Saya ingat, di penghujung tahun lalu, pertama kalinya menginjak desa ini (setelah berbulan-bulan hanya mendengar laporan lisan dari teman-teman saya), kami ‘nekat’ langsung menyapa seorang ibu yang tengah berada di teras rumahnya yang sangat sederhana. Maka berkenalanlah saya dengan Ibu B. Umurnya saya taksir beberapa tahun diatas saya. Menikah dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Seorang ibu yang sebenarnya sangat cerdas dan memiliki kekritisan dan kemauan maju namun juga berhadapan dengan struktur sosial yang patriarkis dan kegagalan negara hadir dalam pemenuhan hak atas pendidikan.   Dari perkenalan dengan Ibu B, maka saya diajak berkenalan juga dengan sederetan ibu-ibu berani lainnya yang mendiami Blok K di desa tersebut. Ada Ibu S, Ibu M, Ibu A, Ibu O, Ibu U, Ibu Sm, Ibu R. Para perempuan yang rata-rata tidak menyelesaikan pendidikan SD-nya. Para perempuan ini kemudian merintis dibentuknya Koperasi A. 

…Saya seringkali membatin, “Hanya sembilan orang, kesemuanya perempuan, dan itu pun masih terbuka kemungkinan mereka mundur. Lalu, harus mengharap apa dari sembilan orang perempuan ini? Dapatkah mereka menjadi pionir di lingkungan mereka?…  

Tuntutan program membuat kami tetap melakukan kegiatan-kegiatan bersifat pendidikan alternatif, pemberian informasi dan hal-hal semacam itu pada kelompok ibu-ibu di Blok K ini. Sejujurnya, jika bertahan pada pola kegiatan yang sudah disepakati dengan lembaga donor, maka hanya ada satu kata, saya akan terjebak dalam kejenuhan! Puji Tuhan, kami bertemu dengan seorang kawan yang kemudian mau menyediakan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai langkah-langkah pengorganisasian. Dengan pola 1 kali pertemuan per bulan di sekretariat, diikuti dengan live in 10-14 hari per bulan di desa tersebut, maka mulailah kami bekerja dan belajar mengenai pengorganisasian perempuan di akar rumput. Menyenangkan! Saya sendiri, walaupun tidak terjun langsung sehari-harinya dalam pengorganisasian tetapi berkesempatan melakukan monitoring setiap bulannya, melakukan ini semua dengan sebuah passion tersendiri! 

Manfaat Pengorganisasian bagi Personal “Saya” Bagi beberapa orang yang dibesarkan dalam lingkungan dengan akses yang berlimpah, membuat pengalaman bersentuhan dengan pengalaman perempuan akar rumput sebagai hal yang berharga. Dengan cara inilah saya memandang pengalaman bersentuhan dan menyaksikan hidup para perempuan di Blok K ini sebagai sesuatu yang berharga dan bahkan, meng-kaya-kan pengalaman spiritualitas saya. Seperti halnya pada saat kami menemukan bahwa bagi mayoritas ibu-ibu di Blok K, SKTM, layanan Jamkesmas dan Jamkesda belum dinikmati oleh perempuan dan anak di wilayah tersebut (apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai hubungan keluarga langsung dengan aparat desa). Seorang teman terlibat langsung bagaimana sulitnya menyadarkan orang tua untuk memeriksakan dan melaporkan kondisi anak balitanya yang mengalami gizi buruk ke Bidan Desa dan Puskesmas. Teman saya, dengan dibantu ibu-ibu setempat, berhasil menghubungi Puskesmas dan mengupayakan datangnya petugas ambulans gratis untuk memeriksa kondisi sang anak agar dapat segera merujuk ke Rumah Sakit setempat. Namun, keluarga yang sudah menaruh ketidakpercayaan berhadapan dengan administrasi Rumah Sakit yang berbelit-belit serta stigma ‘orang miskin’ akhirnya memutuskan menunggui sang anak menghadapi ajalnya di rumah mereka. 

Masyarakat setempat memandang peristiwa itu sebagai kewajaran dan resiko hidup yang harus mereka tanggung. Beberapa anak-anak mengucap polos, “Si A kemarin mati karena keberatan nama, Kak…”. Saya tersenyum, manakala mengingat nama anak itu A…, yang kata warga setempat nama tersebut lebih cocok untuk anak kota ketimbang anak desa.  

Saya yakin cerita diatas sudah sangat familiar kita temukan di koran, media, laporan penelitian akademis maupun laporan penelitian NGO, dan lain-lain. Lalu, apa yang menjadi istimewa? Yang istimewa adalah pengalaman melihat dan merasakan dengan mata-kepala-hati. Yang istimewa adalah tiba-tiba merasakan semacam getaran di batin, entah mau menangis, marah, tertawa geli mendengar soal ‘keberatan nama’…. Yang istimewa adalah bagaimana saya menyelami alam pikiran orang marjinal  yang lebih baik menunggui ajal sang anak ketimbang membawanya ke rumah sakit (karena di negeri ini, sudah terlalu sering orang miskin ditolak di rumah sakit…)  

Jadi, inilah rasanya hidup teman-teman perempuan kami di Blok K, kecamatan Astanajapura, kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Bisa jadi, begini pulalah hidupnya para Rakyat Perempuan di Indonesia.  

Merekam proses belajar perempuan: Diary PengorganisasianBagi saya dan teman-teman di INSTITUT PEREMPUAN, penulisan diary pengorganisasian merupakan hal mutlak. Selain melatih merekam peristiwa dan kemajuan atau kemunduran kader perempuan, seseorang bisa belajar banyak mengenai pengorganisasian dari pengamatan dan sharing diary.                         Desa K, …..                 Sembari memimpin pertemuan Koperasi A, L mulai membiasakan peserta      pertemuan untuk menulis. Caranya adalah menulis hal-hal penting yang sedang dibicarakan pada kertas plano. Bagi anggota koperasi A, ini        mengajarkan mereka keberanian berdiri di depan, melatih tangan untuk             menulis. DAN, ibu-ibu peserta pun mulai menyadari, bahwa dirinya sedang dididik oleh INSTITUT PEREMPUAN untuk M E N U L I S. Saya tersenyum,      melihat bagaimana Ibu B dibujuk oleh ibu-bu lainnya untuk berani menulis di        depan…*) 

Kutipan diary diatas menggambarkan proses yang sangat sederhana. Memang kelihatan berbeda dengan proses belajar para perempuan di daerah urban, atau kaum laki-laki di pedesaan. Proses belajar perempuan di akar rumput memang sangat unik dan berbeda. Seorang yang melakukan pengorganisasian bagi perempuan pedesaan haruslah dengan sabar menyamakan ritme dirinya dengan ritme mereka. Saya teringat pada saat kami memperkenalkan dasar-dasar mengenai koperasi, saya harus menurunkan konsep bunga menjadi sebuah soal cerita.  

            Desa K, …..            Beberapa catatan saya mengamati ibu-ibu pada periode ini:<!–[if !supportLists]–>-          <!–[endif]–>Bu M: me-raise isu tentang apakah SKTM ini akan dibuat untuk semua masyarakat atau hanya bagi yang  tidak mampu. Menurut dia, lebih baik bagi yang tidak mampu, karena mereka pun meng-kritik praktek yangs sering terjadi di masyarakat dimana keluarga yang sudah mampu ternyata bisa membuat SKTM.  Wah, benar-benar perempuan Cerdas!<!–[if !supportLists]–>-          <!–[endif]–>Bu O bersedia rumahnya akan menjadi tempat bagi SEKOLAH bulan Juli. Sedikit, demi sedikit, anggota Koperasi A mulai belajar BERKONTRIBUSI dalam hal penyediaan tempat. Ini kemajuan bagus! **) 

Atau bagaimana seorang community organizer mendampingi perempuan-perempuan lokal untuk menanggapi sebuah isu sosial dengan agenda yang menuntun mereka agar mereka dapat merintis sebuah proses perubahan (walaupun proses perubahan ini kecil sekalipun). Seperti kutipan dibawah ini, dimana proses perubahan diharapkan dari peningkatan pengetahuan dan penyadaran perempuan melalui media sekolah alternatif. Atau bagaimana melatih diri bersama-sama untuk membicarakan persoalan dan mengambil keputusan secara bersama sebagai langkah awal menyuburkan nilai dan prinsip demokrasi.  

            Desa K, …            Untuk follow up isu SKTM ini, maka ibu-ibu memutuskan tema SEKOLAH pada        bulan mendatang adalah mengenai SKTM dan Jamkesmas, mengundang Ibu      Bidan dan Ibu Kader di blok tersebut (Ibu S??). Setelah mendapat informasi   mengenai cara pengurusan SKTM/Jamkesmas, maka Koperasi akan             menindaklanjuti apakah akan mengurus secara kolektif. Jika akan mengurus           secara kolektif, apakah Koperasi A akan memutuskan: 1) membuatkan SKTM kepada semua keluarga di Blok K, atau (2) membuatkan SKTM kepada           semua keluarga yang berhak (tidak mampu) di Blok K.             ….            Mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana setiap pengambilan           keputusan harus dilakukan bersama, sebaiknya tidak hanya Ketua dan   Sekretaris yang memutuskan tetapi dibicarakan bersama-sama (bercermin dari     peristiwa anggota yang bertanya mengenai mengapa buku besar belum             dibuat hingga sekarang). Bercermin dari peristiwa di Kelompok J, ini bisa jadi          awal kehancuran organisasi jika proses pengambilan keputusan tidak      demokratis. ***) 

Pendidikan perempuan marjinal juga membutuhkan kesediaan hati kita untuk memahami situasi khas perempuan dan beradaptasi dengan hal tersebit. Saya teringat bagaimana awalnya dalam setiap pertemuan perempuan, saya dan teman saya selalu ’saingan’ dalam hal volume suara dengan suara tangisan anak-anak yang digendong para ibu-ibu. (Kita sudah paham kan, akibat tata nilai patriarkis di masyarakat kita, seorang perempuan/ibu diharuskan mengasuh anak KAPAN PUN, bahkan pada saat dia menghadiri pertemuan/sekolah?). Awalnya rasa frustasi, bahkan kekesalan hingga ubun-ubun kepala sehingga ingin melarang para ibu membawa anak-anak mereka…. Namun demi memahami situasi multi-burden perempuan, maka kami sepakat dalam setiap pertemuan, fasilitator pertemuan harus ditemani seorang yang bertugas mengajak bermain anak-anak sehingga tidak terlalu mengganggu jalannya pertemuan.  

Pengorganisasian Perempuan Marjinal: Agenda FeminisHingga saat ini, proses belajar kami di INSTITUT PEREMPUAN mengantarkan pada kesimpulan (sementara) bahwa pengorganisasian adalah menemani, menjadi kawan, mem-promote munculnya pemimpin-pemimpin perempuan di level lokal (se-lokal apapun, baik itu level dusun, blok, RT, RW, desa, kecamatan dan lain sebagainya), mendorong para perempuan untuk berkumpul (berorganisasi) untuk memotori perubahan di lingkungan mereka.  

Saya selalu merasa bahwa pengorganisasian perlu dilakukan orang-orang. Jika pun, kita belum sanggup ‘menemani’ teman-teman perempuan kita disana untuk melakukan ‘perubahan sosial’ sekecil apapun, maka pada tingkatan diri kita sendiri, pengalaman bersentuhan dengan perempuan-perempuan ini sangatlah berharga. Bahwa, pada saat saya melakukan perjalanan ke dusun A, saya bertemu dengan perempuan B, C, D atau E, lalu saya berkenalan dengan pengalaman keseharian mereka yang F, G H, dan, jika saya intens datang kesana dan bergaul baik dengan perempuan B, C, D, E tadi dan memperlakukan mereka tidak hanya sebagai objek dari sebuah project lembaga namun berkawan dengan mereka, maka saya akan melihat, mengenali, bagaimana realitas rakyat Indonesia yang perempuan. Maka saya akan mendengar suara-suara perempuan marjinal. Dan selanjutnya biarlah ’suara-suara’ ini yang akan menemani dan menyemangati langkah dalam kerja-kerja selanjutnya.  

Pengorganisasian perempuan, oleh karena itu, haruslah masuk dalam agenda feminis kita.   

Rasanya kami ingin menyemangati semua orang, khususnya teman-teman yang bekerja di gerakan perempuan, mainlah kapan-kapan ke desa-desa atau ke daerah miskin kota di kota dimana anda tinggal. Lihat dan berkenalanlah dengan perempuan-perempuan potensial yang ada di desa, dusun atau blok tersebut. Berkawanlah dengan mereka. Lalu, sedikit demi sedikit, kenalilah persoalan mereka, rasakanlah pengalaman-pengalaman mereka. Ajaklah mereka kapan-kapan berkumpul dalam kelompok sekecil apapun. Dua orang, tiga orang, empat orang….. Maka, semakin lama akan makin membesar. Di kelompok ini, teman-teman bisa membiarkan mereka bergosip, arisan, belajar membaca, merajut dan sebagainya. Kemudian, jangan biarkan kelompok kecil ini hanya menjadi kelompok gosip dan arisan semata. Ajaklah sekali-kali mengobrol …. tentang layanan kesehatan ibu dan anak misalnya, atau tentang harga-harga sembako yang semakin mahal, tentang harga buku-buku sekolah anak-anak mereka yang melejit naik… 

Jikapun kemampuan dan sumber daya terbatas dalam melakukan kerja semacam ini, saya percaya masih ada cara agar tetap menjadikan pengorganisasian perempuan dalam agenda feminis kita masing-masing. Saya membayangkan beberapa hal seperti support untuk para teman yang menekuni kerja pengorganisasian ini, terhadap adanya forum belajar bersama, memasukkan pengorganisasian dalam agenda kurikulum pelatihan-pelatihan kita, mengajak dan memperkenalkan orang-orang muda dalam kerja pengorganisasian (Saya teringat sebuah SMA Katolik yang rutin menyelenggarakan program Live In di masyarakat pedesaan yang harus diikuti oleh para siswanya). 

Sekali lagi, saya percaya akan ada banyak cara untuk menghidupkan pengorganisasian perempuan akar rumput sebagai bagian dari agenda feminis kita. Yang perlu dilakukan sekarang, adalah mulai BEKERJA. 

Bandung, 11 Oktober 2010 

*) Diary Pengorganisasian, INSTITUT PEREMPUAN, 2010**) Diary Pengorganisasian, INSTITUT PEREMPUAN, 2010***) Diary Pengorganisasian, INSTITUT PEREMPUAN, 2010


Write a Comment

Take a moment to comment and tell us what you think. Some basic HTML is allowed for formatting.

Reader Comments

Be the first to leave a comment!